Tuesday, October 11, 2016

MUSIC, MUSIC, MUSIC!!!

"One good thing about music, when it hits, you'll feel no pain."
Bob Marley

Yak, gara-gara banyak masyarakat Indonesia sempet bereaksi cukup beringas menanggapi kemunculan lagu ‘BAD’ yang dinyanyiin sama Young Lex dan Awkarin, gue jadi inget sama tulisan gue tentang musik yang pernah masuk di majalah sekolah pas gue SMP. Ya Tuhan, itu udah berapa tahun yang lalu ya, dan coret-coretannya masih ada di balik kutang jadi gue pernah post di blog gue yang lama, dan sekarang gue repost di blog gue yang ini.

Lo punya blog selain ini?
Iya, pas jaman gue masih kuliah di Universitas Brawijaya, gue punya blog yang isinya adalah sampah ocehan absurd gue, tugas kuliah (yang gue pamerin), becandaan dan lawakan tentang temen-temen kuliah, dan hal-hal lain yang ga jelas. Jadi gue hentikan ngeblog selama beberapa saat karena lulus S1 gue udah sibuk jadi guru dan siap-siap ngambil pascasarjana di UI. Mungkin sekarang blog itu udah penuh sarang laba-laba saking lamanya engga gue update.

Trus, lo sekarang mau ngomongin lagunya Young Lex sama Awkarin?
Tentu saja TIDAK. 
Tadi itu gue Cuma basa-basi ngomong kalo itu manusia berdua yang nyanyiin lagu dan akhirnya dapet dislike 3 kali lipat lebih banyak daripada jumlah like-nya (entah mungkin sekarang udah jadi 4 kali lipat) menuai reaksi dari masyarakat yang protes karena banyak hal, yang katanya instrumennya sama kaya Blessing-nya Big Sean lah, ada yang bilang mirip kaya Doctor Pepper-nya CL lah, yang liriknya merupakan pembenaran dari kenakalan mereka lah, yang memberi efek negatif lah, ada yang mempermasalahkan karena engga dikasih age restriction lah, dll. Dan itu yang bikin gue pengen ngobrolin musik di sini. Tolong, jangan nanya mulu sebelum gue beres ngetik ulang artikel gue.

Faktanya, orang orang bilang kalau musik itu bagian dari hidup kita. Emang nggak salah sih, soalnya menurut psikolog asal Inggris (yang sampai sekarang gue lupa namanya) bilang bahwa pada umumnya manusia punya perasaan musikal. Pernah denger kan kalo bayi yang ada dalam kandungan nyokapnya bakalan terpengaruh sama musik apa aja yang didengerin nyokapnya. Makanya banyak tante tante hamil yang demen dengerin musik klasik buat pertumbuhan dan perkembangan otak si kecil.

Faktanya lagi, musik jadi alat komunikasi non verbal yang universal. Banyak banget orang yang suka sama sebuah lagu tanpa peduli dengan bahasa apa lagu itu dinyanyiin. Itulah uniknya, apapun bahasanya, minumnya teh botol sosro, kita tetep suka asalkan melodinya pas di kuping dan ngegaet hati. That's why musik jadi alat perdamaian. Musik bisa kampanye damai? Maksudnya, liriknya menggugah perdamaian. Nah, abang abang di Coldplay dan Blue juga demen nyanyiin lagi beginian.

Fakta ketiga, musik itu pengaruhnya sampe ke otak sampe ke hormon. Coba dengerin Hips Don't Lie-nya Shakira atau Lose My Breath-nya tante tante Destiny's Child. Gak tahan pengen goyang deh. Kenapa? Emang, nada nada suara yang ada dalam musik tertentu bakan ngeaktifin sejumlah titik pada sistem syaraf manusia yang berhubungan langsung dengan pusat pusat mtivasi loh! Jadi bisa membangkitkan perasaan perasaan tertentu gitu. Atlet-atlet yang mau tanding biasanya di support pake theme song-nya sendiri sendiri biar semangat. Nah terus buat suasana khidmat kayak upacara pemakaman pahlawan, kita bisa dibikin merinding ngeri dengerin lagu Gugur Bunga.

Then, dari penelitiannya Om Julius Portnoy; musik itu bisa mengubah laju metabolisme badan dan punya pengaruh ke energi juga. Bisa dibuktikan! pas kalian baru kelar kuliah, sekolah, atau les, capek dan langsung leha leha sambil dengerin musik kalem, nggak usah nunggu lama lama, kalian pasti zzzzzzz....zzzzzz. Ketiduran!

Nggak aneh kok, musik emang ngebawa efek. Musik yang kalem ya menenangkan soalnya merangsang terbentuknya hormon endorfin. Kalo dihasilkan dalam jumlah banyak, perasaan rileks yang ditimbulkan akan menjurus ke arah ngantuk, guys. Semacam musik klasik, kalo didengerin selama 30 menit, bakalan menghasilkan efek yang sama dengan minum satu dosis valium. Nggak heran lagi kan kalo banyak pasien yang ngalamin tingkat stres tinggi dianjurkan buat terapi pake musik.

Pernah denger istilah musik destruktif? Kenal kan sama musisi yang diembel-embeli peringatan di albumnya pake kalimat 'Parent Advisory, Explicit Content'. Contohnya kayak Mas Eminem, Marylin Manson, Limp Bizkit dll. Gara garanya sih dinilai menawarkan musik destruktif yang punya efek merusak generasi muda, guys. But, ada yang bilang nggak ada yang namanya musik destruktif. Musik mereka yang bagi sebagian orang kedengeran kacau balau gak karu karuan sampe bikin genteng rumah goyang justru jadi terapeutik buat sebagian orang lain. Itu mah cuma masalah toleransi kuping aja sih.
 Kalo ada lirik yang nyeleneh dan rada rada ancur bahasanya, menurut penelitian, efeknya bukan lebih karena liriknya tapi ke ritme dan tempo musiknya tadi.
  
Meskipun penelitian bilang kalo efeknya lebih karena ritme, kok gue engga sependapat ya. Logikanya, ketika musik dijadikan alat untuk menyerukan perdamaian lewat liriknya, berarti hal-hal negatif yang diserukan lewat lirik lagu, juga berpotensi untuk mensugesti pikiran orang untuk melakukan sesuatu yang negatif. But, kita juga sebagai pendengar musik kudu ngerti dong mana yang bener dan mana yang salah. Kayaknya nggak lucu aja kalo kita yang udah pada gede gini ikut melakukan tindakan yang nggak baik gara gara denger lagu yang liriknya aneh aneh padahal kita paham kalau itu nggak benar. Kalo menurut CA Torres, yang rentan kena pengaruh negatif dari musik tuh justru orang yang nggak sadar sama apa yang dia dengerin, guys.

Jadi lagunya Young Lex sama Awkarin itu merusak gak?
Yah, kenapa lo jadi ngebahas mereka lagi? Gue ngga hobi dengerin lagu-lagu mas mas yang punya distro itu, dan gue karena udah dewasa, gue nggak terpengaruh apa-apa termasuk nakal ‘yang dalam batas wajar’ atau apalah. Buat gue, kalo bisa memilih, gue mending memilih untuk enggak nakal (meskipun dalam batas wajar dan batasnya dimana gue nggak tau). And, FYI memang gue anak baik, makanya gue waktu nonton parodinya yang judulnya ‘GOOD’ gue ngakak karena liriknya kaya balada idup gue #sombongdalambataswajar

Kesimpulannya balik lagi ke yang Torres bilang bahwa yang rentan kena pengaruh negatif dari musik tuh justru orang yang nggak sadar sama apa yang dia dengerin. Nah, dari sini, gue agak kuatir kalo anak ABG dan para remaja belom mateng yang denger bakalan menelan mentah-mentah liriknya sementara liriknya (yang katanya adalah curhat doang) adalah pembenaran kelakuan nakal dan berisi beberapa kalimat yang engga beres.

Kalimat engga beres?
Iya, coba liat:
Memang gue anak nakal
Seringkali ngomong kasar
Tapi masih batas wajar
Gimana caranya ngomong kasar yang wajar dengan frekuensi sering?

Loe semua nilai kita dari luar
Tatoan tapi tak pakai narkoba
Jangan nilai kami dari covernya
I know that tattoo is a form of art. Tapi kalimat baris kedua itu, kenapa menyandingkan tattoo dan narkoba dengan kata ‘tapi’ seolah-olah umumnya yang tatoan itu pada make, trus bikin pengecualian terhadap diri mereka bahwa mereka tatoan tapi engga pake narkoba.

Don’t judge a book by its cover?
Let us say, lo ke perpus, butuh buku kalkulus buat garap tugas, apakah mungkin lo ngambil/minjem buku yang sampulnya bertuliskan “Budidaya Tanaman Tembakau”? Lo pasti ngambil buku yang judulnya ada hubungannya dengan kalkulus. See, cover does matter. And now, lo ngeliat orang sering melakukan hal yang di negara lo dianggap tabu, ngumpat pake nama penghuni kebon binatang, suka nyebut organ vital, doyan hura-hura, apa lo sempat-sempatnya berusaha berpikir bahwa itu Cuma luarnya, dalemnya pasti dia anak baik, rajin berderma ke panti asuhan, sering dapet beasiswa, hobi mengkritisi perekonomian negara? Sempet lo mikir gitu?

Kata fansnya sih lirik itu maksudnya mending engga munafik, mending berantakan tapi terang-terangan/ga ditutup-tutupi daripada sok berpenampilan alim tapi bejat. Menurut lo gimana?

Kalo lo masih belom mateng, atau masih ABG, interpretasi kaya begitu terasa benar. Lalu dengan mudah kalian amini. Tapi bagi kami yang beberapa tahun lebih tua dan bisa mikir lebih panjang kami akan bilang, “Mendingan enggak dua-duanya. Mending jadi anak yang berpenampilan baik dan berperilaku baik juga. Ngapain sih bikin opsi yang dua-duanya negatif?"

Intinya, cover itu penting dan asset lo dalam memperoleh penilaian dan kesan baik di benak orang yang lo temui. Nggak ada kan perusahaan yang memberikan dress code bebas saat mau interview calon karyawan? Pasti formal rapi kan?! Emang lo mau berangkat interview di perusahaan/instansi pake daster atau sarung? Trus lo waktu dilarang masuk sama security, lo bakal ngotot, “Pak, jangan nilai saya dari covernya, yg penting kan kemampuan saya!” Gitu?

Dan silahkan sukai mereka
Yang berlaga baik didepan kamera
Ini lagi?!
Ya jelas di depan kamera orang harus terlihat baik, secara ditonton sama orang lain, apalagi public figure. Itu wajar. Lo ditonton banyak orang, dan berpotensi meng-influence khalayak dengan gaya rambut, fashion, gaya bicara, dan lain-lain, mustinya lebih mawas diri. Menurut gue, sebagai public figure, model, aktris/actor, penyanyi, semuanya menjual karya dan bakat, bukan menjual kehidupan pribadi atau aib diri. Memang banyak musisi hebat yang menjadikan pengalaman pribadi sebagai salah satu karya. Tapi dikemas  dengan cara yang baik, bukan pamer kesalahan lalu minta dimaklumi. Dengan jadi public figure lo udah punya tanggung jawab moral, jadi yang terlihat baik di depan kamera bukan berarti munafik.

Jangankan di depan kamera, lo pergi kuliah aja musti nyisir rambut dulu kan?! Apakah itu namanya belagak kecakepan? Orang lain, yang melihat kita harus kita hormati pengelihatannya, pendengarannya dan perasaannya. Lo nggak bisa bilang ke orang lain, “Kalo lo ngga suka dandanan gue ya nggak usah diliat, Nj*ng!” sementara lo seliweran di depan dia. Kecuali kalo lo siluman, bisa seliweran tanpa keliatan. Kalo suka neriakin organ vital atau nama hewan, mending lo jadi orang biasa aja yang engga diliat orang senusantara. Tandanya lo ga siap jadi public figure.

Gue jadi inget salah satu pepatah Jawa:
Ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana.
Peribahasa ini ngingetin kita supaya ati-ati sama apa yang kita ucapkan dan apa yang nempel di badan kita. Orang lain menilai kita dari apa dan bagaimana kita berucap plus apa yang kita kenakan. Apa iya, orang bakalan menghargai dan menghormati orang yang doyan ngomong kasar?

Bukannya kita musti menghargai karya orang lain?
Bukan berarti kita dilarang mengkritik kan?! Hayooo.

Tapi fansnya biasanya bilang gini, ‘Emang lo udah bisa bikin lagu? Karya lo apa?’
Ahahahaha, komentator sepak bola belum tentu bisa main bola sejago Christiano Ronaldo kan?! Gue bukan haters, tapi gue suka ketawa geli aja kalo ada orang dibilangin, eh malah bilang begitu. Coba nanya sama para fans, ‘Lo pernah makan bakso yang engga enak?’ kalo dia jawab, ‘Pernah’. Nah lo tanya lagi, ‘Emang lo udah bisa bikin bakso? Masakan lo apa?’ Atau tanya kalo dia masih sekolah, ‘Lo punya guru yang ngajarnya payah/ga enak?’ dia pasti jawab, ‘Punya, guru mata pelajaran matematika (misal)’. Lo bales tuh, ‘Kurang ajar lo menghina kemampuan guru ngajar, emang lo udah bisa ngajar matematika? Ijasah lo apa?’

Ini kenapa gue ngajarin orang berantem deh? Cara terbaik menghadapi fans-fans yang masih labil begitu mendingan gak usah diajak debat karena orang lain engga bakalan bisa ngebedain mana yang sebenernya bego.

Ada juga yang begini nih, ‘Ah, kaya lo nggak pernah bikin dosa aja? Kaya lo paling suci/sempurna aja?’
Balasan final fans fanatik yang nyaris mati kutu biasanya begini kalo dinasehatin pake logika yang bener. Tapi gue engga pernah nasehatin sih, males. Gue tonton aja komen-komennya berantem ama haters sambil ngopi kalo gue lagi butuh hiburan. Lucu sih.

Jawabannya, everybody makes mistakes. Nggak ada orang yang suci adik-adik… But, you’ll learn something priceless from some mistakes you’ve ever done. It’s good to make mistakes, then regret about it and promise to never ever do it again another day, instead of being proud of it. Gue punya salah juga, tapi gue akui itu salah dan jangan sampe gue mengulang kesalahan itu, bukannya bangga melakukan kesalahan, trus gue ulang-ulang sambil nyari pembenaran, bisa-bisa hidup gue rusak permanen #amitamit

Udah ah, ntar gue dikira haters yang pengen membedah lagu trus si empunya lagu kegeeran lagi. Menanggapi fenomena kaya gini sih gue cuma bisa berdoa ya semoga ABG dan remaja kita engga salah milih panutan.

Dear teenagers, respect your parent (don’t make them ashamed of you), respect your friends (don’t make them regret to have you as their friend), respect others (don’t make others ask why God creates you), respect yourself, be an educated happy healthy smart human being, for your future’s sake.

With love,

Me


Wednesday, October 5, 2016

INSYA ALLAH


Sebuah cara baru untuk membelot dari kewajiban memenuhi janji??!!

Kalo lo nanya gue agama gue apa, biar gue jawab, gue beragama Islam dan tolong jangan berusaha menarik hubungan antara agama gue dengan nama belakang gue yang ‘katanya’ identik dengan nama orang non muslim.

Gue muslim dan gue enggak suka dengan muslim jaman sekarang yang kalo janji menggunakan ‘Insya Allah’-nya sebagai legitimasi atas tidakterpenuhinya janji tersebut pada hari H. Gue juga pernah berantem sama beberapa orang teman perkara ‘Insya Allah’ ini ketika mereka menjanjikan gue sesuatu. Bukan yang berantem gede, perang mulut atau gimana, Cuma gue udah enggak minat aja ber- ‘teman baik’ karena terlalu seringnya mereka mengingkari janji. Dan kalian tau apa yang mereka bilang ketika janji tersebut tidak terlaksana?

“Kan gue kemaren bilangnya Insya Allah, Kik….”
“Insya Allah gue dateng. Insya Allah lho ya, jadi bisa aja gue engga dateng.”
“Aduh, gue nggak ikut ya, kan gue bilang Insya Allah, jadi nggak pasti gue bisa dateng atau enggak.” (padahal pada hari H dia bilang gitu, gue udah rapi jali nungguin dia 2 jam di tempat janjian *lari ke pojokan lalu meraung-raung sambil peluk dinding*)

Pantesan aja sih, guru sastra Inggris gue jaman SMA bilang, “Jangan terlalu berharap sama ‘Insya Allah’-nya orang Indonesia. ‘Insya Allah’-nya orang Indonesia itu udah menyimpang dari makna Insya Allah yang sebenernya.”

Dan sejak SMP, beberapa temen gue bilang, “Halah, Insya Allahnya orang Indonesia itu artinya 99% engga jadi melakukan hal yang dia janjiin.”

Hahahahahahaha. Ketawa miris.

Memang ENGGAK semua orang menyalahgunakan kata Insya Allah, tapi ADA saja muslimin dan muslimah yang nggak ngerti makna Insya Allah dan akhirnya salah dalam menggunakannya. Jadi apa yang pengen gue sampein sekarang? Mendoktrin kalian untuk tidak menggunakan syariat Islam (bagi yang muslim) ketika berjanji atau berencana akan melakukan sesuatu?

TIDAAAAK. BUKAN.

Gue Cuma pengen meluruskan kesalahkaprahan yang terjadi dan mengembalikan citra dan kesucian kalimat Insya Allah yang kini identik dengan janji beraroma PHP doang.

Jadi, mari kita tilik makna 'Insya Allah' itu sebenarnya.

Oke, emang, kita nggak pernah tau apa yang terjadi lusa, besok, atau bahkan sejam kedepan. Makanya kita juga kudu menyadari kalo kita nggak bisa ngasih jaminan 100% bahwa kita bakalan memenuhi janji kita ke orang lain. Karena semua yang terjadi kan atas ijin Allah SWT. Allah SWT udah memperingatkan kita tentang hal ini dalam Al Qur’an surat Al Kahfi: 23-24 yang artinya:

“Dan jangan sekal-kali kamu mengatakan tentang sesuatu ‘sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali dengan menyebut Insya Allah”

Apa sih arti Insya Allah?
Insya Allah berarti ‘jika Allah menghendaki’. Jadi guys, intinya ayat ini ngasih tau kita kalo nggak ada hal yang bisa kita lakukan tanpa ijin Allah SWT sang Maha Berkehendak. Serapi dan sematang apapun rencana kita, tetep aja Allah yang ketok palu atas terlaksana atau tidak terlaksananya rencana lo. Makanya, tau diri dong jadi manusia #eeh

Oke, oke, serius ini.

Jadi guys, Insya Allah bukan ucapan untuk melegalkan janji yang tidak ditepati, atau melepaskan tanggung jawab yang sudah disepakati. Tapi ada yang menggunakan ‘Insya Allah’ sebagai penolakan halus atau pernyataan halus supaya lawan bicara kita tidak tersinggung atau kecewa saat permintaannya nggak bisa dipenuhi. Ada juga orang-orang yang bilang ‘Insya Allah’ untuk menjanjikan sesuatu yang dia tahu kecil sekali kemungkinannya untuk ditepati (yang mana hal ini jelas SALAH pake BESAR).

Yang namanya ‘Insya Allah’ justru merupakan ikrar bahwa kita memasrahkan janji yang kita buat akan di jamin oleh Allah agar terlaksana APABILA NIAT KITA DALAM BERJANJI DAN USAHA KITA SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MEWUJUDKANNYA.

Paham gak? Biar gue sederhanakan lagi: Insya Allah itu digunakan pada saat lo berjanji dan lo udah berniat sungguh-sungguh merealisasikan janji itu disertai keyakinan bahwa Allah akan membantu mewujudkannya. Tapi lo tetep berpasrah pada takdir Allah (terkait janji lo bisa terlaksana atau enggak). Yang penting lo udah niat dan berusaha memenuhi janji itu.

Jadi lo jangan bilang Insya Allah kalo lo sendiri sebenernya tau bahwa lo nggak bisa atau nggak mau memenuhi janji itu karena suatu sebab. Misal, lo diajakin temen lo ke perpus bareng besok, tp lo udah tau kalo besok lo nemenin nyokap arisan. Lo jangan bilang Insya Allah, bilang aja lo nggak bisa. Jangan gara-gara lo engga enak hati sama temen lo ini, trus lo menjadikan Insya Allah sebagai tameng ketidakhadiranmu di perpus keesokan harinya.

Atau lo jangan menyanggupi ajakan/permintaan seseorang pada saat lo NGGAK YAKIN bisa memenuhinya. Misal, lo diajak dateng ke seminar tapi pada hari yang sama lo udah janjian sama temen lo yang lain jenguk orang di rumah sakit dan lo gak tau waktunya keburu apa enggak buat datang ke seminar setelah pulang dari rumah sakit. Jangan bilang ‘Insya Allah’, bilang aja sejujurnya kalo lo nggak tau pasti bisa dateng atau engga. Kalo lo emang udah niat dan berencana untuk berusaha dateng ke seminar, bilanglah Insya Allah. Kalau pada hari H, setelah berpeluh-peluh ngebut biar ga terlambat, ternyata waktunya engga keburu, mending lo cepet-cepet telepon temen lo dan bilang kalo lo masih dijalan atau kejebak macet. Jangan biarin temen lo menunggu. Jangan hanya berbekal ‘Insya Allah’ lo jadi merasa mendapat pemakluman dalam melanggar janji (walaupun ada alasannya). Mending cepet-cepet kasih kabar, daripada temen lo telat atau nggak jadi ikut seminar gegara nungguin lo.

Inget ya guys, dari artinya aja, ‘Insya Allah’ itu jika Allah menghendaki, bukan dipakai untuk ngegantung harapan orang yang lo janjiin berdasarkan sikon atau mood lo doang.


Monday, October 3, 2016

Snowfall On The Sahara



Aku ingin marah tanpa ada satupun yang mencegah. Aku ingin marah habis habisan hari ini. Marah pada diri sendiri dan dunia. Aku ingin mengerahkan angkara yang tersebar di setiap inci tubuhku yang dialiri darah. Murka dengan dengus nafas yang terus membuat jantungku memompa darah mempertahankan hidup yang tak kuinginkan.

Aku ingin mengumpat, meneriakkan kata kata kotor tanpa merasa bersalah. Aku ingin memaki dan membentak orang tanpa merasa berdosa. Aku ingin meninju cermin antik di kamarku tanpa harus meringis sakit saat melihat kepalan tanganku dikucuri darah dari pembuluh darahku yang terobek serpihan kaca. Aku ingin menjungkir balikkan meja makan yang dipenuhi makanan yang telah tertata rapi.

Aku mau menggoblok goblokkan guru SD sebelah rumah yang sotoy, padahal otaknya tak berisi apapun yang sekiranya penting. Aku ingin mendorong pundaknya di depan murid muridnya dan membuat wali murid berfikir mereka telah menyekolahkan anak anak mereka di sekolah yang salah. Sekolah yang salah satu gurunya belagak seperti sosialita, tapi sejatinya kuper, kampungan dan satu lagi, kecerdasannya kurang jika dibandingkan dengan keponakanku yang masih SMA.

Aku berani menegur sopir angkot yang ngetem terlalu lama di pengkolan jalan dan membuat celanaku terkena muntahan anak kecil yang mual sebab terlalu lama kepanasan dan membaui bahan bakar.

Aku berharap bisa tega menghina si mahasiswa S2 itu, yang sok kaya, dan sok intelek, padahal hidupnya tak pernah dihargai teman sejawatnya. Hidupnya menyedihkan. Tingkah hedonis yang memuakkan. Ingin terlihat hebat dengan menghambur hamburkan rupiah yang hingga detik ini masih di Tuhankan manusia. Ironisnya biaya kuliahnya boleh ngutang bank. Aku tahu, dia hanya ingin diakui sebagai orang pintar dengan menyandang gelar magister. Ingin pengakuan, heh? Jadi selama ini tak ada yang mengakui bahwa dia pintar? Jijik.

Aku ingin menemui Hangga. Mengadu bibirku dengan bibirnya, lalu menampar pipinya keras keras dengan parutan kelapa. Bayaran atas ketololannya yang tak menyadari betapa aku mencintainya dua tahun terakhir ini.

Aku bisa saja mencolokkan ujung rokok yang menyala ke jidat dosenku yang centil karena dia memberiku nilai B+ di mata kuliahnya. Hei, semua orang tahu aku sangat menguasai semua materi yang pernah wanita dower itu berikan. Heran. Apa sih yang membuatnya sentimen padaku? Dan setelah mencolokkan ujung rokok ke jidat dosen dower itu, aku mau menyepak kemaluan Johan dengan sepatu hansip. Mahasiswa yang hobi berfantasi jorok tapi pandai menjilat dan jilatannya menghasilkan nilai A di laporan hasil studinya semester ini. F*ck!

Aku punya niat meludahi muka perempuan konyol yang badannya dan badan ibu beranak tiga yang sudah melar, tidak beda jauh. Kenapa? Masih tanya kenapa? Mana mungkin kau pacaran dengan bule dan kau belum berseranjang dengannya, dia menuduhku. Demi Tuhan, aku ingin menyumpal mulut kotornya dengan kancut. Pas. Sama kotornya.

Aku juga berharap bisa bertemu lagi dengan laki-laki berkumis tipis yang membonceng pacar jilbab polkadot dengan sekuternya agar aku bisa menelanjangi mereka berdua dan kupajang tubuh mereka di gerbang makam Senopati. Pasalnya, mereka – yang tak sengaja kulihat kemarin sore menjelang maghrib – berboncengan di macetnya lalu lintas sambil saling sentuh organ kencing dengan sebelah tangan. Kenapa tak mereka cari kamar? Kenapa harus dia tunjukkan pada dunia ketidaktahumaluan mereka sambil membawa simbol agama? Sebagai orang yang memeluk agama yang sama, aku merasa di-ren-dah-kan.

Aku ingin melempar semua barang pecah belah di rumah ini ke tembok tanpa membangunkan saudara kembarku yang bisu. Aku akan menjambak jambak rambutku sendiri andai saja rambutku bisa utuh esok harinya seperti semula. Aku mau makan karbohidrat sebanyak banyaknya tanpa takut gemuk. Aku merasa butuh mengoyak bantal guling dengan gigiku seperti harimau yang memangsa bangkai rusa dengan rakus. Aku ingin menelan beling semudah ayam mematuk biji jagung hingga kenyang.

Aku mau tertawa keras keras. Menertawakan ormas yang mencekal kontes kecantikan dengan alasan moral dan agama. Padahal tanpa menonton kontes kecantikan yang ada bikininya pun, remaja di negara ini sudah pandai bersilaturahmi dan bercanda kelamin.

Aku ingin menangis seharian tanpa mata bengkak keesokan harinya. Aku ingin menggaruk garuk tanah dan meraupkan cacing ke mukaku sendiri. Aku ingin menggali kuburan ibu. Aku mau merencanakan pembunuhan terhadap ibu tiriku, mumpung dia mandul dan tak punya anak yang butuh dia. Aku ingin mencekokinya dengan alkohol, lalu mengalirkan listrik ke tubuhnya agar kematiannya seolah akibat serangan jantung.

Aku ingin tinggal di hutan dan melolong keras keras tiap malam. Tidur meringkuk di bawah pohon. Bergulung diatas daun pisang seperti trenggiling.

Aku rela mengeluarkan suara untuk menyumpahi ormas yang bikin macet jalanan dengan aksi demo membawa spanduk bertuliskan ‘selamatkan Palestina’. Teriak teriak membawa toa tanpa merealisasikan tindakan untuk menyelamatkan Palestin.

Aku masih ingin yang lain kalau saja...

Tubuhku direngkuh dari belakang. Rengkuhan itu yang membuatku terkesiap menatap pantulan diriku di cermin. Duduk di lantai dengan wajah yang basah. Bibirku asin karena lelehan air mata. Darah menggenang di lantai dan meleleh di permukaan cermin yang retak parah tak beraturan, kucuran dari tangan kananku.

Kurasakan tubuh saudara kembarku yang menggigil, aku bisa merasakan tubuhnya sedikit mengejang saat menarik nafas. Tangannya melingkar di pundakku dan merapatkan kepalaku ke dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat dan tak beraturan. Seumur hidup kami memang tak pernah bicara. Tapi seperti inilah dia selalu berkata kata, dari pelukan, dari irama jantungnya, dari denyut nadinya, dari bahasa tubuhnya, dari bisikan hatinya,

Berhentilah, kau hanya lelah dan banyak berfikir. Kau hanya lelah...

Ya.
Ya, aku dengar.

Biar kuperban tanganmu, lalu kusisirkan rambutmu.

Aku merangsek maju balas mendekapnya saat pelukannya merenggang dan wajahnya mengisyaratkan perih ketika diraihnya tangan kananku.

Bertahanlah sebentar lagi, aku belum ingin kau melepaskan aku dari pelukanmu.

Sabtu, 14 September 2013
00: 01 WIB

Wednesday, September 21, 2016

Are You Dating The Right Guy or The Wrong Guy?


Being in a relationship.
Being single.

Yang single istirahat dulu ya. Coba duduk dulu di sebelah sana, kan kalian udah sering gue jadiin topik di postingan-postingan sebelumnya. Syuh, sana, minggir dulu! Sekarang waktunya gue ngobrol sama sodara-sodara kalian yang udah punya pasangan.

Berpacaran.
Happy nggak? Apa kabar pacar lo? Baik baik aja kan?! Ada yang mulai meragukan pacar?

Pernah nggak sih kepikiran hubungan lo sama cowok lo? Adakah di antara kalian yang udah meyakini bahwa lo udah pacaran dengan cowok yang tepat, that he’s the one you’ve been looking for, that he’s the one you’ve been longed for?

Atau ada di antara kalian yang masih bodo amat, nggak peduli cowok lo Mr. Right atau bukan, buat lo cowok lo sekarang Cuma Mr. Right Now. Asal ada lelaki yang selalu siap sedia, ada kalo lo butuh. Mumpung ada yang tergila-gila sama lo. Status pacaran Cuma sekedar biar gak jomblo aja, atau biar ada yang nemenin/bayarin nonton, makan, jajan, bawain barang belanjaan? Itu hak kalian kok kalo Cuma mau macarin Mr. Right Now. Gue nggak mau berkomentar apa-apa soalnya gue juga nggak pernah berhubungan dengan Mr. Right Now atau pacaran mumpung ada lelaki yang available ketika gue bosen jomblo. Jadi gue nggak tau gimana rasanya.

Jangan-jangan ada beberapa di antara kalian yang selalu mempertanyakan apakah si doi adalah orang yang tepat atau bukan setelah sekian lama pacaran dan melewati halang rintang (kaya anak pramuka ya kalo latihan ada halang rintangnya, ngahahahaha) dalam hubungan asmara kalian? Atau kalian mulai ngerasa kalian udah pacaran sama cowok yang salah?

Lah gimana gue tau kalo gue macarin cowok yang salah?

Tenang, that’s why I’m here, untuk menghilangan kepelikan hidupmu, Nak… Hahahaha, santai. Pacaran sama cowok yang salah, bukan berarti selalu diselingkuhin loh! Ada beberapa hal yang bikin kalian enggak bisa bersama walaupun enggak ada orang ketiga. Bisa aja. Atau bahkan ada hal-hal dari dalam diri kalian sendiri yang nggak ‘sreg’ dan nggak cocok sama dia. Tapi kalian gak tau apa alasannya. Deep deep inside your heart, you’re screaming, but you can’t just hear it, karena secara tidak sadar lo selalu memaksakan diri untuk tersenyum dan bahagia bersamanya.

These are some signs that you’re trapped with the wrong guy in an unhappy relationship:

You’re NOT happy


Wow, ini nih. Mendadak udah nggak hepi lagi ya bareng-bareng si doi atau si doi nggak lagi bikin lo hepi. Apapun yang kalian lakukan bersama, lo ngerasa vibe nya nggak sekenceng dulu lagi. Jadi gampang bete dan jenuh. Lo ngerasa langit pagi tak seindah dulu, jadi enggak semangat lagi walaupun lo masih punya dia di samping lo, sampe-sampe lo ngerasa nyanyian burung tak lagi semarak? #setdaah


Nah, apa yang bikin lo jadi nggak hepi lagi? There must be something behind it. Cowo lo mulai ngeselin? Keseringan beda pendapat? Capek perang mulut karena hal sepele? Terlalu banyak misunderstanding?

Girls, kalo sebuah hubungan bikin lo lebih sering bete, sedih, nangis, marah daripada hepinya, berarti ada yang harus dikoreksi. Kesalahan ada pada cowo lo, atau pada diri lo sendiri. Inget ua, staying in an unhappy relationship can lead to insecurity and depression. Hayo loh! So, you need to fix it or end it!

You never get to decide anything a.k.a you're under control


Girls, pacaran itu masa-masa dimana lo sama cowok lo memulai stimulasi atau berlatih menjadi tim yang solid sebelum melangkah untuk benar-benar menjadi tim yang bergerak di bawah atap yang sama, alias rumah tangga. It’s about compromise people who want to see each other happy. If he is taking control without considering your feelings, it’s a clear sign that you’re not in a relationship with the Mr. Right.

Lo tuh manusia, punya hak bicara, memilih, dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan (bahasa gue dah, kaya ngomongin pemilu). Pacaran itu proyek dua jiwa, dua pikiran, dua hati, dengan berbagai bumbu di sana sini. Jadi kalian berdua harus kerja sama, bukannya dia leading hubungan, lo ngikut-ngikut aja sambil ngedumel dalam hati doang karena dia nggak terima kalo diprotes. Gila, lo pacaran apa narik angkot (cowok lo supir, lo kenek)?

Does he make you feel bad often? Lowering your self esteem?

Ini ngeselin banget nih. Gue paling benci sama orang (baik itu cewek atau cowok) yang suka bikin orang lain ngerasa bersalah, minder, tak berdaya just to make themselves feel better. Narsis, menonjolkan diri sendiri, sok hebat, suka kasih kritik-kritik pedas tanpa saran yang membangun. Nih cowok yang kaya begini nih bener-bener bikin perasaan lo jadi kaya roaler coaster. Main-main doang.

Guys who play with your emotions are trying to increase your insecurities and by doing this they are decreasing the likelihood that you’re going to leave. They make you feel like you can’t do anything right, they try to hurt yourself worth and make you feel guilty.


Banyak yang gak setuju sama hubungan kalian

Jangan salah, yang gak setuju sama hubungan kalian bukan berarti mereka sirik. Orang lain melihat posisi lo dan posisi cowok lo dengan kacamata orang ketiga yang nggak memihak kebahagiaan siapa-siapa.

Sedangkan lo? Ada yang berusaha lo pertahankan: status pacaran. Itu yang bikin lo nggak bisa ngeliat situasi yang terjadi di antara kalian secara objektif.

Pasti ada satu, dua atau banyak di antara kalian yang demi kebahagiaan cowok lo, lo rela menderita, rela buta pada kebenaran, rela menutup mata dari kenyataan kalo lo sama dia engga cocok, beda prinsip lah, karakter kalian berdua engga cocok lah, cowok lo kebanyakan menuntut sesuatu yang nggak ada pada diri lo, dll. Dan lo jungkir balik gak karuan demi tetep menyandang status pacar doi?

Duh, selamat berkubang dalam malam-malam penuh kegelisahan.

You’re always justifying his bad behaviour

Ini masih ada hubungannya dikit sama poin sebelumnya. Demi tetap jadi pacar doi, you keep justifying everything, including his bad behavior.

“Yah, mungkin dia lagi capek, banyak problem di kantor jadi dia nggak sengaja kelepasan ngomong kasar sama gue.”
“Mungkin dia lagi ada urusan mendadak/tiba-tiba nggak mood ketemu makanya dia batalin janji tiba-tiba.” (padahal lo udah sejam nungguin dia di tempat janjian)
“Mungkin dandanan gue hari ini nggak cukup cantik, jadi tadi dia flirting/lirik-lirik sama cewe di meja sebelah.”

Yak, terus aja lo cari alasan buat memaklumi semua kelakuan dia, sampai pada akhirnya lo bakalan sadar kalo lo udah terlalu banyak ngabisin waktu macarin cowok yang salah.

Sering sirik sama temen-temen lo yang masih single

“I wish I was single, so I can spend more time with my friends.” Kalo harapan lo kayak gini, pacar lo pasti menyita banyak waktu lo tanpa paham kalo lo juga perlu berhubungan dengan orang-orang di sekeliling lo. Lo punya kehidupan sendiri, bukan Cuma ngikut pola hidup pacar lo.
Pertanyaannya adalah, pacar lo yang nggak ngertiin kehidupan social lo atau lo sendiri yang ga bisa manage waktu?

“I wish I was single, so I can focus on my study/research/career.” Ini tanda bahwa punya pacar bikin satu sisi kehidupan lo yg lain (kehidupan lo sebagai pelajar atau cewe karir) jadi terbengkalai.

“Oh my God, I wish I was single. I must be happier if I can find a better person that him (your boyfriend).” Nah lo! Kalo lo udah bisa membayangkan ada orang yang lebih baik dari pada cowok lo buat lo pacarin, it’s a sign, that you’re not happy with him. Apalagi kalaaau…

You’re constantly thinking about other guy

Ini mah udah jelas, tanda keras kalo lo udah enggak nyaman sama cowok lo. It is a sign that you’ve found something you’ve been looking for in another guy, which your boyfriend lacks of it.

Jadi yang namanya introspeksi diri itu emang perlu, tapi jangan lupa introspeksi hubungan kalian itu sendiri. Ada yang perlu diperbaiki komunikasi kalian? Ada yang perlu dipertimbangkan lagi atau hubungan kalian perlu uji kelayakan untuk terus lanjut atau udahan?

Cuma kalian dan pasangan kalian yang tau.