Saturday, October 15, 2016

Political Pragmatism of Soka Gakkai towards The Komeito and Liberal Democratic Party Agreement to Reinterpret the Article 9 of the Japanese Constitution: A Preliminary Study

(Penelitian ini dalam format paper yg dipresentasikan dalam simposium internasional Asosiasi Studi Jepang, penelitian lengkap bisa dilihat di perpustakaan UI dan Pusat Studi Jepang, penelitian format jurnal dapat dilihat di https://www.academia.edu/28646676/PRAGMATISME_POLITIK_SOKA_GAKKAI_TERKAIT_KOALISI_KOMEITO_DAN_LIBERAL_DEMOCRATIC_PARTY_DALAM_KESEPAKATAN_REINTERPRETASI_PASAL_9_KONSTITUSI_JEPANG)


Rizki Hakiki Valentine, M.Si

University of Indonesia


This research analyzes the support of the Soka Gakkai towards the Komeito and LDP coalition to reinterpret the Article 9 of the Japanese Constitution. As preliminary study this research employs qualitative method by collecting and analyzing data through literature review and some official data that are published by the media and websites related to the research object. The results showed that political pragmatism of Soka Gakkai is the main reason of why Soka Gakkai keeps supporting the Komeito and LDP coalition on the issues of the reinterpretation of the Article 9. This research identified some interests behind the support of Soka Gakkai i.e: (1) political interests; Soka Gakkai's desire to dominate the whole of Japan by participating in the decision-making activities and influencing the government policies as well as controlling the media and the public figures, (2) economic interest; securing the assets and properties of the Soka Gakkai.


PENDAHULUAN
Trauma akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II dan banyaknya jumlah korban jiwa dalam peperangan, membuat masyarakat Jepang lebih berhati-hati dalam memilih keterlibatan mereka untuk perang serta mendorong lahirnya kebijakan; (1) Jepang tidak akan pernah mengirim kembali pasukannya ke luar negeri, (2) Jepang akan menjadi lebih sensitif terhadap kritik yang datang dari luar negeri, dan (3) Jepang hanya akan fokus mengejar kemakmuran ekonomi. Salah satu hal yang mendukung tindakan ini adalah dibuatnya pasal 9 dalam undang-undang negara oleh AS yang melarang atau membatasi ruang gerak militer Jepang serta pembukaan undang-undang yang mencerminkan bahwa Jepang adalah negara yang pasifis. Di Jepang, salah satu partai politik Jepang yang memiliki kebijakan dasar mengenai pasifisme adalah partai Komeito (Clean Government Party). Komeito merupakan sebuah partai yang didirikan dengan campur tangan organisasi agama Budha di Jepang, Soka Gakkai, pada 17 November 1964, yang melandaskan ajarannya pada Nichiren dan pada pemikiran petinggi-petinggi organisasi tersebut
Pada 1990-an ide untuk reinterpretasi pasal 9 kembali mencuat hingga masa pemerintahan Abe Shinzo pada 2007 dan sebagai partai koalisi LDP, Komeito secara umum mendukung agenda politik dan kebijakan-kebijakan LDP, termasuk reinterpretasi konstitusi pasal 9 yang diajukan oleh LDP pada 2014 dengan tujuan ikut serta dalam kegiatan pertahanan diri kolektif dan turun tangan dalam konflik luar negeri. Sementara itu, Soka Gakkai yang menentang rencana reinterpretasi pasal 9 justru menyatakan dukungannya pada Komeito agar tetap berada dalam koalisi bersama LDP yang kebijakannya tidak sesuai dengan ideologi.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji dan menganalisis kepentingan Soka Gakkai yang mendukung partai Komeito untuk tetap berada dalam koalisi pemerintahan bersama LDP dengan kebijakan yang bertolak belakang dengan ideologinya. Secara umum, penelitian ini memperlihatkan bahwa perilaku organisasi sering kali bertentangan dengan ideologinya dipengaruhi oleh pragmatisme politik terkait kepentingan-kepentingan tertentu yang ingin dicapai.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur/kajian pustaka, studi data resmi yang dipublikasikan oleh media masa dan situs resmi yang terkait langsung dengan objek penelitian seperti situs Soka Gakkai, situs resmi milik partai Komeito dan LDP, jurnal ilmiah online dan situs lain yang relevan untuk memperkuat analisa. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dari media surat kabar, buku-buku, jurnal ilmiah dan data resmi yang dipublikasikan dari media masa dan media elektronik lainnya. Sementara data sekunder yang digunakan adalah data hasil interview yang telah dipublikasikan oleh media masa atau ditayangkan oleh media elektronik. Untuk menganalisis data, penulis akan menggunakan metode deskriptif yang secara mendalam memberikan gambaran politik sesuai kondisi realitas dengan akurat sesuai dengan masalah yang sedang dikaji.

HASIL PENELITIAN
Eksistensi LDP sebagai partai penguasa yang berkoalisi dengan Komeito tidak bisa dipisahkan dengan Soka Gakkai sebagai patron Komeito yang mengakomodir dukungan untuk Komeito yang berasal dari pengikut sekte berupa voting saat pemilu. Dengan dukungan politik yang stabil dan terjamin, LDP menjadi partner koalisi  Komeito untuk berbagi basis dukungan yang menjanjikan suara mayoritas di Diet. Pola patronasi seperti inilah yang mencerminkan klientelisme politik di antara partai politik dan kelompok keagamaan di Jepang. Pola Interaksi Soka Gakkai dengan koalisi Komeito-LDP penuh dengan kontroversi karena pasca Perang Dunia II, pemisahan urusan negara dan agama sudah diabadikan dalam konstitusi. Kerangka ideologi pasifisme Komeito juga berasal dari Soka Gakkai. Tujuan utama dari Soka Gakkai adalah pembentukan demokrasi parlementer di mana setiap individu telah tersadar untuk menjalankan prinsip-prinsip agama Buddha yang akan memajukan kesejahteraan seluruh rakyat. Komeito dan Soka Gakkai menempatkan dorongan yang cukup besar dalam pemenuhan keinginan material selama hidup, alih-alih mengorbankan di dunia untuk kepentingan di akhirat.
Dukungan Soka Gakkai terhadap Komeito menjadikan Komeito sebagai partai kecil yang memiliki kekuatan yang sangat berarti bagi LDP baik di tingkat majelis tinggi ataupun majelis rendah. Komeito sebagai mitra LDP, bisa memodifikasi namun tidak dengan terbuka melawan kebijakan LDP karena kedua partai saling menguntungkan dalam kerja sama antar partai. Komeito mengendalikan pengaruh atas LDP karena empat alasan: (1) Untuk memaksimalkan jumlah kursi LDP dan kepentingan pengesahan undang-undang, LDP secara insentif berkoalisi dengan Komeito yang dapat memberi mereka suara terbanyak di Diet. (2) LDP perlu pemilih dari pihak lain selain pendukung mereka sendiri untuk mempertahankan daya saingnya di distrik anggota tunggal. (3) Tidak ada pihak lain yang dapat menjamin dukungan yang konsisten pada LDP selain Komeito. (4) Komeito memberikan perlindungan politik untuk keputusan pertahanan yang kontroversial. Sebaliknya, LDP juga memegang pengaruh atas Komeito karena dua alasan: (1) Dalam percampuran sistem distrik anggota tunggal dan sistem pemilihan Proporsional-Representation yang diimplementasikan pada 1996, sulit bagi Komeito untuk bersaing sehingga perjanjian pra-pemilu memungkinkan Komeito untuk mengatasi hambatan  ini dan meningkatkan jumlah pemilih mereka. (2) Menjadi bagian dari pemerintahan koalisi memungkinkan Komeito untuk mengklaim bahwa ia memiliki pengaruh lebih besar pada keputusan kebijakan.
Rencana reinterpretasi Pasal 9 yang makin matang membuat Komeito ikut menyatakan persetujuannya untuk menafsirkan ulang Pasal 9. Menariknya, Soka Gakkai justru menyatakan penerimaannya terhadap keputusan Komeito yang bertentangan dengan ideologi pasifisme tersebut. Sikap yang kooperatif dalam merespon keputusan Komeito ini merupakan wujud pragmatisme Soka Gakkai dalam berpolitik. Kebenaran menjadi sangat relatif dan bergantung pada kondisi di sekeliling Soka Gakkai yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai kepentingannya. 

A.  Kepentingan Politik
             Dominasi Soka Gakkai Di Seluruh Jepang
Sebagai kelompok kepentingan, kiprah Soka Gakkai mempertahankan Komeito dalam koalisi mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Bagi Soka Gakkai, Komeito merupakan alat yang berperan sebagai perisai dari sekte dan pimpinan Soka Gakkai yang mempromosikan tradisi Budhisme militan sekaligus memasukkan ajaran Nichiren dalam kehidupan bermasyarakat dan sendi-sendi pemerintahan.
Mentri Kesehatan koalisi kabinet 1993-1994, Keigo Ouchi, mengatakan bahwa politikus Komeito cenderung mengutamakan loyalitas pada Ikeda Daisaku, dan menempatkan loyalitas terhadap negara diprioritas selanjutnya. Bagi Ouchi, hal tersebut cukup mencengangkan. Dalam wawancara dengan BBC World News and Current Affairs, Ouchi juga menyatakan kesaksiannya bahwa pemimpin Soka Gakkai, Ikeda Daisaku kerap kali menyatakan ambisinya untuk menjadikan organisasi Soka Gakkai berhasil mengambil alih politik Jepang dan menjadi satu-satunya pemimpin dalam pemerintahan. Sementara itu, Kato Koichi, mantan sekretaris umum LDP memberikan informasi pada 1996 ketika Los Angeles Times mewawancarainya mengenai Soka Gakkai. Kato menyebutkan salah satu ambisi Ikeda adalah mengontrol negara Jepang.
Melalui fusi politik dan agama Budha, Soka Gakkai berusaha mewujudkan "Demokrasi Budha" dengan mengkombinasikan demokrasi Barat dan demokrasi marxist dengan agama, moral dan doktrin sosial Nichiren sebagaimana interpretasi Nichiren Shoshu. Sistem politik seperti ini akan menjadi salah satu hal yang bisa menjamin "kebebasan, martabat, dan kesetaraan" seluruh masyarakat. Dalam wawancaranya dengan Seikyo Shimbun, pada 2001, Ikeda menyatakan harapannya agar Komeito tetap setia terhadap prinsip melayani masyarakat, memikul tuntutan dan tanggung jawab paling berat sebagai partai politik yang menarik bagi semua orang Jepang karena selama ini Komeito sudah mendukung platform yang berbasis pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan menempatkan kehidupan manusia dan kesejahteraan sosial sebagai prioritas tertinggi. Melalui Komeito yang berkoalisi dengan partai penguasa, Soka Gakkai terus mengupayakan agar Soka Gakkai bisa mendominasi seluruh Jepang.
Dominasi itu dilakukan dengan langkah-langkah tertentu yang membuat Soka Gakkai bisa ikut mengarahkan keputusan negara sesuai dengan misinya. Langkah-langkah tersebut antara lain:
1.      Partisipasi Dalam Pembuatan Keputusan dan Arah Kebijakan Negara
Keputusan Soka Gakkai untuk benar-benar aktif dalam usaha perdamaian dan dunia politik dengan mendirikan Komeito membuat Soka Gakkai memiliki andil dalam urusan politik dan hubungan antar negara. Hal ini bisa dilihat dari fakta bahwa Soka Gakkai terlibat dalam upaya perbaikan hubungan Cina dan Jepang pada tahun 1960-an dimana Soka Gakkai mendesak hubungan Sino-Jepang lebih dekat dan membuat usulan mereka sendiri ke Beijing. Hubungan yang hangat antara China dan Soka Gakkai terus terbina dengan baik berkat upaya Komeito dan Soka Gakkai.
Soka Gakkai juga memiliki kekuatan yang cukup disegani oleh partai oposisi karena kemampuannya dalam menggalang dukungan. Dengan memiliki kekuatan politik yang cukup kuat, Soka Gakkai bisa melakukan penggalangan massa untuk menekan pemerintahan melalui demonstrasi. Soka Gakkai bisa ikut menyalurkan partisipasinya dalam pengambilan keputusan dalam skala yang lebih luas dan mempengaruhi arah kebijakan negara melalui Komeito. Oleh karena itulah, dalam mewujudkan keinginan Soka Gakkai untuk mendominasi Jepang, Soka Gakkai harus tetap memberikan dukungan pada Komeito agar terus bertahan dalam koalisi pemerintahan.
2.      Kontrol Media dan Public Figure
Acara media merupakan cara politisi, dan para pemimpin, memerintah dan mengendalikan masyarakat melalui acara media sehingga organisasi berita merasakan suatu kewajiban untuk melindungi para pemimpin. Media, memiliki dua peran, baik itu mengalihkan perhatian politik ataupun melengkapi realitas politik. Media juga berperan untuk mengupayakan transparasi politik untuk membantu masyarakat memantau jalannya pemerintahan dan perilaku pemerintah. Dalam kasus yang dibahas dalam penelitian ini, posisi Soka Gakkai dalam menyikapi media tidak mencerminkan transparansi politik. Keterlibatannya dalam politik Jepang membuat Soka Gakkai memanfaatkan kekuatan politiknya untuk menekan media dan mengajukan sensor atas media yang memberitakan sesuatu yang dianggap tabu. Salah satu contohnya adalah keinginan Soka Gakkai untuk menyensor beberapa tayangan, salah satunya adalah acara The Chanting Millions yang disiarkan oleh BBC karena acara dianggap mengekspos hal-hal yang tabu bagi Soka Gakkai seperti finansial, keyakinan, dan pelanggaran pasal 20 konstitusi Jepang. Soka Gakkai menjalankan protes kerasnya karena menganggap media mendistorsi fakta dan tidak memahami apa yang dilakukan oleh organisasi Soka Gakkai.
Sejak Komeito secara resmi berkoalisi dengan LDP pada 1999, pemberitaan media mengenai Soka Gakkai secara signifikan berkurang. Hal ini terjadi karena Soka Gakkai dan Komeito berusaha menggunakan kekuatan politiknya untuk menekan publikasi. Meskipun begitu, Soka Gakkai tetap memanfaatkan media masa sebagai media pencitraan. Media yang dikontrol oleh Soka Gakkai banyak menayangkan para publik figur berbakat yang banyak digemari masyarakat. Beberapa selebriti terkenal yang diandalkan oleh Soka Gakkai antara lain adalah Masami Hisamoto, Satomi Ishihara, Hidekazu Nagai, Tamaki Sawa, Izumi Yukimura, Linda Yamamoto yang sering kali tampil dalam acara-acara besar yang diadakan oleh Soka Gakkai untuk menarik perhatian ribuan orang dan mengubah citra Soka Gakkai sebagai organisasi militan yang agresif.

B.     Kepentingan Ekonomi
Soka Gakkai telah menerima sertifikasi sebagai badan usaha keagamaan pada 1952 dari Tokyo Bureau's Administration Guidance Department. Organisasi keagamaan dan urusan negara yang secara jelas tidak diperkenankan untuk saling mengintervensi, telah tertuang dalam konstitusi Jepang pasal 20. Hal itu menjadi alasan bahwa Soka Gakkai tidak perlu membayar pajak pada negara atas pendapatan dan anggaran belanja. Kontribusi kepada organisasi keagamaan Jepang tidak dikenakan baik pajak atau inspeksi. Mereka bebas untuk mengumpulkan dan mempergunakan uang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sementara itu, kegiatan bisnis yang lebih luas dikenakan pajak yang jauh lebih rendah daripada bisnis yang dimiliki oleh kelompok non-agama. Organisasi ini berafiliasi dengan beberapa perusahaan besar dan menjalankan bisnis dengan keuntungan finansial yang cukup besar.
·         Pengamanan Aset dan Kekayaan
Kontrol Soka Gakkai terhadap media membuat informasi mengenai aset Soka Gakkai menjadi sangat eksklusif. Oleh karena itu penulis banyak memanfaatkan media internet dan pemberitaan dari media Barat untuk menggali informasi mengenai kondisi finansial Soka Gakkai.  Para ahli memperkirakan bahwa Soka Gakkai memiliki lebih dari 1000 hak milik di seluruh Jepang dengan total aset lebih dari 10 trilyun Yen.  Selain itu, banyak situs internet yang ditulis oleh pihak-pihak dengan berbagai latar belakang, menyebutkan bahwa Soka Gakkai berafiliasi dengan banyak perusahaan besar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi dan urusan finansial Soka Gakkai tetap diketahui oleh publik walau tidak diekspos oleh media massa.
Berikut adalah perusahaan yang  berafiliasi dengan Soka Gakkai:

1.      HUSER (Human User Company)
2.      Sekisui House
3.      ITO EN, Ltd.
4.      Yakult Honsha Co., Ltd.
5.      Book Off
6.      Tsutaya, Culture Convenience Club Co. Ltd.
7.      UNIQLO Co., Ltd.
8.      H.I.S Co., Ltd.
9.      Club Tourism
10.  Kinki Nippon Tourist Co., Ltd
11.  Kontetsu International Express Inc.
12.  Watami Ltd.
13.  Monte Rosa Ltd.
14.  Tokyo Disneyland
15.  Nitori
16.  Yamada Denki
17.  Aoyama Trading
18.  Takarazuka Girls Operetta
19.  Troupe
20.  Hokke Club
21.  Wagon Road
22.  Tenka Ippin (Ramen Shop)
23.  Shinryo Corporation
24.  ILYA Co.
25.  Grapstorn Ltd.
26.  Transformer Arts of Animated Cartoon Production
27.  Studio Alice
28.  Toho Pharmaceutical
29.  Anabuki Construction Company
30.  Mitsubishi Bank

Sementara itu, perusahaan berikut ini tidak secara resmi berafiliasi dengan Soka Gakkai, namun bekerja di bawah kontrol Soka Gakkai: (1) Japan Railways (2) AVEX (3) Doutour Coffee (4) NAMCO (5) Don Quijote (6) Daisho 100 Yen Shop (7) Asics (8) Nippon Ham (9) Lotteria (10) K1 
Adapun perusahaan milik Soka Gakkai berikut omset tahunannya (¥):

1.      Seikyou Shimbun
2.      Japanese books transportation (11,3 M)
3.      Nitiei (1,1 M)
4.      Shinano facilities management (3,6 M)
5.      Nikkou guard security (1,6 M)
6.      Creation company (3,6 M)
7.      Glory construction (2,9 M)
8.      Tokyo Broadcasting System
9.      Seven & Holdings
10.  Shio publisher (4,5 M)
11.  The third civilization company (1 M)
12.  Otori study (3,8 M)
13.  TOKO (1,9 M)
14.  Fuji white lotus company (1,9 M)
15.  Hito Communications Benesse


Pengaruh Soka Gakkai dalam koalisi politik antara Komeito dan LDP membuat Soka Gakkai mulai mengontrol media dan membuat kepentingan ekonomi dan finansial Soka Gakkai tidak terekspos oleh publik. Dukungannya terhadap partai LDP melalui Komeito dan keterlibatan Komeito dalam membantu LDP mengesahkan undang-undang pengiriman pasukan Jepang ke luar negeri pada 1992, membuat pemerintahan Jepang yang dipimpin oleh LDP cenderung memihak pada Soka Gakkai pada saat skandal keuangan Soka Gakkai terungkap. Kelompok Soka Gakkai pernah terlibat kasus penggelapan pajak sebesar 4,5 juta dolar AS, skandal pasar saham, dan skandal yang melibatkan dugaan penghilangan dana transaksi dua lukisan Renoir yang melibatkan Mitsubishi Corporation. Michio Watanabe kembali mengakui dalam sebuah wawancara majalah tahun 1993, pemerintahan LDP membatalkan kasus pajak yang ditujukan pada Soka Gakkai. Dengan media yang bungkam, privasi Soka Gakkai mengenai seberapa besar asset dan kasus finansialnya tidak diekspos ke ruang publik.

KESIMPULAN
Kepentingan politis yang berusaha dicapai oleh Soka Gakkai dengan mempertahankan Komeito dalam koalisi dengan LDP adalah membuat Soka Gakkai mendominasi Jepang dan mewujudkan negara dan pemerintahan berdasarkan demokrasi Budha. Hal ini dilakukan dengan cara: (1) Berpartisipasi Dalam Pembuatan Keputusan dan Arah Kebijakan Negara, (2) Mengontrol media massa dan public figure. Sementara itu, kepentingan ekonomi yang berhasil dicapai oleh Soka Gakkai dalam koalisi Komeito dengan LDP adalah sekuritas aset dan kekayaan Soka Gakkai sendiri. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari kekuatan politik Soka Gakkai dalam mengontrol media. Media yang cenderung ‘diam’ karena tidak mau mengambil resiko dalam melayani protes Soka Gakkai dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya, tidak berusaha memberitakan skandal keuangan yang dialami oleh Soka Gakkai. Pragmatisme dan klientelisme politik terlihat antara Soka Gakkai, Komeito dan LDP yang saling menyokong satu sama lain dengan mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu. Keputusan Soka Gakkai untuk membentuk partai politik yang kerap dinilai salah dilakukan semata-mata untuk memenuhi kepentingan politik dan ekonomi dengan memanfaatkan pihakpihak tertentu sesuai dengan situasi. Begitu pula LDP yang tidak ambil pusing dengan beberapa skandal Soka Gakkai dan menggunakan kekuatan politiknya untuk menghentikan kasus atau penyidikan terhadap skandal Soka Gakkai. Hal ini juga memperlihatkan pola perilaku pragmatis LDP dalam mencapai tujuan untuk berkoalisi dengan Komeito yang mendapatkan dukungan penuh dari Soka Gakkai dan bisa menjamin suara mayoritas terbanyak bagi LDP di Diet.


KEPUSTAKAAN
Buku dan Jurnal
Akimoto Daisuke. (2013). A Theoretical Analysis of Japan’s Changing Security Identity. University Peace Research Institute.
Ashibe Nobuyoshi. (1992). Kenpogaku I. Tokyo: Yuhikaku.
Benedict, Timothy O. (2011). The Soka Gakkai's Pacifist Endeavours in Japanese Foreign Policy. Dalam Electronic Journal of Contemporary Japanese Studies. Diakses dari   <www.japanesestudies.org.uk/discussionpapers/ 2011/Benedict.html> pada tanggal 28 Maret 2016.
Boyd, J. Patrick., & Samuels, Richard J. (2005). Nine Lives?: The Politics Of Constitutional Reform In Japan. East-West Center Washington.
Chari, R.; Hogan, J.; Murphy, G. (2010). Regulating Lobbying: A Global Comparison. Manchester University Press.
Chinen, Mark A.  (2005). Article Nine of Japan's Constitution: From Renunciation of Armed Forces "Forever" to the Third Largest Defense Budget in the World. Michigan Journal of International Law 27.
Cheng, Tun-Jen., & Brown, Deborah A. (ed.). (2006). Religious Organizations And Democratization: Case Studies. Routledge.
Curtis, Gerald L. (2013). The Logic of Japanese Politics: Leaders, Institutions, and the Limits of Change. Columbia University Press.
Dawson, Lome L. (Autumn, 2001). The Cultural Significance of New Religious Movements: The Case of Soka Gakkai. Dalam Sociology of Religion Vol. 62, No. 3. Association for Sociology of Religion: Oxford University Press.
Doherty, Herbert J., Jr. (1963). Soka Gakkai: Religion and Politics in Japan. Dalam The Massachusetts Review, IV.
Eisenstadt, Shmuel., & Roniger, Luis. (1984). Patrons, Clients and Friends. Interpersonal Relations and the Structure of Trust in Society. Cambridge: Cambridge University Press. 
Elkevizth, Brian Henry. (2012).  From “Education Beyond Utility” to Utility for Legitimacy: Contemporary Opposition to Article 9 Revision in the Context of the Sōka Gakkai's Historical Development.Tesis magister Universitas Duke.
Erawan, I Ketut Putra. (2008). Clientelism, Political Survive, and Democratization. Makalah disampaikan dalam Intensive Short Course for Trainers on Human Rights and Democracy, di Universitas Gajah Mada, 2 – 11 Desember 2008. 
Eyfells, Eyjólfur. (2010). Japan’s Security Dilemma: Altering Article 9. Tesis Universitas Islandia.
Fallows, James. (1996). Breaking the News. New York: Pantheon Books.
Fisker-Nielsen, Anne Mette. (2012). Young Soka Gakkai Youth and Komeito: Religion and Politics in Contemporary Japan. London: Routledge.
Fisker-Nielsen, Anne Mette. (2013). Being Socially Engaged in Political World: Soka Gakkai as civil Society. Dalam Meidi Moksnes & Mia Melin (ed.). Faith in Civil Society: Religious Actors as Driver of Change (hal. 190-7). Uppsala: Uppsala Universitet.
Fisker-Nielsen, Anne Mette. (2010).  The Making of Representations of the Religious Adherent Engaged in Politics. Dalam Fieldwork in Religion. Equinox Publishing.
French, Howard W.  (14 November 1999). A Sect's Political Rise Creates Uneasiness in Japan. The New York Times.
Fujiwara Hirotatsu. (1970). I denounce Soka Gakkai. Tokyo: Nisshin Hodo.
Fukui Haruhiro. (1985). Political Parties of Asia and the Pacific. Greenwood Press.
Gross, Carl. (1970). Sokagakkai and Education. East Lansing: Michigan State University, College of Education, Institute for International Studies. 
Hardacre, Helene. (2006). State and Religion in Japan. Dalam Swanson P. and Chilson C. (ed.)., Nanzan Guide to Japanese Religion. Honolulu: University of Hawai’i Press, hlm. 274-88.
Hagstrom, Linus & Hanssen, Ulv. (2015). War is peace: the rearticulation of ‘peace’ in Japan’s China discourse. Dalam Review of International Studies Vol. 42/Issue 02/April 2016. British International Studies Association. 
Hayes, Louis D. (2002). Japan and the Security of Asia. New York: Lexington Books.
Hughes, Christopher W. (2005). Japan’s Re-emergence as a ‘Normal’ Military Power. New York: Routledge.
Hughes, Christopher W. (2009). Japan’s Remilitarization. London: Routledge.
Ikeda Daisaku. (1981). A Lasting Peace. New York: John Weatherhill, Inc.
Ikeda Daisaku. (2003). The New Human Revolution Vol. 9. CA: World Tribune Press.
Ikeda Daisaku. Complete Works Vol 1. Tohan Co., Ltd.
Inoue Nobutaka (ed.). (1990).  政治との交錯 (Keterlibatan dengan Politik), dalam 新宗教   (Kamus Agama Baru). Tokyo: Kobundo.
Itoh Mayumi. (Maret/April 2001). Japanese Constitutional Revision: A Neoliberal Proposal for Article 9. Dalam Comparative Perspective Asian Survey, Vol. 41, No. 2, 310-27.
Jiro Y. (1990). Political Reform, Tokyo: Iwanami Shoten, 1998, hlm. 168-86.
Junnosuke Masumi. (1995). Contemporary Politics of Japan. Dalam Lonny E. (trans.). Berkeley: University of California Press.
Kawanami Hiroko. (2001). Japanese Nationalism and Universal Dharma. Dalam Ian Harris (ed.). Buddhism and Politics in Twentieth Century Asia. Bloomsbury Publishing.
Kajimoto Tetsushi. (2 Maret, 2004). Komeito Torn Between LDP, Soka Gakkai. Japan Times. 
Kisela, Robert. (1994). Soka Gakkai, Komeito, and the Separation of Religion and State in Japan. Nanzan Bulletin 18/1994. Diakses dalam <https://nirc.nanzan-u.ac.jp/nfile/1880> pada 8 November 2015 17:31 WIB.
Kira Yōichi. (1986). Sōka Gakkai nanatsu no daizai: jitsuroku (Tujuh Kejahatan Soka Gakkai). Tōkyō: Shin Nihon Shuppansha.
Kumagai Kazunori. (2000). Value-Creating Pedagogy and Japanese Education in The Modern Era (hlm. 29-45). Dalam Ideas and influence of Tsunesaburo Makiguchi: Special issue of the Journal of Oriental Studies, 10, 29-45. Tokyo: The Institute of Oriental Philosophy.
Martin, Craig. (2008). Binding the Dogs of War: Japan and the Constitutionalizing of Jus Ad Bellum. University of Pennsylvania Journal of International Law Vol 30, Issue 1. Diakses dari <http://scholarship.law.upenn.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1139&con text=jil> pada tanggal 11 Maret 2016 20:30 WIB.
Martin, Craig. (27 Juni, 2014). Reinterpreting Article 9 Endangers Japan’s Rule of Law. Japan Times. 
Mason, T. David. (Januari 1986). The Breakdown of Clientelism in El Salvador. Dalam Comparative Political Studies Vol. 18, 487-518. Sage Publications.
Mclaughlin, Levi. (2012). Did Aum Change Everything? Japanese Journal of Religious Studies. Vol. 39 Issue 1, 51-75.
McNelly, Theodore. (1972). Politics and Government in Japan Second Edition. Houghton Mifflin Company.
Metraux, Daniel. (2012).  Dalam Wellman, James K. Lombardi, Clark B (ed.). Religion and Human Security: A Global Perspective. New York: Oxford University Press.
Middlebrooks, William C. (2008). Beyond Pacifism: Why Japan Must Become a Normal Nation. Westport, Connecticut: Greenwood Publishing Group.
Monsterlet, Jean. (Desember 1963). A Propos Du Soka Gakkai. Etudes 319.
Murata Kiyoaki. (1969). Japan’s New Buddhism, An Objective Account of Soka Gakkai. New York: Weatherhill Book.
Nasu Hitoshi. (2004). Article 9 of the Japanese Constitution: Revisited in the Light of International Law, 9. Dalam Journal of Japanese Law 50.
Okuyama Michiaki. (2010). Soka Gakkai as A Challenge to Japanese Society and Politics. Dalam Journal of Politics and Religion vol. 4, no. 1, 83-96.
Olson, M. (1965). The Logic of Collective Action. Cambridge: Harvard University Press.
Palmer, Arvin. (1971). Buddhist Politics: Japan's Clean Government Party.  Nijhoff.
Panton, Michael A. (2011). Politics, Practice and Pacifism: Revising Article 9 of the Japanese constitution. Dalam  Asian-Pacific Law & Policy Journal Vol. 11:2.
Peikoff, Leonard. (1983). The Ominous Parallels. Plume. 
Peikoff, Leonard. (1990). Pragmatism Versus America dalam The Ayn Rand Letter, III, 17, 1. Second Renaissance Pr .
Piattoni, Simona (2001). Clientelism in Historical and Comparative Perspective. Dalam Simona Piattoni (ed.). Clientelism, Interests, and Democratic Representation. Cambridge: Cambridge University Press.
Peters, Benjamin A. (2010). Democratic Antimilitarism in Postwar Japan: Institutions and the Culture of Peace. Disertasi The Graduate SchoolNew Brunswick Rutgers, The State University of New Jersey.
Rand, Ayn. (1963). For the New Intellectual: The Phylosophy of Ayn Rand. Signet. 
Sado Hirano. (2005). Komeito – Soka Gakkai no Shinjitsu [Kenyataan Tentang Komeito – Soka Gakkai]. Tokyo: Kodansha.
Samuels, Richard J. (2007). Securing Japan: Tokyo’s Grand Strategy and the Future of East Asia. Ithaca, NY: Cornell University Press.
Schlichtman, Klaus. (2009). Shidehara Kijűrô, Pacifism and the Abolition of War. Dalam Japan In The World. Toronto: Lexington Books.
Shiohara Masayuki. (2011). The 80 years of Soka education: The birth of its word and the vision of school foundation.  Dalam Soka Education, 5, 238-57.
Shimazono Susumu. (2004). Soka Gakkai and the Modern Reformation of Buddhism. Dalam From Salvation to Spirituality: Popular Religious Movement in Modern Japan. Melbourne: Trans Pacific Press.
Eto Shunsuke., & Wajo Hichiri. (2003). Jiminto – Soka Gakkai – Komeito: Kokumin Fuzai no Renritsu Seikken – Hishi [LDP-Soka Gakkai-Komeito: Sejarah Rahasia Koalisi Pemerintahan Tanpa Melibatkan Rakyat]. Gakushunotomo Press.
Shidehara Kijūro. (1998). 外交の五十年 (50 Tahun Diplomasi). Tokyo; Nihon Tosho Sentaa.
Stone , Jacqueline I. (2003). Original Enlightenment and the Transformation of Medieval Japanese Buddhism (Studies in East Asian Buddhism). University of Hawaii Press.
Takai Susumu. (1995). Japan: A Hesitant but Interested Partner. Dalam International Defense-Review Defense 95. 
Tamaru  N. (2000). Soka Gakkai in Historical Perspective. Dalam D. Machacek & B. Wilson (ed.). Global Citizens: The Soka Gakkai Buddhist Movement in the World, 15-41. New York: Oxford University Press, 2000, hlm. 1541.
Tsuji Yuichiro. (2015). Amendment of the Japanese Constitution― A Comparative Law Approach. Dalam Nanzan Rivew of American Studies Vol. 37.
Victoria, Brian Daizen. (15 September 2014). Sōka Gakkai Founder, Makiguchi Tsunesaburō, A Man of Peace? The Asia-Pacific Journal, Vol. 12, Issue 37, No. 3.
White, James W. (1970). The Sokagakkai and Mass Society. Stanford, Calif.: Stanford University Press.
Williams, Paul. (1989). Mahāyāna Buddhism: the doctrinal foundations. Routledge.
Yamada Naoki. (2004). 創価学会とは何か (Soka Gakkai Itu Apa?). Tokyo: Shinkosha. 
Publikasi Elektronik
マッカーサー3原則「マッカーサーノート」 1946 2 3. (t.t.). Diakses dari <http://www.ndl.go.jp/constitution/shiryo/03/072shoshi.html> pada tanggal 16 April 2016.
公明代表 ‘断固反対自民が集団的自衛権行使容認なら. (6 Juli, 2013). Nihon Keizai Shimbun.  
前分 (Pembukaan). Dalam日本国憲法 (Undang-Undang Negara Jepang). (t.t.). Diakses dari <http://www.houko.com/00/01/S21/000.HTM> pada tanggal 21 September 2015 13:45 WIB.
憲法9条と自衛隊の現実 (Konstitusi Pasal 9 dan Realita Pasukan Bela Diri). (t.t.). Diakses dari <http://www5a.biglobe.ne.jp/~katsuaki/sesou64.html> pada tanggal 9 September 2015 pukul 23.53 WIB.
Abe’s confidence wins over divided Komeito members – The Japan News. (1 Juli 2014). Top Headlines Daily. Diakses dari <http://topheadlines daily.com/abes-confidence-wins-over-divided-komeito-members-thejapan-news/feed/> pada tanggal 9 April 2016 11:52 WIB.
Asahi Shimbun Special Public Opinion Poll. (4 Juni 2014). diakses dari <http://mansfieldfdn. org/program/research-education-and-communication/asian-opinion-poll-database /asahi-shimbun-special-public-opinionpoll-040714/> pada tanggal 22 Februari 2016 13:25 WIB.
Balkin, J.M. (1998). How Mass Media Stimulate Political Transparency, Yale University. Diakses dari <http://www.yale.edu/lawweb/jbalkin/articles/ media01.htm#_edn1> pada tanggal 15 Mei 2016 10:06 WIB.
Christian Research Institute. (10 Juni 1999). Infighting, Division, and Scandal Afflicting Nichiren Soshu Buddhist. Diakses dari < http://www.equip.org/ article/infighting-division-and-scandal-afflicting-nichiren-shoshubuddhists/>  pada tanggal 13 Mei 2016 12:30 WIB.   
Cult Education Institute. Diakses dari <http://forum.culteducation.com/ read.php?5,87661,98274> pada tanggal 16 Mei 2016.
Desmond, Edward W. (20 November, 1995). Growing a Revelation about the Complicated and Sinister Nexus of Politics and Religion. TIME Magazine, Vol. 146, No. 21. Diakses dari <http://www.toride.org/edata/ gpower.html>  pada tanggal 15 Mei 2016 09:07 WIB.
Hendrajit. (15 November 2010).  Mewaspadai Kebangkitan Fasisme dan Militerisme. Dalam Tabloid Diplomasi edisi November 2010. Diakses dari <http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/115-november2010/982-mewaspadai-kebangkitan-fasisme-dan-militerisme.html> pada 3 November 2015 04:55 WIB.
Hookway, Christopher. (2013). Pragmatism. Dalam Edward N. Zalta (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Winter 2013 Edition). Diakses dari <http://plato.stanford.edu/archives/ win2013/entries/pragmatism/> pada 6 April 2016, 12:15 WIB.
Hypocrisy Runs Deep Throughout The Soka Gakkai – A Toda Example. (t.t.). Diakses dari <https://m.reddit.com/r/sgiwhistleblowers/comments/4iashr/hypocrisy_runs_deep_throughout_the_soka_gakkai_a/> pada tanggal 20 Mei 2016.  
Japan Approves Constitution Steps. (14 Mei 2007). BBC News. Diakses dari <http://news.bbc.uk/2/hi/asia-pacific/6652809.stm> pada tanggal 14 April 2016 13:08 WIB.
Kajimoto Tetsushi. (18 November 2004). Komeito Torn Between Two Masters. Japan Times. Diakses dari<http://www.japantimes.co.jp/news/2004/11/ 18/national/new-komeito-torn-between-two-masters/#.VwGzUJx96wp> pada  tanggal 4 April 2016 13:01 WIB.
Komeito – Clean Government Party. Global Security. (t.t.). Diakses dari <http://www.globalsecurity. org/military/world/japan/party-komeito.htm> pada tanggal 12 Maret 2016.
Komeito Removes ‘New’ from Party Name. (25 September 2014). The Japan Times. Diakses dari <http://www.japantimes.co.jp/news/2014/09/25/national/politics-diplomacy/komeito-removes -new-party-name/#.V3SvB9J96 wp> pada tanggal 21 November 2015 17:15 WIB.
Major Security Shift: Local New Komeito officials oppose collective self-defense. (29 Juni 2014). Asahi Shimbun. Diakses dari  <https://web.archive.org/web/20140727023918/http:/ajw.asahi. com/arti cle/behind_news/politics/AJ201406290025> pada tanggal 11 September 2015.
McDermid, Douglas. Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses dari <http://www.iep.utm. edu/pragmati/> pada 6 April 2016, 12:25 WIB.
Millet, Michael. (1 Juli 2000). Who’s Got Power in Japan. Sidney Morning Herald. Diakses dari <https://www.newspapers.com/newspage/ 120399588/> pada tanggal 7 Juni 2016 08:47 WIB.  
On the Soka Gakkai Censorship of the Media. (t.t.). Diakses dari <https://www.reddit.com/ r/sgiwhistleblowers/comments/4bp1xo/on_the_soka_gakkais_censorship_of_the_media/>  pada tanggal 10 Mei 2016 11:55 WIB.
Public Library of US Diplomacy. (t.t.). Soka Gakkai Group Moving To Support Sending Japanese Troops Abroad. Diakses dari <https://wikileaks.org/ plusd/cables/08TOKYO284_a.html>  pada tanggal 15 Mei 2016 17:09 WIB.
Reischauer Institute of Japanese Studies, Harvard University. (2007). Japanese Studies: Constitutional Revision Research Project. Diakses dari <https://web.archive.org/web/20070518104415 /http:/www. fas.harvard.edu/~rijs/c rrp/index.html>  pada tanggal 30 Maret 2016 13.45 WIB.
Reischauer Institute of Japanese Studies, Harvard University. (2007). Citizens' Groups/NGOs. Diakses dari <https://web.archive.org/web/20070621185921/http:/www.fas.harvard.edu/~rijs/crrp/web _archive/ngos.html> pada tanggal 2 April 2016 00:05 WIB.
Rogow, Mark. (2003). Soka Gakkai Owned of Affiliated Companies. Diakses dari <http://markrogow.blogspot.com/2013/07/soka-gakkai-owned-oraffiliated.html?m=1> pada tanggal 4 Juli 2016 15:31 WIB.
Shinzo Abe’s Constitutional Ambitions. (Juni 2014). The Diplomat. Diakses dari <http://thediplomat. com/2014/06/shinzo-abes-constitutional-ambitions/>  pada tanggal 5 April 2016 08:12 WIB. 
Smith, Martin. (Produser). (14 October 1995). The Chanting Millions. BBC’s News. (Skrip siaran televisi). Diakses dari <http://www.toride.org/edata/ bbc.html> pada tanggal 9 April 2016 09:48 WIB.   
Soble, Jonathan. (16 Juli 2015). Japan Moves to Allow Military Combat for First Time in 70 Years. The New York Times. Diakses dari <http://www.ny times.com/2015/07/17/world/asia/japan-lower-house-passes-bills-givingilitary-freer-hand-to-fight.html?_r=0> pada tanggal 13 Februari 2016.
Soka Gakkai a force to be reckoned with in Abe's plan to reinterpret Constitution. (May 18, 2014). Diakses dari <http://www.japanbullet.com/news/sokagakkai-a-force-to-be-reckoned-with-in-abe-s-plan-to-reinterpret-constitu tion> pada 10 Oktober 2015 17:54 WIB.
Soka Gakkai Tried to Censor Foreign Media but Failed to Stop Broadcast of BBC’s Chanting Millions. (4 November 1995). Japan Times. Diakses dari <http://culteducation.com/group/940-soka-gakkai/7672-soka-gakkaitried-to-censor-the-foreign-media-but-failed-to-stop-broadcast-of-bbcsthe-chanting-millions-.html>  pada tanggal 16 Mei 2016 15:48 WIB. 
Soka Gakkai Uses Celebrities for Its 'Secret Revolution'. (23 Maret, 2005). Japan Today. Diakses dari <https://culteducation.com/group/940-soka-gakkai/ 7678-soka-gakkai-uses-celebrities-for-its-secret-revolution.html> pada tanggal 2 Mei 2016.
Soka Gakkai Warms A Coalition Plan. (12 Mei 1999). The Japan Times. Diakses dari <http://www.japantimes.co.jp/news/1999/05/12/national/soka-gakkai -warms-to-coalition-plan/#.V3TJkdJ96wp> pada tanggal 17 Mei 2016.
Sterngold, James. (1 Agustus 1991). More Names Emerges in Japanese Stock Market Scandal. The New York Times. Diakses dari <http://www.nytimes. com/1991/08/01/business/more-names-emerge-in-japanese-stock-marketscandal.html>  pada tanggal 31 Mei 2016 12:35 WIB. 
The High Road to a Century of Peace. (25 Desember 2001). Seikyo Shimbun. Diakses dari <http://www.daisakuikeda.org/sub/resources/interview/ interview2/2001seikyo.html> pada tanggal 12 Mei 2016 16:00 WIB.
Three Basic Points Stated by Supreme Commander to be "musts" in Constitutional Revision. (t.t.). Diakses dari <http://www.ndl.go.jp/ constitution/shiryo/03/072/072tx.html > pada 30 Juni 2016 8:00 WIB.
Watanabe Teresa. (15 Maret 1996). Japan’s Crusader or Corrupter. Los Angeles Times diakses dari < http://articles.latimes.com/1996-03-15/news/mn47383_1_soka-gakkai> pada tanggal 19 April 2016 23:05 WIB.
Why Politics? Dalam Soka Gakkai Controversies Explored. (t.t.). Diakses dari <http://www.sokaissues.info/home/why-politics.html> pada tanggal 7 April 2016 12:32 WIB. 

Tuesday, October 11, 2016

MUSIC, MUSIC, MUSIC!!!

"One good thing about music, when it hits, you'll feel no pain."
Bob Marley

Yak, gara-gara banyak masyarakat Indonesia sempet bereaksi cukup beringas menanggapi kemunculan lagu ‘BAD’ yang dinyanyiin sama Young Lex dan Awkarin, gue jadi inget sama tulisan gue tentang musik yang pernah masuk di majalah sekolah pas gue SMP. Ya Tuhan, itu udah berapa tahun yang lalu ya, dan coret-coretannya masih ada di balik kutang jadi gue pernah post di blog gue yang lama, dan sekarang gue repost di blog gue yang ini.

Lo punya blog selain ini?
Iya, pas jaman gue masih kuliah di Universitas Brawijaya, gue punya blog yang isinya adalah sampah ocehan absurd gue, tugas kuliah (yang gue pamerin), becandaan dan lawakan tentang temen-temen kuliah, dan hal-hal lain yang ga jelas. Jadi gue hentikan ngeblog selama beberapa saat karena lulus S1 gue udah sibuk jadi guru dan siap-siap ngambil pascasarjana di UI. Mungkin sekarang blog itu udah penuh sarang laba-laba saking lamanya engga gue update.

Trus, lo sekarang mau ngomongin lagunya Young Lex sama Awkarin?
Tentu saja TIDAK. 
Tadi itu gue Cuma basa-basi ngomong kalo itu manusia berdua yang nyanyiin lagu dan akhirnya dapet dislike 3 kali lipat lebih banyak daripada jumlah like-nya (entah mungkin sekarang udah jadi 4 kali lipat) menuai reaksi dari masyarakat yang protes karena banyak hal, yang katanya instrumennya sama kaya Blessing-nya Big Sean lah, ada yang bilang mirip kaya Doctor Pepper-nya CL lah, yang liriknya merupakan pembenaran dari kenakalan mereka lah, yang memberi efek negatif lah, ada yang mempermasalahkan karena engga dikasih age restriction lah, dll. Dan itu yang bikin gue pengen ngobrolin musik di sini. Tolong, jangan nanya mulu sebelum gue beres ngetik ulang artikel gue.

Faktanya, orang orang bilang kalau musik itu bagian dari hidup kita. Emang nggak salah sih, soalnya menurut psikolog asal Inggris (yang sampai sekarang gue lupa namanya) bilang bahwa pada umumnya manusia punya perasaan musikal. Pernah denger kan kalo bayi yang ada dalam kandungan nyokapnya bakalan terpengaruh sama musik apa aja yang didengerin nyokapnya. Makanya banyak tante tante hamil yang demen dengerin musik klasik buat pertumbuhan dan perkembangan otak si kecil.

Faktanya lagi, musik jadi alat komunikasi non verbal yang universal. Banyak banget orang yang suka sama sebuah lagu tanpa peduli dengan bahasa apa lagu itu dinyanyiin. Itulah uniknya, apapun bahasanya, minumnya teh botol sosro, kita tetep suka asalkan melodinya pas di kuping dan ngegaet hati. That's why musik jadi alat perdamaian. Musik bisa kampanye damai? Maksudnya, liriknya menggugah perdamaian. Nah, abang abang di Coldplay dan Blue juga demen nyanyiin lagi beginian.

Fakta ketiga, musik itu pengaruhnya sampe ke otak sampe ke hormon. Coba dengerin Hips Don't Lie-nya Shakira atau Lose My Breath-nya tante tante Destiny's Child. Gak tahan pengen goyang deh. Kenapa? Emang, nada nada suara yang ada dalam musik tertentu bakan ngeaktifin sejumlah titik pada sistem syaraf manusia yang berhubungan langsung dengan pusat pusat mtivasi loh! Jadi bisa membangkitkan perasaan perasaan tertentu gitu. Atlet-atlet yang mau tanding biasanya di support pake theme song-nya sendiri sendiri biar semangat. Nah terus buat suasana khidmat kayak upacara pemakaman pahlawan, kita bisa dibikin merinding ngeri dengerin lagu Gugur Bunga.

Then, dari penelitiannya Om Julius Portnoy; musik itu bisa mengubah laju metabolisme badan dan punya pengaruh ke energi juga. Bisa dibuktikan! pas kalian baru kelar kuliah, sekolah, atau les, capek dan langsung leha leha sambil dengerin musik kalem, nggak usah nunggu lama lama, kalian pasti zzzzzzz....zzzzzz. Ketiduran!

Nggak aneh kok, musik emang ngebawa efek. Musik yang kalem ya menenangkan soalnya merangsang terbentuknya hormon endorfin. Kalo dihasilkan dalam jumlah banyak, perasaan rileks yang ditimbulkan akan menjurus ke arah ngantuk, guys. Semacam musik klasik, kalo didengerin selama 30 menit, bakalan menghasilkan efek yang sama dengan minum satu dosis valium. Nggak heran lagi kan kalo banyak pasien yang ngalamin tingkat stres tinggi dianjurkan buat terapi pake musik.

Pernah denger istilah musik destruktif? Kenal kan sama musisi yang diembel-embeli peringatan di albumnya pake kalimat 'Parent Advisory, Explicit Content'. Contohnya kayak Mas Eminem, Marylin Manson, Limp Bizkit dll. Gara garanya sih dinilai menawarkan musik destruktif yang punya efek merusak generasi muda, guys. But, ada yang bilang nggak ada yang namanya musik destruktif. Musik mereka yang bagi sebagian orang kedengeran kacau balau gak karu karuan sampe bikin genteng rumah goyang justru jadi terapeutik buat sebagian orang lain. Itu mah cuma masalah toleransi kuping aja sih.
 Kalo ada lirik yang nyeleneh dan rada rada ancur bahasanya, menurut penelitian, efeknya bukan lebih karena liriknya tapi ke ritme dan tempo musiknya tadi.
  
Meskipun penelitian bilang kalo efeknya lebih karena ritme, kok gue engga sependapat ya. Logikanya, ketika musik dijadikan alat untuk menyerukan perdamaian lewat liriknya, berarti hal-hal negatif yang diserukan lewat lirik lagu, juga berpotensi untuk mensugesti pikiran orang untuk melakukan sesuatu yang negatif. But, kita juga sebagai pendengar musik kudu ngerti dong mana yang bener dan mana yang salah. Kayaknya nggak lucu aja kalo kita yang udah pada gede gini ikut melakukan tindakan yang nggak baik gara gara denger lagu yang liriknya aneh aneh padahal kita paham kalau itu nggak benar. Kalo menurut CA Torres, yang rentan kena pengaruh negatif dari musik tuh justru orang yang nggak sadar sama apa yang dia dengerin, guys.

Jadi lagunya Young Lex sama Awkarin itu merusak gak?
Yah, kenapa lo jadi ngebahas mereka lagi? Gue ngga hobi dengerin lagu-lagu mas mas yang punya distro itu, dan gue karena udah dewasa, gue nggak terpengaruh apa-apa termasuk nakal ‘yang dalam batas wajar’ atau apalah. Buat gue, kalo bisa memilih, gue mending memilih untuk enggak nakal (meskipun dalam batas wajar dan batasnya dimana gue nggak tau). And, FYI memang gue anak baik, makanya gue waktu nonton parodinya yang judulnya ‘GOOD’ gue ngakak karena liriknya kaya balada idup gue #sombongdalambataswajar

Kesimpulannya balik lagi ke yang Torres bilang bahwa yang rentan kena pengaruh negatif dari musik tuh justru orang yang nggak sadar sama apa yang dia dengerin. Nah, dari sini, gue agak kuatir kalo anak ABG dan para remaja belom mateng yang denger bakalan menelan mentah-mentah liriknya sementara liriknya (yang katanya adalah curhat doang) adalah pembenaran kelakuan nakal dan berisi beberapa kalimat yang engga beres.

Kalimat engga beres?
Iya, coba liat:
Memang gue anak nakal
Seringkali ngomong kasar
Tapi masih batas wajar
Gimana caranya ngomong kasar yang wajar dengan frekuensi sering?

Loe semua nilai kita dari luar
Tatoan tapi tak pakai narkoba
Jangan nilai kami dari covernya
I know that tattoo is a form of art. Tapi kalimat baris kedua itu, kenapa menyandingkan tattoo dan narkoba dengan kata ‘tapi’ seolah-olah umumnya yang tatoan itu pada make, trus bikin pengecualian terhadap diri mereka bahwa mereka tatoan tapi engga pake narkoba.

Don’t judge a book by its cover?
Let us say, lo ke perpus, butuh buku kalkulus buat garap tugas, apakah mungkin lo ngambil/minjem buku yang sampulnya bertuliskan “Budidaya Tanaman Tembakau”? Lo pasti ngambil buku yang judulnya ada hubungannya dengan kalkulus. See, cover does matter. And now, lo ngeliat orang sering melakukan hal yang di negara lo dianggap tabu, ngumpat pake nama penghuni kebon binatang, suka nyebut organ vital, doyan hura-hura, apa lo sempat-sempatnya berusaha berpikir bahwa itu Cuma luarnya, dalemnya pasti dia anak baik, rajin berderma ke panti asuhan, sering dapet beasiswa, hobi mengkritisi perekonomian negara? Sempet lo mikir gitu?

Kata fansnya sih lirik itu maksudnya mending engga munafik, mending berantakan tapi terang-terangan/ga ditutup-tutupi daripada sok berpenampilan alim tapi bejat. Menurut lo gimana?

Kalo lo masih belom mateng, atau masih ABG, interpretasi kaya begitu terasa benar. Lalu dengan mudah kalian amini. Tapi bagi kami yang beberapa tahun lebih tua dan bisa mikir lebih panjang kami akan bilang, “Mendingan enggak dua-duanya. Mending jadi anak yang berpenampilan baik dan berperilaku baik juga. Ngapain sih bikin opsi yang dua-duanya negatif?"

Intinya, cover itu penting dan asset lo dalam memperoleh penilaian dan kesan baik di benak orang yang lo temui. Nggak ada kan perusahaan yang memberikan dress code bebas saat mau interview calon karyawan? Pasti formal rapi kan?! Emang lo mau berangkat interview di perusahaan/instansi pake daster atau sarung? Trus lo waktu dilarang masuk sama security, lo bakal ngotot, “Pak, jangan nilai saya dari covernya, yg penting kan kemampuan saya!” Gitu?

Dan silahkan sukai mereka
Yang berlaga baik didepan kamera
Ini lagi?!
Ya jelas di depan kamera orang harus terlihat baik, secara ditonton sama orang lain, apalagi public figure. Itu wajar. Lo ditonton banyak orang, dan berpotensi meng-influence khalayak dengan gaya rambut, fashion, gaya bicara, dan lain-lain, mustinya lebih mawas diri. Menurut gue, sebagai public figure, model, aktris/actor, penyanyi, semuanya menjual karya dan bakat, bukan menjual kehidupan pribadi atau aib diri. Memang banyak musisi hebat yang menjadikan pengalaman pribadi sebagai salah satu karya. Tapi dikemas  dengan cara yang baik, bukan pamer kesalahan lalu minta dimaklumi. Dengan jadi public figure lo udah punya tanggung jawab moral, jadi yang terlihat baik di depan kamera bukan berarti munafik.

Jangankan di depan kamera, lo pergi kuliah aja musti nyisir rambut dulu kan?! Apakah itu namanya belagak kecakepan? Orang lain, yang melihat kita harus kita hormati pengelihatannya, pendengarannya dan perasaannya. Lo nggak bisa bilang ke orang lain, “Kalo lo ngga suka dandanan gue ya nggak usah diliat, Nj*ng!” sementara lo seliweran di depan dia. Kecuali kalo lo siluman, bisa seliweran tanpa keliatan. Kalo suka neriakin organ vital atau nama hewan, mending lo jadi orang biasa aja yang engga diliat orang senusantara. Tandanya lo ga siap jadi public figure.

Gue jadi inget salah satu pepatah Jawa:
Ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana.
Peribahasa ini ngingetin kita supaya ati-ati sama apa yang kita ucapkan dan apa yang nempel di badan kita. Orang lain menilai kita dari apa dan bagaimana kita berucap plus apa yang kita kenakan. Apa iya, orang bakalan menghargai dan menghormati orang yang doyan ngomong kasar?

Bukannya kita musti menghargai karya orang lain?
Bukan berarti kita dilarang mengkritik kan?! Hayooo.

Tapi fansnya biasanya bilang gini, ‘Emang lo udah bisa bikin lagu? Karya lo apa?’
Ahahahaha, komentator sepak bola belum tentu bisa main bola sejago Christiano Ronaldo kan?! Gue bukan haters, tapi gue suka ketawa geli aja kalo ada orang dibilangin, eh malah bilang begitu. Coba nanya sama para fans, ‘Lo pernah makan bakso yang engga enak?’ kalo dia jawab, ‘Pernah’. Nah lo tanya lagi, ‘Emang lo udah bisa bikin bakso? Masakan lo apa?’ Atau tanya kalo dia masih sekolah, ‘Lo punya guru yang ngajarnya payah/ga enak?’ dia pasti jawab, ‘Punya, guru mata pelajaran matematika (misal)’. Lo bales tuh, ‘Kurang ajar lo menghina kemampuan guru ngajar, emang lo udah bisa ngajar matematika? Ijasah lo apa?’

Ini kenapa gue ngajarin orang berantem deh? Cara terbaik menghadapi fans-fans yang masih labil begitu mendingan gak usah diajak debat karena orang lain engga bakalan bisa ngebedain mana yang sebenernya bego.

Ada juga yang begini nih, ‘Ah, kaya lo nggak pernah bikin dosa aja? Kaya lo paling suci/sempurna aja?’
Balasan final fans fanatik yang nyaris mati kutu biasanya begini kalo dinasehatin pake logika yang bener. Tapi gue engga pernah nasehatin sih, males. Gue tonton aja komen-komennya berantem ama haters sambil ngopi kalo gue lagi butuh hiburan. Lucu sih.

Jawabannya, everybody makes mistakes. Nggak ada orang yang suci adik-adik… But, you’ll learn something priceless from some mistakes you’ve ever done. It’s good to make mistakes, then regret about it and promise to never ever do it again another day, instead of being proud of it. Gue punya salah juga, tapi gue akui itu salah dan jangan sampe gue mengulang kesalahan itu, bukannya bangga melakukan kesalahan, trus gue ulang-ulang sambil nyari pembenaran, bisa-bisa hidup gue rusak permanen #amitamit

Udah ah, ntar gue dikira haters yang pengen membedah lagu trus si empunya lagu kegeeran lagi. Menanggapi fenomena kaya gini sih gue cuma bisa berdoa ya semoga ABG dan remaja kita engga salah milih panutan.

Dear teenagers, respect your parent (don’t make them ashamed of you), respect your friends (don’t make them regret to have you as their friend), respect others (don’t make others ask why God creates you), respect yourself, be an educated happy healthy smart human being, for your future’s sake.

With love,

Me


Wednesday, October 5, 2016

INSYA ALLAH


Sebuah cara baru untuk membelot dari kewajiban memenuhi janji??!!

Kalo lo nanya gue agama gue apa, biar gue jawab, gue beragama Islam dan tolong jangan berusaha menarik hubungan antara agama gue dengan nama belakang gue yang ‘katanya’ identik dengan nama orang non muslim.

Gue muslim dan gue enggak suka dengan muslim jaman sekarang yang kalo janji menggunakan ‘Insya Allah’-nya sebagai legitimasi atas tidakterpenuhinya janji tersebut pada hari H. Gue juga pernah berantem sama beberapa orang teman perkara ‘Insya Allah’ ini ketika mereka menjanjikan gue sesuatu. Bukan yang berantem gede, perang mulut atau gimana, Cuma gue udah enggak minat aja ber- ‘teman baik’ karena terlalu seringnya mereka mengingkari janji. Dan kalian tau apa yang mereka bilang ketika janji tersebut tidak terlaksana?

“Kan gue kemaren bilangnya Insya Allah, Kik….”
“Insya Allah gue dateng. Insya Allah lho ya, jadi bisa aja gue engga dateng.”
“Aduh, gue nggak ikut ya, kan gue bilang Insya Allah, jadi nggak pasti gue bisa dateng atau enggak.” (padahal pada hari H dia bilang gitu, gue udah rapi jali nungguin dia 2 jam di tempat janjian *lari ke pojokan lalu meraung-raung sambil peluk dinding*)

Pantesan aja sih, guru sastra Inggris gue jaman SMA bilang, “Jangan terlalu berharap sama ‘Insya Allah’-nya orang Indonesia. ‘Insya Allah’-nya orang Indonesia itu udah menyimpang dari makna Insya Allah yang sebenernya.”

Dan sejak SMP, beberapa temen gue bilang, “Halah, Insya Allahnya orang Indonesia itu artinya 99% engga jadi melakukan hal yang dia janjiin.”

Hahahahahahaha. Ketawa miris.

Memang ENGGAK semua orang menyalahgunakan kata Insya Allah, tapi ADA saja muslimin dan muslimah yang nggak ngerti makna Insya Allah dan akhirnya salah dalam menggunakannya. Jadi apa yang pengen gue sampein sekarang? Mendoktrin kalian untuk tidak menggunakan syariat Islam (bagi yang muslim) ketika berjanji atau berencana akan melakukan sesuatu?

TIDAAAAK. BUKAN.

Gue Cuma pengen meluruskan kesalahkaprahan yang terjadi dan mengembalikan citra dan kesucian kalimat Insya Allah yang kini identik dengan janji beraroma PHP doang.

Jadi, mari kita tilik makna 'Insya Allah' itu sebenarnya.

Oke, emang, kita nggak pernah tau apa yang terjadi lusa, besok, atau bahkan sejam kedepan. Makanya kita juga kudu menyadari kalo kita nggak bisa ngasih jaminan 100% bahwa kita bakalan memenuhi janji kita ke orang lain. Karena semua yang terjadi kan atas ijin Allah SWT. Allah SWT udah memperingatkan kita tentang hal ini dalam Al Qur’an surat Al Kahfi: 23-24 yang artinya:

“Dan jangan sekal-kali kamu mengatakan tentang sesuatu ‘sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali dengan menyebut Insya Allah”

Apa sih arti Insya Allah?
Insya Allah berarti ‘jika Allah menghendaki’. Jadi guys, intinya ayat ini ngasih tau kita kalo nggak ada hal yang bisa kita lakukan tanpa ijin Allah SWT sang Maha Berkehendak. Serapi dan sematang apapun rencana kita, tetep aja Allah yang ketok palu atas terlaksana atau tidak terlaksananya rencana lo. Makanya, tau diri dong jadi manusia #eeh

Oke, oke, serius ini.

Jadi guys, Insya Allah bukan ucapan untuk melegalkan janji yang tidak ditepati, atau melepaskan tanggung jawab yang sudah disepakati. Tapi ada yang menggunakan ‘Insya Allah’ sebagai penolakan halus atau pernyataan halus supaya lawan bicara kita tidak tersinggung atau kecewa saat permintaannya nggak bisa dipenuhi. Ada juga orang-orang yang bilang ‘Insya Allah’ untuk menjanjikan sesuatu yang dia tahu kecil sekali kemungkinannya untuk ditepati (yang mana hal ini jelas SALAH pake BESAR).

Yang namanya ‘Insya Allah’ justru merupakan ikrar bahwa kita memasrahkan janji yang kita buat akan di jamin oleh Allah agar terlaksana APABILA NIAT KITA DALAM BERJANJI DAN USAHA KITA SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MEWUJUDKANNYA.

Paham gak? Biar gue sederhanakan lagi: Insya Allah itu digunakan pada saat lo berjanji dan lo udah berniat sungguh-sungguh merealisasikan janji itu disertai keyakinan bahwa Allah akan membantu mewujudkannya. Tapi lo tetep berpasrah pada takdir Allah (terkait janji lo bisa terlaksana atau enggak). Yang penting lo udah niat dan berusaha memenuhi janji itu.

Jadi lo jangan bilang Insya Allah kalo lo sendiri sebenernya tau bahwa lo nggak bisa atau nggak mau memenuhi janji itu karena suatu sebab. Misal, lo diajakin temen lo ke perpus bareng besok, tp lo udah tau kalo besok lo nemenin nyokap arisan. Lo jangan bilang Insya Allah, bilang aja lo nggak bisa. Jangan gara-gara lo engga enak hati sama temen lo ini, trus lo menjadikan Insya Allah sebagai tameng ketidakhadiranmu di perpus keesokan harinya.

Atau lo jangan menyanggupi ajakan/permintaan seseorang pada saat lo NGGAK YAKIN bisa memenuhinya. Misal, lo diajak dateng ke seminar tapi pada hari yang sama lo udah janjian sama temen lo yang lain jenguk orang di rumah sakit dan lo gak tau waktunya keburu apa enggak buat datang ke seminar setelah pulang dari rumah sakit. Jangan bilang ‘Insya Allah’, bilang aja sejujurnya kalo lo nggak tau pasti bisa dateng atau engga. Kalo lo emang udah niat dan berencana untuk berusaha dateng ke seminar, bilanglah Insya Allah. Kalau pada hari H, setelah berpeluh-peluh ngebut biar ga terlambat, ternyata waktunya engga keburu, mending lo cepet-cepet telepon temen lo dan bilang kalo lo masih dijalan atau kejebak macet. Jangan biarin temen lo menunggu. Jangan hanya berbekal ‘Insya Allah’ lo jadi merasa mendapat pemakluman dalam melanggar janji (walaupun ada alasannya). Mending cepet-cepet kasih kabar, daripada temen lo telat atau nggak jadi ikut seminar gegara nungguin lo.

Inget ya guys, dari artinya aja, ‘Insya Allah’ itu jika Allah menghendaki, bukan dipakai untuk ngegantung harapan orang yang lo janjiin berdasarkan sikon atau mood lo doang.


Monday, October 3, 2016

Snowfall On The Sahara



Aku ingin marah tanpa ada satupun yang mencegah. Aku ingin marah habis habisan hari ini. Marah pada diri sendiri dan dunia. Aku ingin mengerahkan angkara yang tersebar di setiap inci tubuhku yang dialiri darah. Murka dengan dengus nafas yang terus membuat jantungku memompa darah mempertahankan hidup yang tak kuinginkan.

Aku ingin mengumpat, meneriakkan kata kata kotor tanpa merasa bersalah. Aku ingin memaki dan membentak orang tanpa merasa berdosa. Aku ingin meninju cermin antik di kamarku tanpa harus meringis sakit saat melihat kepalan tanganku dikucuri darah dari pembuluh darahku yang terobek serpihan kaca. Aku ingin menjungkir balikkan meja makan yang dipenuhi makanan yang telah tertata rapi.

Aku mau menggoblok goblokkan guru SD sebelah rumah yang sotoy, padahal otaknya tak berisi apapun yang sekiranya penting. Aku ingin mendorong pundaknya di depan murid muridnya dan membuat wali murid berfikir mereka telah menyekolahkan anak anak mereka di sekolah yang salah. Sekolah yang salah satu gurunya belagak seperti sosialita, tapi sejatinya kuper, kampungan dan satu lagi, kecerdasannya kurang jika dibandingkan dengan keponakanku yang masih SMA.

Aku berani menegur sopir angkot yang ngetem terlalu lama di pengkolan jalan dan membuat celanaku terkena muntahan anak kecil yang mual sebab terlalu lama kepanasan dan membaui bahan bakar.

Aku berharap bisa tega menghina si mahasiswa S2 itu, yang sok kaya, dan sok intelek, padahal hidupnya tak pernah dihargai teman sejawatnya. Hidupnya menyedihkan. Tingkah hedonis yang memuakkan. Ingin terlihat hebat dengan menghambur hamburkan rupiah yang hingga detik ini masih di Tuhankan manusia. Ironisnya biaya kuliahnya boleh ngutang bank. Aku tahu, dia hanya ingin diakui sebagai orang pintar dengan menyandang gelar magister. Ingin pengakuan, heh? Jadi selama ini tak ada yang mengakui bahwa dia pintar? Jijik.

Aku ingin menemui Hangga. Mengadu bibirku dengan bibirnya, lalu menampar pipinya keras keras dengan parutan kelapa. Bayaran atas ketololannya yang tak menyadari betapa aku mencintainya dua tahun terakhir ini.

Aku bisa saja mencolokkan ujung rokok yang menyala ke jidat dosenku yang centil karena dia memberiku nilai B+ di mata kuliahnya. Hei, semua orang tahu aku sangat menguasai semua materi yang pernah wanita dower itu berikan. Heran. Apa sih yang membuatnya sentimen padaku? Dan setelah mencolokkan ujung rokok ke jidat dosen dower itu, aku mau menyepak kemaluan Johan dengan sepatu hansip. Mahasiswa yang hobi berfantasi jorok tapi pandai menjilat dan jilatannya menghasilkan nilai A di laporan hasil studinya semester ini. F*ck!

Aku punya niat meludahi muka perempuan konyol yang badannya dan badan ibu beranak tiga yang sudah melar, tidak beda jauh. Kenapa? Masih tanya kenapa? Mana mungkin kau pacaran dengan bule dan kau belum berseranjang dengannya, dia menuduhku. Demi Tuhan, aku ingin menyumpal mulut kotornya dengan kancut. Pas. Sama kotornya.

Aku juga berharap bisa bertemu lagi dengan laki-laki berkumis tipis yang membonceng pacar jilbab polkadot dengan sekuternya agar aku bisa menelanjangi mereka berdua dan kupajang tubuh mereka di gerbang makam Senopati. Pasalnya, mereka – yang tak sengaja kulihat kemarin sore menjelang maghrib – berboncengan di macetnya lalu lintas sambil saling sentuh organ kencing dengan sebelah tangan. Kenapa tak mereka cari kamar? Kenapa harus dia tunjukkan pada dunia ketidaktahumaluan mereka sambil membawa simbol agama? Sebagai orang yang memeluk agama yang sama, aku merasa di-ren-dah-kan.

Aku ingin melempar semua barang pecah belah di rumah ini ke tembok tanpa membangunkan saudara kembarku yang bisu. Aku akan menjambak jambak rambutku sendiri andai saja rambutku bisa utuh esok harinya seperti semula. Aku mau makan karbohidrat sebanyak banyaknya tanpa takut gemuk. Aku merasa butuh mengoyak bantal guling dengan gigiku seperti harimau yang memangsa bangkai rusa dengan rakus. Aku ingin menelan beling semudah ayam mematuk biji jagung hingga kenyang.

Aku mau tertawa keras keras. Menertawakan ormas yang mencekal kontes kecantikan dengan alasan moral dan agama. Padahal tanpa menonton kontes kecantikan yang ada bikininya pun, remaja di negara ini sudah pandai bersilaturahmi dan bercanda kelamin.

Aku ingin menangis seharian tanpa mata bengkak keesokan harinya. Aku ingin menggaruk garuk tanah dan meraupkan cacing ke mukaku sendiri. Aku ingin menggali kuburan ibu. Aku mau merencanakan pembunuhan terhadap ibu tiriku, mumpung dia mandul dan tak punya anak yang butuh dia. Aku ingin mencekokinya dengan alkohol, lalu mengalirkan listrik ke tubuhnya agar kematiannya seolah akibat serangan jantung.

Aku ingin tinggal di hutan dan melolong keras keras tiap malam. Tidur meringkuk di bawah pohon. Bergulung diatas daun pisang seperti trenggiling.

Aku rela mengeluarkan suara untuk menyumpahi ormas yang bikin macet jalanan dengan aksi demo membawa spanduk bertuliskan ‘selamatkan Palestina’. Teriak teriak membawa toa tanpa merealisasikan tindakan untuk menyelamatkan Palestin.

Aku masih ingin yang lain kalau saja...

Tubuhku direngkuh dari belakang. Rengkuhan itu yang membuatku terkesiap menatap pantulan diriku di cermin. Duduk di lantai dengan wajah yang basah. Bibirku asin karena lelehan air mata. Darah menggenang di lantai dan meleleh di permukaan cermin yang retak parah tak beraturan, kucuran dari tangan kananku.

Kurasakan tubuh saudara kembarku yang menggigil, aku bisa merasakan tubuhnya sedikit mengejang saat menarik nafas. Tangannya melingkar di pundakku dan merapatkan kepalaku ke dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat dan tak beraturan. Seumur hidup kami memang tak pernah bicara. Tapi seperti inilah dia selalu berkata kata, dari pelukan, dari irama jantungnya, dari denyut nadinya, dari bahasa tubuhnya, dari bisikan hatinya,

Berhentilah, kau hanya lelah dan banyak berfikir. Kau hanya lelah...

Ya.
Ya, aku dengar.

Biar kuperban tanganmu, lalu kusisirkan rambutmu.

Aku merangsek maju balas mendekapnya saat pelukannya merenggang dan wajahnya mengisyaratkan perih ketika diraihnya tangan kananku.

Bertahanlah sebentar lagi, aku belum ingin kau melepaskan aku dari pelukanmu.

Sabtu, 14 September 2013
00: 01 WIB