Monday, August 15, 2016

WHAT MAKES YOU SINGLE?



Is being single something to be sad about? Or something to be proud of?

Oke, mungkin ada di antara kalian yang udah bosan jadi jomblo, atau udah kepengen punya hubungan yang serius, not only about hanging out together, chatting all day, sending greeting message everyday, going to the cinema every weekend, acting jealous, but steady relationship with the right guy. And you haven’t met your mr. Right?

Ya, makin bertambahnya umur membuat kalian, para gadis, merasa dikejar deadline untuk cari jodohuntuk menghindari label ‘perawan tua’. Sayangnya ini bikin kalian ambil tindakan nggak hati-hati karena yang jadi pertimbangan kalian adalah umur kalian. Jadinya, muncul pola pikir ‘ya-udah-sih-gpp-terima-aja-mumpung-ada-yang-mau’ yang mana pola pikir ini bikin kalian mengabaikan apa yang ada pada diri cowok yang lagi mendekati atau nembak kalian. Dear, even if this life is actually about gambling, tolong jangan gambling ya kalo milih cowok, apalagi buat pendamping hidup. Jangan terapkan konsep ‘aji mumpung’.

Menikahlah kalo kalian dan pasangan benar-benar siap secara mental dan finansial. Jangan menikah karena dituntut masyarakat, didesak orang tua, atau cuma karena kalian malu belom nikah sementara temen se-gank udah pada nikah.

Kalau udah siap secara mental, karir udah mapan, udah pengen berumahtangga, tapi pacar belum punya? And you start thinking that you’re bad looking, you’re not sexy, you’re undesirable, etc? Please, don’t let yourself down. Whatever you look like, as long as you’re clean and healthy, you’re beautiful. Jadi jangan isi malam minggu kalian dengan mengurung diri di kamar sambil berdoa minta hujan, jangan hangout di malam minggu sambil nyumpahin orang pacaran. Please, don’t ruin your satnite by doing those things. Kalau mau jalan-jalan sama teman-teman, jalan-jalanlah. Senangkan hatimu, even deep inside your heart you’re still wondering why you’re still single.

Mungkin hasil pengamatan gue dan hasil gue membaca sana sini, salah satunya, bikin kalian sadar kenapa kalian belum ketemu Mr. Right.

Let’s get started!!

KALIAN BERPIKIR BISA BERTEMU JODOH DI TEMPAT-TEMPAT TERTENTU

Kalian mulai mematok tempat, berharap ketemu calon pacar waktu lagi di gym, di restoran favorit, dan di tempat-tempat tertentu yang bikin kalian dress up khusus tampil menarik pada saat pergi ke tempat yang kalian anggap banyak kaum adamnya. Lingkup pencarian kalian makin sempit. Padahal siapa tahu calon pacar ada di tempat tak terduga, perpus misalnya, rumah sakit (pas jenguk teman atau kerabat yang sakit), mini market, kios tambal ban, dan lain-lain. Intinya buang patokan-patokan tempat itu walaupun kalian pengen banget ketemu pujaan hati di pantai kaya di film romantis. Ingatlah, dia bisa muncul dimana aja. Tapi biar begitu, jangan jelalatan juga kalo kemana-mana, ntar kesannya kalian lagi waspada copet. Sebisa mungkin tetaplah rapi, bersih, dan wangi (ngga perlu lebay juga sih wanginya) sesuai kondisi. Don’t forget to be nice to everyone, siapa tau dia adalah cowok yang kebetulan kepapasan lalu nanya alamat, atau dia adalah teman kalian sendiri?! Who knows?

YOU'RE SO FREAKING NEEDY

Iya, cowok juga ogah kalo kalian kebangetan manja dan nggak bisa ngapa-ngapain sendiri bahkan untuk mengatasi hal-hal kecil.

"Eh bukannya cowok justru seneng kalo dimintain bantuan? Itu kan hal yang bikin dia ngerasa manly, masculine dan selalu dibutuhkan?"

Iya, tapi kalau kalian dikit-dikit minta antar-jemput, minta ditemani, minta dibantuin, apalagi kalo kesannya maksa, cowok yang kalian gebet juga pasti kabur, atau cowok yang udah jadi pacar kalian bisa aja selingkuh. Kalo kalian bisa lakukan sendiri, misal: bawa laptop rusak ke service centernya, benerin kipas angin (siapa bilang nggak ada cewek yang ngerti listrik? Sekolah Menengah Kejuruan jurusan teknik listrik yang gue ajar ada murid ceweknya), nganterin ponakan ke puskesmas, dan semacamnya. Kalo si doi menawarkan bantuan, silahkan terima kebaikannya. Ingat, cowok kalian hanya bisa perhatian, membantu jika dibutuhkan, bukannya MENGAWAL. Pacaran itu bukan mengontrak seorang individu sebagai asisten pribadi.

YOU LOOK LIKE ACTUALLY REALLY LOVE BEING SINGLE

It’s good to be happy being a single and go with the flow. Bagus kok, jadi kalian nggak perlu nangis-nangis bawang kalo denger lagu cinta, sinis-sinis setan kalau ngeliat orang jalan bareng pasangan. Tapi hati-hati, jangan keasyikan sampai kalian mengabaikan semua perhatian cowok. Akhirnya para cowok nyerah karena ngerasa dikacangin. Selain itu, ada cewek yang memamerkannya berlebihan seolah-olah dia engga butuh cowok (dan gue punya temen yang kaya gitu juga). Salah-salah malah dianggap ‘nggak mau menikah’.

YOU DON'T SMILE TO ANYONE

Jangan jutek! Senyum ya. Sewajarnya aja.

“Tapi entar gue dibilang tebar pesona/sok kecakepan/gampangan?”
Kan gue bilang sewajarnya aja. Gimana cara senyumin orang sewajarnya? Ketika ada orang lagi melihat ke arah kalian, dan kebetulan kalian lagi bertemu pandang dengan dia, lalu tatapan itu bertahan lebih dari 3 detik, senyumlah. Sekedar senyum tipis pun nggak apa-apa. Gak perlu sampe nyengir keliatan gigi. Just be friendly.

YOUR SMILE LOOKS OH-SO-FAKE

Jangan memalsukan senyum waktu ngobrol sama orang lain, sama teman, sama kerabat atau siapa aja. Kenapa? Nggak enak diliat. Nobody wants to see a fake smile. Apalagi senyuman palsu kalian gagal mengelabui orang a.k.a orang tau betul itu senyum yg dipaksakan.

YOU'RE AN EMOTIONAL ROLLER COASTER

Are you moody? Or very moody? Y’know what? It makes everyone think that you’re a freak. Kadang kalian cerah ceria pas jalan sama gebetan, eh di tengah jalan mendadak moodnya jelek, jadi gampang marah, begitu liat puppy di pet shop jadi seneng lagi gak karuan, gitu terus. Jangankan gebetan, ini sih teman-teman kalian sendiri udah pasti gedeg ama kelakuan kalian.
Jadi, bisa mulai belajar mengendalikan emosi?

THE STANDARDS YOU HAVE FOR HIM IS MUCH HIGHER THAN THE STANDARDS YOU HAVE FOR YOURSELF

Too high standards. Kadang kita, cewek, bisa melegitimasi hal ini dengan alasan: “Wajar dong kita menginginkan pendamping yang lebih baik daripada kita?! Kan dia yang nanti memimpin…”
Sadar nggak standar yang lo bikin itu wajar atau nggak wajar? Kalo wajar mah nggak apa-apa. Kalo nggak wajar? Ntar jatuhnya kalian jadi picky, tapi sikap picky itu nggak membawa hasil yang diharapkan. Tolonglah, sesuaikan standar tersebut dengan diri kalian sendiri. Sadarlah: kalian siapa vs menginginkan pasangan yang bagaimana.

Oke, sah-sah aja kalian mengharapkan punya pasangan kaya raya, pintarnya selevel professor, pendidikannya S2 atau S3, jabatannya manager, direktur, atau apalah, gajinya up to 10 juta, rumahnya mewah, keturunan ningrat, terserah. Tapi gue ingetin, be rational. Lo nggak usah mengharapkan yang muluk-muluk kalo kalian cuma punya modal cakep doang (sorry to say)

Jangan lupakan sindiran yang sering muncul di meme:
"Jangan ngeremehin orang karena belum sukses, pendidikan nggak tinggi, rumah nggak bagus, nggak punya mobil. Kalo dia udah punya itu semua, seleranya bukan elu."
Paham kan maksudnya?! Cowok juga milih, girls. Semakin tinggi status sosialnya dia, dia juga akan semakin selektif cari pasangan. Intinya, perbaiki kualitas diri supaya pantas bersanding dengan yang memang berkualitas.

YOU ACTUALLY PICK THE WRONG MAN TO BE WITH

Well, I know that everybody makes mistakes. You make mistakes, so do I. But doesn’t it make us learn something? If you know you’ve made mistakes, then don’t do the same another day.
Kalo misalnya lo udah bikin ‘orang yang salah/orang yang bukan tipe lo’ tertarik dan jatuh cinta sama lo, sebenernya lo nggak salah sih, namanya juga perasaan. Adakah orang lain yang bisa kontrol?

“Tapi, gimana kalo saat dia pedekate gue luluh? Gue juga ga tau kalo dia playboy/ternyata udah beristri …”
Coba pastikan, kalian melted karena beneran jatuh cinta atau cuma tersipu-sipu kesenengan aja diperlakukan manis dan diromantisin? Untuk tahu track recordnya, cobalah kenal dan gaul sama teman-teman dia juga. Engga mungkin dia engga memperkenalkan kalian ke lingkungannya? Pasti sedikit banyak dari teman-temannya ada info kalau dia good boy, cheater, pengkhianat cinta, dermawan, loyal, penyayang, atau malah pernah menghamili anak orang. Ketika kalian udah mulai meragukannya, pakai akal sehat dan pertimbangkan, terus bersamanya atau menjauh pelan-pelan. Mumpung masih dalam tahap pedekate loh.

“Trus gimana caranya biar nggak dapet zonk? Gimana caranya dapet cowok baik-baik?”
Kenali siapa yang bersama kalian.

“Nyeleksi cowok satu-satu?”
Ya kagak!
Makanya, bertemanlah. Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Jangan berteman dengan cowok seolah-olah cowok-cowok itu adalah kandidat yang kalian seleksi buat jadi pacar. Make friends because making friends is fun! Ketika kalian berteman, mereka akan ada di samping kalian saat susah seneng. Pada saat itu kalian bisa lihat karakter asli mereka, yang bukan pencitraan. Orang cenderung fake di depan inceran mereka untuk mendapatkan citra yang baik kan?! Kalian juga bakalan cenderung luwes, nggak ada yang berusaha kalian impress mati-matian.

YOU CAN'T GET OVER YOUR EX

Uwaduh, emang susah ceritanya kalo pake acara nggak bisa move on. Lupain. Dia itu masa lalu. Tapi lucunya ada di antara kita yang masih terpaku pada karakter mantan dan pengen dapat pacar baru yang modelnya mirip mantan. Ini yang bikin usaha cowok yang deketin kalian jadi sia-sia. Soalnya kalian cuekin karena nggak mirip sama mantan.

Selamat! Anda akan lebih lama terjebak dalam kubangan masa lalu. 
Buang semua foto mantan dan semua barang yang berpotensi untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Nggak usah disimpan! Kalau kalian udah mentok kangen banget pasti kalian cari tuh foto dan barang pemberian mantan. Buang ya. Kalau lagi galau nontonlah film sama temen. Kalau kalian baperan, hindari film romantis dan cerita-cerita patah hati. Mainlah sama temen-temen. Tertawalah sampai lukamu kering dan siap berlari lagi.

YOU'RE CONFUSED WHAT LOVE IS

Mungkin definisi cinta bagi tiap orang berbeda-beda. Mungkin juga emang cinta engga punya definisi, tapi cuma bisa dirasain. Kalau kalian nanya cinta itu ada apa nggak, jawabannya ada. Mana? Ya itu yang lagi kalian bingungin.

YOU'RE PUTTING WAY MUCH PRESSURE ON FINDING A BOYFRIEND 

Nggak usah ngoyo cari pacar. Just chill out. Jangan bikin deadline atau bikin jadwal kapan hang out atau survey tempat yang banyak cowoknya. Kalian malah keliatan desperate. Sedih gue ngeliat temen ada yang kaya gini, serius, dan itu bikin risih. Kalau kalian terlalu ngoyo, ada pengaruhnya lho ke attitude. Keliatan banget kalo kalian lagi 'berburu'.

“Masa? Keliatan dari mananya?”
Dari cara kalian tersenyum, nada suara, bahasa tubuh, dan hal-hal yang kalian jadikan topik pembicaraan. Kalian mungkin nggak ngerasain itu, tapi yang ngeliat bakal tahu, termasuk cowok yang kalian incar. Jangan suka ngejudge ‘cowok itu nggak peka’, kalo kalian nggak banyak sahabatan sama cowok/ada di komunitas yang banyak cowoknya.

But, hati-hati ya, terlalu ngoyo dan terlalu excited bisa bikin kalian keliatan fake dan nggak jadi diri sendiri.

IT'S JUST HAPPENED

Apakah ini adalah alasan kalian jadi single? Emang lagi waktunya single kali ya. Jadi ya jalanin aja. Ntar juga kalau ketemu yang cocok pasti bakal jadian. Santai…


Jadi kali yang mana?

Saturday, August 13, 2016

Pretending to be Weak and Dumb = Makes You More Attractive to Men??? 

Think Again! 


Well, fakta bahwa gue udah lulus mengundang banyak tanya: mau kerja dimana lo abis ini? Balik ke Jatim atau mau kerja di area Jabodetabek aja?


Ya, itu adalah pertanyaan yang wajar dilontarkan pada mahasiswa yang baru dinyatakan lulus, meskipun masih menunggu wisuda. Pertanyaan-pertanyaan kaya gitu sih biasa gue jawab dengan baik, meningat gue juga udah ada tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan serat fiber sintesis di negeri ini.


But, salah satu pertanyaan yang gue engga suka jawab adalah pertanyaan yang ngajakin ribut. Nanyanya nyinyir: “Udah punya pacar?” “Kapan merit?” “Sekolah mulu, punya cowoknya kapan?” “Sekolah ketinggian nggak takut apa kalo cowok-cowok akhirnya jadi pada takut?”... dan sebangsanya sodara-sodara sebangsa dan setanah air…


Silahkan ketawa dulu bagi kalian para perempuan masa kini yang sering dapet pertanyaan yang ngajak berantem begini. Jangan dianggap serius pertanyaan dan komentar kaya begitu, wahai sodari-sodari sekalian kalau kalian masih kuliah atau masih sibuk dengan karir atau kalian yg sibuk dengan karir untuk memenuhi pundi-pundi agar bisa lanjut ke pendidikan yg stratanya lebih tinggi.


Gue juga punya tetangga reseh kaya gitu kok. Gue cuekin aja, ntar juga mati sendiri, eh, capek sendiri.


Gue ngga terlalu paham bagaimana masyarakat kita memandang perempuan. Iya, emansipasi sih emansipasi, katanya perempuan udah punya hak yang sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan dan peran di ranah public seperti pekerjaan, dll.


Itu kan katanya lho ya, katanya begitu. Dan iya, semua perempuan bisa sekolah dan bekerja sekarang. Peran perempuan dalam pemerintahan negara juga udah ada.


But when it comes to woman-man relationship, apakah emansipasi masih dianggap ada? Pada kenyataannya masih ada kekhawatiran “tar cowok takut sama lo kalo pendidikan/jabatan lo ketinggian!” Bukankah ini tanda bahwa masyarakat kita masih menghendaki agar perempuan tetap berada di tingkat yang lebih rendah dibanding laki-laki? Memang tidak semua orang seperti itu. Orang tua gue misalnya, nggak pernah melontarkan pertanyaan-pertanyaan maha-gak-penting kaya yg gue tulis di atas ketika gue bilang mau berhenti ngajar buat ngelanjutin ke pascasarjana, atau mau kerja dimana dan mengejar posisi apa. Tapi rupanya masih ada juga golongan masyarakat yang pola pikirnya belum diemansipasi.


Hahahahapaan sih?!
Iya kan? Sekarang perempuan udah tau hak-hak dia dan melek akan kesetaraan, tapi apa gunanya kalau lingkungan tidak memberikan kesempatan pada perempuan untuk memenuhi hak-hak dan mencapai posisi yang setara?


Oke, gue ngga berbicara sebagai seorang feminis ya. Gue berbicara sebagai perempuan biasa yang terheran-heran dengan apa yang ada di sekitar gue. Gue emang berasal dari daerah. Kalian boleh sebut gue ‘gadis desa’ atau ‘gadis kampung’. Bahkan setelah gue kuliah di kota pun, masih ada kok fenomena ‘orang-orang yang mengaku modern/orang kota yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang kudunya ada di ranah domestik doang’. Salah satu orang yang mengaku modern, lelaki masa kini lah, apalah sebutannya, secara eksplisit menyatakan di depan muka gue, “Yaelah buat apa sih lo kuliah sampe pinter-pinter banget, cewek itu ujung-ujungnya pasti dandan, masak, sama bikin anak.”


Y’know what I felt guys?!

Yak betol! Sakit hati!


Contoh lain nih ya, pengalaman perihbadi, eh, pribadi temen sekosan gue waktu gue masih ngambil S1 di Brawijaya, sebut saja namanya Karmila (pengalaman buruk gaes, jadi disamarkan, biar gak mengorek luka lama). Karmila ini junior gue juga di Sastra Jepang, cakep, langsing, unyu, agak-agak oriental, kalo ketawa matanya keliatan nyisa segaris doang, pekerja keras, namun sayangnya jatuh ke tangan cowok banci yang enggak terima kalo Karmila ini kuliah S1, sementara si cowok ini pendidikannya lebih rendah daripada Karmila. Jadi, Karmila sering cerita bahwa cowok ini sering menekannya dengan kalimat, "Kamu tuh sibuk terus sama kuliah, mau jadi apa sih?! Gimanapun juga kamu tuh cuma bakalan jadi istri aku, Aku kok yang cari uang, bla bla bla..." Itu cuma salah satu kalimat yang gue inget. Dan Karmila terus ditekan dengan kalimat sebangsa dan semacam itu, cuma kosa katanya aja lain. Hingga pada suatu hari gue cuma bisa bilang, "Karmila, putusin pacarmu, dan kuliahlah dengan tenang. Kuliahmu cuma bakalan semrawut engga karuan kalo kamu masih berhubungan sama dia. Pikirin perasaanmu, pikirin kebahagiaanmu..." Lalu mereka putus entah kapan tepatnya dan pas gue jelang wisuda S1, Karmila jadian sama temennya sendiri, cowok yang kuliah di Poltek Negeri deket kampus kita. Saat itulah pertama kalinya gue ngerasa bahagia atas putusnya temen gue *evil grin


Tapi dengan pola pikir kaya gitu, gue engga heran kalo banyak cewek yang mau belagak bloon (entah Cuma belagak atau emang bloon beneran ya) hanya agar bisa diterima oleh cowok. Cuma sedikit cewek yang bertindak kaya Karmila, nurutin akal sehatnya. Karena katanya cewek yang terlihat lemah dan engga tau apa-apa, dengan muka polos dan pandangan mata kosong, jauh lebih menarik di mata cowok. Katanya loh ya, katanya, mereka keliatan lebih imut daripada cewek yang keliatan smart, dan strong. Ini katanya loh ya. Soalnya beberapa temen cewek gue selalu menyarankan ke gue supaya gue engga tampil dengan dandanan yang keliatan intelek dan ngga banyak bicara atau berpendapat yang menyangkal pendapat cowok karena itu akan bikin cowok merasa kalah debat, dll. Itu semua menurut mereka bisa bikin gue cepet punya pacar. Iiiiuuuh!!!! 


Trus gue musti tampak polos-polos bloon gitu? Yang kalo diajakin ngomong dikit-dikit bilang, “Apaan ya? Aduh aku ngga terlalu ngerti… Aku ngga paham…. Aku ngga bisa…” Iiisshhh!!! Cewek-cewek kayak gini ini biasanya tipikal ‘yes woman’. Iya iya aja sama apa yang dibilang sama cowoknya.


Sori, gue engga bisa. Buat gue, cewek bodoh ya buat cowok bodoh.

Kok gitu?


Lo bayangin aja, kenapa cowok, kalo emang dia cowok berkualitas, pinter, dan berpikiran maju, kenapa dia mencari cewek lemah, engga bisa apa-apa, berpendapat aja ogah-ogahan, penakut, bodoh? 

Jawabannya Cuma satu: karena cowok tersebut ngga pinter-pinter amat, engga keren-keren amat, engga berkualitas-kualitas amat.

Intinya gini: kalo cowok yang ngga pinter-pinter amat, engga keren-keren amat, engga berkualitas-kualitas amat itu mengincar cewek yang pinter, kuat, kritis dan berkualitas, apa yang terjadi? Ya si cowok terinjak-injaklah! Makanya cowok dimana-mana nyari cewek yang levelnya di bawah dia. Kalo dia cowok biasa aja, karirnya engga bagus-bagus amat, atau malah pengangguran (maaf), atau masih mahasiswa yang ngga pinter-pinter amat atau malah mahasiswa yang lulusnya lama karena blibet skripsi/ada mata kuliah yang engga lulus-lulus (aduh, maaf lagi), ya bakalan nyari pacar berupa cewek yang modelnya kaya dia juga, atau malah di bawah dia. 

 
Supaya dia merasa manly, tetap jantan, atau lebih tepatnya tetap merasa superior?


Betul sekali. Superioritas adalah hal yang sangat penting bagi kaum adam.


Elo cewek-cewek smart, akademisi, atau wanita yang karirnya bagus engga akan dideketin lelaki macem begini (dan gue yakin kalian engga bakalan mau juga punya hubungan special sama lelaki model begitu). If you are an intelligent woman and there’s a guy who is scared of your intelligence, then, just scare him away! Read it once more, just scare him away and get him outta your face! Lo ngga bener-bener mau dideketin sama cowo pengecut yang takut sama intelegensi lo kan?! I know that you know that you want to find a guy who matches your level of intelligence. So why do you waste your time to act stupid in front of men just to get their attention?


This is so simple. You meet a guy, you talk to him, share your thoughts/opinions (of course, you’ll always have some reasons/facts behind your thoughts which shows that you’re not a dumb girl),  and see, if he is scared, leave him. He’s not for you. Atau, lo nggak perlu berbuat apa-apa, biasanya cowok yang udah tau level dia ada di bawahnya cewek, dia akan menarik diri kok. It happens a lot to me. Sering banget begitu gue buka gue siapa atau udah pernah sharing opini sama gue atau tau pola pikir gue, jadi jarang texting (padahal frekuensi textingnya cukup tinggi ketika mereka cuma tau bahwa gue hanya sekedar cewek, tanpa tahu di belakang nama gue ada MSi, gue kuliah dimana, gue kuliah dgn beasiswa Japan Foundation), bahkan ada yang ilang kaya masuk lagi ke perut nyokapnya, eh, ditelan bumi.


Yak, bagi para lelaki yang tersinggung, kalian boleh maki-maki gue sekarang.

Gue engga mau menghina siapa-siapa ya disini, gue cuma mengomentari apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat di sekeliling gue yang sering gue obrolin sama temen-temen gue dan kesannya emang timpang. Banyak perempuan yang belagak engga tau apa-apa biar dibilang cute (cih!), belagak lemah, supaya cowok suka sama dia atau ada cowok yang mau sama dia. Tapi pernah kah ada cowok yang mau mengejar ranking tinggi di kelas atau memperjuangkan IP agar cumlaude supaya cewek incerannya jadi naksir ama dia? Mungkin ada, tapi engga kedengeran saking sedikit jumlahnya.


Inget ya, gue engga menyamaratakan semua cowok ke dalam golongan ‘cowok engga becus yang takut macarin cewek berkualitas karena takut diinjak-injak’. Gue percaya di luar sana masih ada para lelaki yang pantas untuk kalian idam-idamkan atau kalian incar, ladies! (Walaupun gue engga tau pasti rasio jumlah lelaki idaman dan lelaki bukan idaman itu berapa banding berapa, tapi pasti ada)Percayalah, mereka masih ada. Karena temen sekantor gue pas lagi magang adalah para lelaki yang smart dan keren kok. Tenang. Pasti di tempat lain masih ada yang kayak begitu, atau bahkan lebih baik dari mereka. Trust me.


Jangan takut ngga kebagian cowok sampe lo rela nerima cinta cowok abal-abal atau rela ngasih segalanya demi cowok (dari golongan mana aja) yang belom tentu diciptakan buat lo (tau kan maksud gue dengan kata ‘segalanya’?! Karena beberapa temen gue udah terperosok dan terluka dalam). Don’t do that. Just don’t!


Gue sebenernya masih pengen ngelanjutin nulis tentang man-woman relationship, especially about some personality traits that men like in a woman, how to get his attention, or how you can be attractive to men, but… I just can promise you I’ll post it within a week.

 
So keep waiting a bit more! 

Saturday, July 30, 2016

Me and Master of Science Degree


Oke, sekarang saatnya selain posting-posting tugas kuliah (yang juga gue upload di academia.edu) dan puisi-puisi serta cerpen-cerpen hasil keluanganwaktu gue, gue akhirnya sadar kalo gue punya hak untuk curhat. Tapi bukan curhat detil setiap detik dan setiap jengkal mengarungi kehidupan ini juga. Ya sepintas lalu cerita tentang uneg-uneg gue, I think it's normal for a personal blog. I keep thinking that I have to pick the right point to write and try not to cross the line. I won't tell everything blow by blow.. Of course I won't. Cause I don't want to make you throw up.

I finally will be attending my graduation ceremony at the end of this month. 

Yak, terima kasih readers...
Terima kasih atas ucapan dan sun selamatnya.
#geer #larisebelumditabok

Tapi sejurusan cuman gue yang lulus semester ini. Gue antara bersyukur (karena ngga nambah semester dan nggak bayar uang kuliah lagi) dan berat ninggalin temen seangkatan yang dua tahun berjuang bareng gue *seka air mata*, we seriously have been through a lot of things in common and we'll never know where tomorrow may bring us. 

Gue jadi engga punya temen pas sidang 20 Juli kemaren. Untungnya Abang dateng dan muncul pas gue keluar ruang sidang setelah dinyatakan lulus. Gue suka disalah-salahin: "elu sih nulis tesisnya kecepetan!" Hahahaha. Demi engga kena tagihan sebelas juta buat bayar uang semester selanjutnya, gue bela-belain sering begadang dan seriusin tesis gue. Tesis aja gue seriusin, gimana pacar?! #eeh Hahaha, kidding. I'm a happy free single btw.

Selain sama Abang, gue juga ditemenin Putri. Kadang kita jalan bertiga, nonton, makan, nongkrong, bercanda sampe bego, ngobrol dari hal yang serius, penting, nggak penting, amat sangat tidak penting sekali, serius lagi, nggak penting lagi, gitu aja terus sampe teler. Kadang juga sehari sama Abang, sehari kemudian sama Putri. Ya gitu lah serasa gue poligami, atau poliandri ding. Mereka bener-bener penghibur gue, atau mungkin gue juga hiburan bagi mereka. 

Sekarang gue nungguin wisuda akhir bulan Agustus dan...

Jenuh???

Iya. Gue sambil berusaha nyari lowongan ngedosen atau kerjaan lain. Kenapa gue menjatuhkan pilihan jadi dosen? Karena gue melihat peluang pengembangan ilmu lebih terfasilitasi dibandingkan kalo gue kerja di perusahaan (buat gue itu boring dan banyak yang bilang kalo gue engga cocok ada di perusahaan karena peluang untuk breaking rules sangat besar, gue kan rada anti-mainstream). Yup, I love academic research and my lecturers and my advisors have suggested me to develop my thesis research further and deeper as a dissertation.

I'd love to do that.

"Hey how about scholarship?"
I know, I know *sigh
I'm 24 and I need to get a job first, I need to earn money, I need to make living. I can't count on my family forever. Setelah punya kerjaan, gue uber deh itu beasiswa doktor dan gue tuntasin hutang janji gue ke para dosen pembimbing dan penguji bahwa kajian tentang pragmatisme politik dan agama di Jepang bakalan gue terusin sampe ke disertasi (karena beliau-beliau bilang: "belum ada studi tentang pragmatisme politik yang melibatkan Soka Gakkai dengan partai koalisi LDP dan Komeito di Jepang, jadi kami pikir kajian ini harus dilanjutkan sebagai disertasi biar lebih dalam analisisnya. Ini khasanah baru dalam bidang kajian Jepang yang interdisipliner di Indonesia.")

Btw, kalo ada yang mau tau tesis gue, bisa diliat di academia.edu, ntar gue posting linknya atau gue share di sosial media gue. Huehuehuehue, gue kepedean ya.

Itu aja uneg-uneg gue, lulus duluan engga punya temen?

Masih ada lagi sih. 
Love problem.
Mending gue masuk angin deh daripada punya love problem. Engga enak. Mau cerita juga jadi serba salah. Si Abang aja yang perannya udah kaya 'penasehat' gue, palingan udah bosen ngeliat tampang gue yang 'fresh outside, broken inside'. Yak, gue kan jago fake smile. Btw, gue mantan pemain teater selama SMA dan kuliah S1. Kemampuan akting gue nggak perlu diragukan. Buat orang lain mungkin gue tampak bahagia selalu, nyengar-nyengir kaya orang kaga punya kutang, eh, utang! #masyaallah Padahal Abang tau kok ketawa gue, bercandaan gue, cerita gue yg konyol-konyol, itu adalah cara gue mendempul suasana hati yang kacau balau. Sekeras apapun gue mencoba ceria, mungkin di mata dia, itu tetep keliatan sebagai 'gloomy smile'.

Hahahahaha.

Jadi ceritanya apa? Gue baru putus gitu?
NO!

Gue mikir kata-kata yang enak dulu buat cerita biar ga kelepasan ngomongin hal-hal yang harusnya tetap ada di kotak pandora selamanya. Kalo bocor berabe. In other words, I'll tell you later.


Friday, March 4, 2016

Kudengarkan Kamu


aku mendengarkanmu
kudengarkan nafasmu
gemeletuk gigimu
decak lidahmu
suaramu
denyut jantungmu

...
...
...
...
...

aku tak ingin menyela
utarakan semua
aku masih mendengarkan

...
...

aku akan senantiasa menyimak
bahkan hingga gumam terakhir ketika

maut telah merebut itu denyut


Malang, 2010

Monday, February 8, 2016

PULANG


Aku seperti remaja yang terus menyimpan cinta untuk mantan pacar. Malunya. Aku malu dengan tiga puluh empat batang lilin yang berbaris menyesaki kue ulang tahun sederhana buatan ibuku tadi malam. Ibuku mengadakan pesta kecil kecilan, mensyukuri jabatanku yang lebih tinggi dari tahun lalu dan mensyukuri rentang waktu hidupku yang mencapai tahun ke tiga puluh empat.

Dia hadir. Dia yang aku enggan menyebut namanya bukan karena aku benci, atau karena namanya tak boleh disebut seperti Lord Voldemort, musuh bebuyutan Harry Potter, bukan itu. Aku tak ingin menyebut namanya semata mata karena aku selalu merinding setiap namanya terucap dari mulutku melalui getaran pita suara yang lebih patuh pada keinginan hati daripada kesepakatan pikiranku, logika, dengan berbagai pertimbangan.

Tadi malam dia hadir untuk menjabat tanganku dan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ dengan pandangan mata yang terasa melesak masuk ke mataku. Tangan itu: tangan yang menjabat tanganku semalam masih sama hangatnya seperti dulu, tangan yang dulu pernah merabai keningku untuk memastikan berapa suhu tubuhku ketika aku menggigil di ranjang setelah dikeroyok butir butir hujan yang tak terhitung pada sore harinya. Tangan itu pun, dulu, pernah menepuk-nepuk pelan pundak atau punggungku sebagai isyarat aku harus tenang atau bersikap lebih santai. Itu adalah tangan yang dulu pernah kuanggap sebagai tangan peri.

Dia sempat merangkulku dan memanjatkan beberapa harapan sebagaimana lazimnya doa-doa pada lagu perayaan ulang tahun: panjang umur, sehat dan bahagia selalu. Dan hatiku menjawab, “Aku belum bisa bahagia, lagi.” Lalu, bak kawan lama, aku dan dia duduk di teras belakang rumah meninggalkan beberapa teman dan ibu yang asyik merumpi di ruang tengah.

Kami menyaksikan mendung merapat di langit tak berbatas yang gelap seperti menyaksikan pagelaran wayang kulit: penuh konsentrasi karena takut melewatkan dialog dalam bahasa Jawa yang tak semuanya kami pahami. Bulan tertutup awan. Angin barat yang membawa pesan di musim hujan membuat dia melipat tangannya di depan dada. Mataku bersirobrok dengan matanya yang kebetulan menyapa pandanganku. Kami bertukar tawa kecil.

“Dingin ya.”

“Menyenangkan sekali berulang tahun di bulan November yang basah.” ujarnya. November yang basah, kuulangi kata katanya yang sejak dulu sudah menjadi seperangkat frase yang bisa kudengar. Istilah yang dia pakai untuk mengganti frase ‘bulan November yang sering turun hujan’. Aku pun tahu dia menyukai hujan. Air yang jatuh dari langit menumbuhkan suasana romantis, dia bilang. Hujan membuatnya duduk berlama lama di dekat jendela sambil membaca atau mendengarkan musik. Secangkir kopi menunggu kehilangan kepulnya di meja saat dia asyik mendengarkan musik sambil memandang titik titik hujan yang membentuk garis garis tak beraturan di kisi kisi jendela.

Entah kini dengan siapa dia terbiasa menghabiskan jadwal kegiatan ‘melihat hujan’ yang biasa dia lakoni. Adakah seseorang yang telah setuju menemaninya duduk di sisi jendela di sore hari seperti yang pernah kulakukan dulu?

Aku tak pernah menyesali kebersamaan kami. Pun kebersamaan kami tadi malam. Dia menggenggam gelas air putihnya karena dia menolak sirop buatan ibuku dengan alasan mengurangi konsumsi gula. Aku tak pernah lupa pada kemampuannya memperhitungkan asupan gizi: kalori, lemak, gula, kalsium, vitamin, dan lain lain. Itu adalah salah satu hal yang kurindukan darinya.

Ada hening yang ikut menimbrung di antara aku dan dia. Beberapa menit. Beberapa kali dia mengubah posisi kakinya yang bertumpang satu sama lain. Aku bahkan dapat merasakan naik turun nafasnya.        

Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di pikiran kami masing masing dalam jeda panjang yang didalangi oleh hening itu. Selama ini kami masih berteman. Dekat. Kadang jalan bersama. Bercerita tentang ibuku, tentang teman sekantornya, atau menceritakan lelucon tidak penting yang toh pada akhirnya berhasil membuat kami sama sama tertawa bodoh.

Aku menatapnya dari samping kanan. Dia masih cantik. Hanya saja terlihat sedikit lebih matang dan tegas daripada empat tahun yang lalu, ketika dia masih istriku.
--

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu aku mengamini sebuah kalimat – entah ini kalimat yang bagus atau bukan – yang biasanya muncul secara tersurat di novel novel remaja atau film televisi untuk remaja: persahabatan sering berakhir dengan cinta, namun cinta hampir tak bernah berakhir dengan kesepakatan untuk bersahabat. Kini aku merasa keyakinan yang berusaha dimunculkan dalam novel dan film romantis itu tidak benar.

Aku dan dia masih berteman walau dulunya kami pernah mencintai, dan bahkan hidup bersama.

Prinsipil sekali lasan kami memutuskan untuk melepas logam mulia yang melingkari jari manis kami, lalu mengemas barang barang, dan tidak lagi membagi privasi satu sama lain. Kami sudah menjadi orang lain bagi satu sama lain.

Aku tak ingin membicarakannya lagi. Sebab dia tidak pernah berhenti memenuhi duniaku dengan segala hal tentangnya. Jika aku terus mengenangnya, perasaanku akan semakin meletup letup dan jantungku bisa meledak. Lagipula dia bukan untuk dikenang. Dia bukan aksesori yang punya tenggat waktu untuk akhirnya dapat dikatakan ‘so last year’ atau ‘out of date’. Dia juga bukan senandung lagu sedih yang mengalun di tiap musim hujan ketika aku melihat keluar jendela. Dia sudah menjadi bagian dari aku dan diriku dan kehidupanku yang mengembara dalam sebuah perjalanan yang kunamai ‘kepergian’ dan selalu kurindukan kepulangannya walau tak pernah kuketahui dapatkah suatu saat nanti ia kembali.
--

Teman baik.
Kuulangi lagi: teman baik.

Kami masih berteman baik hingga hari ini tanpa merasa perlu untuk mengungkit-ungkit hal yang kusebut terlalu prinsipil yang membuat kami tak lagi berjalan beriringan.

Menjadi teman yang bersedia menampung keluh kesah dan ceritanya bukan berarti selalu turut bahagia dengan segala hal yang membuatnya bahagia. Tapi aku lapang dada.

Laki-laki pengecut, makiku untuk diri sendiri.

Aku sendiri tak tahu siapa yang patut dipersalahkan ketika aku merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sedang dalam hubungan khusus – mungkin lebih tepatnya hubungan spesial yang melibatkan hati dan perasaan – dengan seseorang yang sudah pasti laki-laki. Haruskah aku menyalahkan dia, atau diriku sendiri, aku tak tahu. Aku pun tak berniat bertanya pada siapa siapa tentang siapa yang salah atau pantas dipersalahkan. Mungkin dalam kasus ini kita tak seharusnya bermain tuduh menuduh tentang siapa yang salah, melainkan yang kekanak-kanakan akan lebih tepat.

Dia terlihat bahagia selama ini, tapi aku tidak. Walau awalnya aku mungkin terlihat antusias dengan hubungan barunya, itu adalah antusiasme yang kupaksakan. Kudengarkan ceritanya tentang laki-laki yang dia pikir akan segera melamarnya itu. Kudengarkan. Kudengarkan dengan separuh hati yang tergugu. Kudengarkan dengan perasaan seperti kejengkelan anak kecil yang gemas karena rumahnya mendapat giliran fogging nyamuk DBD. Kudengarkan saja sampai tuntas.

Sejak delapan menit yang lalu dia muncul di pintu rumahku dengan cincin yang melingkar di tangan kirinya. Cincin tunangan dia bilang. Detik itu juga kuhentikan semua harapan harapan samar yang selama ini takut kulayangkan sebagai doa. Aku berhenti mengharapkan kepulangan seseorang yang menempuh perjalanan yang kunamai ‘kepergian’.

Dia tak kan pulang pada perasaanku yang cacat. Dia menemukan naungan perasaan lain dalam pengembaraannya yang tak terlalu panjang. 

Aku lantas sontak ingin berhenti jadi temannya, tak ingin lagi bergurau dengannya, sayangnya aku tidak bisa menemukan satu hal yang layak kujadikan alasan untuk menghindari dia, kehidupannya dan segala hal tentangnya.

“Kita bertemu baik baik, kita berpisah pun seharusnya dengan baik baik, dan kehidupan kita setelah ini, mustinya tetap baik pula”

Kami menyepakati hal itu beberapa tahun yang lalu – setelah kami letih berargumen, perseteruan kami mereda dan otak kami berhasil menjernih dari segala macam kekeruhan yang berawal dari kata egois dan prinsip – meskipun hal itu terdengar seperti sederetan teori atau boleh juga dikatakan panduan, seperti sejenis panduan langkah langkah membongkar onderdil motor lalu merakitnya kembali. Sayangnya kebersamaanku dengannya tak bisa ditanggapi semudah bongkar pasang onderdil motor. Biarpun begitu, aku akan tetap ada di sana bila suatu saat nanti dia menginginkanku menyaksikan kebahagiaan peluk cium dia dan lelaki yang dicintainya di depan altar.

Aku temannya.
Teman baiknya.
--

Hari Minggu yang tenang. Hari yang ingin kulalui dengan tarikan oksigen yang dikonversi menjadi karbondioksida dengan lebih leluasa, tidak dengan rongga dada yang menyempit seolah memakai korset, tidak dengan perasaan yang dirajam kecewa. Aku ingin segalanya menjadi lebih luang dan lapang tanpa duka yang membayang.

Laki-laki itu bernama Martin. Kami berkenalan tiga minggu yang lalu dan dia hari ini berhasil menggali kedukaanku ke permukaan melalui telepon yang hanya menanyakan apakah aku mengetahui ada apa dengan dia, mantan istriku yang tidak bisa dihubungi sejak empat hari terakhir ini. Semua saluran komunikasi: pesawat telepon, instant messanger, sosial media, layanan pesan singkat, tak berhasil menghubungkan mereka berdua.

Dia menelepon bak seorang sahabat yang menanyakan keberadaan kekasihnya pada seorang sahabat yang juga sahabat kekasihnya. Mungkin Martin hanya tahu bahwa aku adalah mantan suami yang menjadi sahabat yang baik. Dia benar benar tak tahu pergolakan yang secara frekuentif melecuti perasaanku.

Hari Minggu yang tenang, tak jadi kulalui dengan mencoba berdamai dengan perasaan diiringi proses respirasi yang santai. Aku terdampar di depan pintu apartemen dia, mantan istriku. Walaupun Martin tak memintaku, aku bertandang ke tempat ini entah atas permintaan siapa. Aku memang kadang kadang impulsif.

Lengang.

Sebelas kali sudah aku menelepon ponselnya. Aktif.Tapi tak ada jawaban. Hanya rekaman suaranya yang kudengar sebagai sapaan voice mailbox sebelum terdengar nada beep. Beberapa kali aku mengirim pesan singkat dengan isi yang sama, jumlah karakter yang sama, kata kata yang sama.  

Aku tak merasa kehilangan dia paska perceraian karena dia masih ada di sana, masih mendengarkan, dan menceritakan kehidupannya. Kami hanya membangun batas yang sama dengan batas yang kami tetapkan antara aku dan teman yang lain, antara dia dan temannya yang lain. Inilah detik detik dimana aku baru merasa dia akan menjadi orang lain yang semakin lain. Dia tak akan sendiri lagi. Orang lain itu akan ada untuknya, entah sebaik apa, entah sepengertian apa, aku ingin membandingkannya dengan diriku.

Dia sudah memilih dan dia sudah dipilih. Tak ada lagi alasan buatku untuk terus membuai perasaanku yang masih jatuh cinta padanya setiap hari.

Pintu itu terbuka sedikit.

Oh, akhirnya. Kulihat kepalanya menyembul sedikit seperti anak kecil yang takut takut menerima tamu kala orang tua sedang tak ada.

“Martin yang menyuruhmu kemari?” tanyanya. Matanya menyipit memberi kesan menyelidik. Aku tidak mungkin melewatkan pemandangan ini, matanya sembab. Habis menangis? Bertengkar dengan Martin? Martin mulai main api rupanya?!

Tanpa menantikan jawaban dariku, dia melebarkan daun pintu dan aku masuk setelah menangkap isyarat dari gerakan kepalanya. Aku mengekor langkahnya dan duduk di depan televisi sementara dia melanjutkan derap langkahnya ke konter dapur. Aku mengamati dari belakang.

Celana khaki, cardigan, rambut yang digelung tinggi.

Dia kembali membawa secangkir kopi. Kopi yang aku suka, racikan yang tepat, dan satu fakta yang kudapat: dia tidak melupakan seleraku.

“Martin mengajakku fitting wedding dress minggu lalu” pita suaranya bergetar menimbulkan resonansi yang membunyikan kalimat yang barusan kudengar. Ulu hatiku nyeri. Di pikiranku terlintas tanya, sejak kapan kau bisa menuruti kemauan orang saat kau tak senang? Untungnya aku dengan waras tidak jadi melontarkan kalimat bertandatanya yang bisa memancing kemurkaannya. Ujungnya aku hanya menyesap kopi buatannya sambil melirik ke arahnya. Kulakukan agar dia tidak merasa diacuhkan walau sejujurnya aku tak ingin dengar.

Kuletakkan cangkir kopi itu di meja. Kupandangi permukaan cairan hitam pekat yang masih menggeliat ringan setelah cangkir lepas dari tanganku.

Kami berdua lantas saling menatap dari seberang meja yang memisahkan kami. Wajah itu sembab. Entah dia menangis sejak kapan. Aku tak berniat bertanya, aku hanya ingin merasakan apa yang ia rasa. Sakitkah?

Selepas kalimat itu, aku tak mendengar dia berbicara apa apa lagi. Menyangga dagu, dia membuang pandangannya ke samping kanan, melirik satu titik, entah benda atau berusaha melihat udara, beberapa menit lamanya.

“Kenalan Martin, seorang fotografer, menyanggupi akan menangani foto pre-wedding kami.”

“Bagus dong.” aku mencoba menarik kedua ujung bibir ke samping, ikut senang meski jantungku terasa dilipat lipat. Secara otomatis aku memvisualisasikan perasaanku seperti abu rokok yang dihentak ringan dengan telunjuk hingga rontok dari batang rokoknya, tak beraturan, dan tak bisa kukumpulkan lagi – bahkan mencari serpihannya saja aku sudah kesulitan.

Pandangan matanya mendadak menyambarku dengan tegas. Wajah ingin protes. Aku hafal ekspresi ekspresi yang terbentuk dari cekungan, kerutan, kembang kempis, di wajahnya. Dia sudah menarik nafas, siap menegur tanggapanku. Mungkin teguran atau hardikannya sudah sampai di ujung lidah, namun ditelannya kembali seiring dengan bibir yang sudah setengah terbuka itu mengatup. Batal.

Dia beringsut mengangkat cangkirnya sebelum meninggalkan tempat duduk sambil menyembunyikan wajahnya dengan pura pura menggaruk dahi sebelah kiri dengan tangan kanan yang melintas secara diagonal di wajahnya.

Helaan napasnya berhasil kudengar dari tempat dudukku yang tak jauh dari konter dapur. Dia berdiri terpekur di dekat wastafel, lalu terisak. Jujur, aku panik. Dia berusaha membelakangiku ketika aku mendekat. Tangannya membekap mulut mencegah lompatan isakan selanjutnya. Kubiarkan dia mengatur nafasnya yang tersendat. Aku sendiri merasa paru-paruku tergulung dalam rongga dadaku.

“Aku tidak ingin menikahi Martin.” dia berhasil mengucapkannya sambil menatapku setelah beringsutan menghapus lelehan air mata dengan lengan panjang kardigannya. Wajah setengah basah dan kemerahan. Kepedihan membuat darah naik ke kepalanya.

“Bukan dia yang aku inginkan. Aku berpikir lama sekali untuk memastikan apa yang kurasakan. Aku menghabiskan semalaman menerjemahkan kesibukan, rasa lelah, kecewa, marah, bahagiaku, hidupku. Tak kutemukan Martin di situ.” susah payah dia menormal-normalkan suaranya yang tetap saja dikuntit getar getar di ujung kata kata yang tersendat.

Kunaikkan pandanganku ke langit langit. Mataku basah. Aku malu.

Lihatlah, dua manusia bodoh yang pernah tiga tahun hidup bersama berusaha menyembunyikan air matanya.

Sambil membekap mulutnya kembali, dia berlalu, mencari sesuatu yang bisa menggantikan kakinya menopang tubuhnya. Aku tahu, menangis itu melelahkan sekalipun itu adalah pelampiasan emosi terbaik. Tanpa menghabiskan waktu menatapnya dari kejauhan dengan mata nanar, aku menyusulnya. Kusejajari posisi duduknya di sofa dengan jarak sangat dekat. Aku tak peduli memeluk calon istri orang adalah hal yang buruk. Satu lagi perilaku yang tak patuh pada rasio.

Kurengkuh dia tanpa peduli kaos poloku akan terbasahi oleh air matanya. Kubiarkan dia melingkarkan kedua lengannya di tubuhku meski akhirnya ada gulir air dari mataku sebagai akibat dari jantungku yang tak dapat membedakan rasa sakit, rindu, duka dan syahdu. Dia terisak sementara lingkar kedua lengannya di tubuhku terasa makin membelit dan menyesakkan. Kueratkan dekapanku.

Kurasakan pundakku basah. Kurasakan naik turun nafasnya yang mulai teratur. Dia mungkin sudah ingin menghentikan air matanya.

“Ada sesuatu yang ingin kaukatakan? Tumpahkan semuanya, apa yang membebanimu? Jangan ditahan. Katakan sebelum kau benar benar kelelahan.”

“Aku rindu...jadi istrimu”

Aku terkesiap.

Aku tahu, kami menyimpan perasaan yang sama dalam porsi yang lebih besar, lebih matang, lebih utuh.

“dan masih...” susah payah dia berusaha menamatkan apa yang sudah tak dapat dia bendung lagi. Aku sudah cukup tahu. Aku mendesis menghentikan kalimat yang hammpir sempurna menjadi sebuah pengakuan yang sama dengan pengakuan yang sejak tadi kutahan mati matian.

Kurenggangkan pelukan untuk menatap matanya yang tak lagi jernih sebab harus memerah air mata. Selama itukah waktu yang dia butuhkan untuk sekedar menyadari bahwa aku masih bisa diatemukan ditiap sudut jiwa dan raganya?

“Menikahlah denganku lagi. Perasaan itu masih sama, mungkin lebih dalam”

Dia merangsek kembali, mengangguk beberapa kali dalam pelukanku.
Segenap jiwaku tersenyum, menyambut kepulangannya.

Selamat datang kembali, kasih.

April, 2014