Monday, February 8, 2016

PULANG


Aku seperti remaja yang terus menyimpan cinta untuk mantan pacar. Malunya. Aku malu dengan tiga puluh empat batang lilin yang berbaris menyesaki kue ulang tahun sederhana buatan ibuku tadi malam. Ibuku mengadakan pesta kecil kecilan, mensyukuri jabatanku yang lebih tinggi dari tahun lalu dan mensyukuri rentang waktu hidupku yang mencapai tahun ke tiga puluh empat.

Dia hadir. Dia yang aku enggan menyebut namanya bukan karena aku benci, atau karena namanya tak boleh disebut seperti Lord Voldemort, musuh bebuyutan Harry Potter, bukan itu. Aku tak ingin menyebut namanya semata mata karena aku selalu merinding setiap namanya terucap dari mulutku melalui getaran pita suara yang lebih patuh pada keinginan hati daripada kesepakatan pikiranku, logika, dengan berbagai pertimbangan.

Tadi malam dia hadir untuk menjabat tanganku dan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ dengan pandangan mata yang terasa melesak masuk ke mataku. Tangan itu: tangan yang menjabat tanganku semalam masih sama hangatnya seperti dulu, tangan yang dulu pernah merabai keningku untuk memastikan berapa suhu tubuhku ketika aku menggigil di ranjang setelah dikeroyok butir butir hujan yang tak terhitung pada sore harinya. Tangan itu pun, dulu, pernah menepuk-nepuk pelan pundak atau punggungku sebagai isyarat aku harus tenang atau bersikap lebih santai. Itu adalah tangan yang dulu pernah kuanggap sebagai tangan peri.

Dia sempat merangkulku dan memanjatkan beberapa harapan sebagaimana lazimnya doa-doa pada lagu perayaan ulang tahun: panjang umur, sehat dan bahagia selalu. Dan hatiku menjawab, “Aku belum bisa bahagia, lagi.” Lalu, bak kawan lama, aku dan dia duduk di teras belakang rumah meninggalkan beberapa teman dan ibu yang asyik merumpi di ruang tengah.

Kami menyaksikan mendung merapat di langit tak berbatas yang gelap seperti menyaksikan pagelaran wayang kulit: penuh konsentrasi karena takut melewatkan dialog dalam bahasa Jawa yang tak semuanya kami pahami. Bulan tertutup awan. Angin barat yang membawa pesan di musim hujan membuat dia melipat tangannya di depan dada. Mataku bersirobrok dengan matanya yang kebetulan menyapa pandanganku. Kami bertukar tawa kecil.

“Dingin ya.”

“Menyenangkan sekali berulang tahun di bulan November yang basah.” ujarnya. November yang basah, kuulangi kata katanya yang sejak dulu sudah menjadi seperangkat frase yang bisa kudengar. Istilah yang dia pakai untuk mengganti frase ‘bulan November yang sering turun hujan’. Aku pun tahu dia menyukai hujan. Air yang jatuh dari langit menumbuhkan suasana romantis, dia bilang. Hujan membuatnya duduk berlama lama di dekat jendela sambil membaca atau mendengarkan musik. Secangkir kopi menunggu kehilangan kepulnya di meja saat dia asyik mendengarkan musik sambil memandang titik titik hujan yang membentuk garis garis tak beraturan di kisi kisi jendela.

Entah kini dengan siapa dia terbiasa menghabiskan jadwal kegiatan ‘melihat hujan’ yang biasa dia lakoni. Adakah seseorang yang telah setuju menemaninya duduk di sisi jendela di sore hari seperti yang pernah kulakukan dulu?

Aku tak pernah menyesali kebersamaan kami. Pun kebersamaan kami tadi malam. Dia menggenggam gelas air putihnya karena dia menolak sirop buatan ibuku dengan alasan mengurangi konsumsi gula. Aku tak pernah lupa pada kemampuannya memperhitungkan asupan gizi: kalori, lemak, gula, kalsium, vitamin, dan lain lain. Itu adalah salah satu hal yang kurindukan darinya.

Ada hening yang ikut menimbrung di antara aku dan dia. Beberapa menit. Beberapa kali dia mengubah posisi kakinya yang bertumpang satu sama lain. Aku bahkan dapat merasakan naik turun nafasnya.        

Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di pikiran kami masing masing dalam jeda panjang yang didalangi oleh hening itu. Selama ini kami masih berteman. Dekat. Kadang jalan bersama. Bercerita tentang ibuku, tentang teman sekantornya, atau menceritakan lelucon tidak penting yang toh pada akhirnya berhasil membuat kami sama sama tertawa bodoh.

Aku menatapnya dari samping kanan. Dia masih cantik. Hanya saja terlihat sedikit lebih matang dan tegas daripada empat tahun yang lalu, ketika dia masih istriku.
--

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu aku mengamini sebuah kalimat – entah ini kalimat yang bagus atau bukan – yang biasanya muncul secara tersurat di novel novel remaja atau film televisi untuk remaja: persahabatan sering berakhir dengan cinta, namun cinta hampir tak bernah berakhir dengan kesepakatan untuk bersahabat. Kini aku merasa keyakinan yang berusaha dimunculkan dalam novel dan film romantis itu tidak benar.

Aku dan dia masih berteman walau dulunya kami pernah mencintai, dan bahkan hidup bersama.

Prinsipil sekali lasan kami memutuskan untuk melepas logam mulia yang melingkari jari manis kami, lalu mengemas barang barang, dan tidak lagi membagi privasi satu sama lain. Kami sudah menjadi orang lain bagi satu sama lain.

Aku tak ingin membicarakannya lagi. Sebab dia tidak pernah berhenti memenuhi duniaku dengan segala hal tentangnya. Jika aku terus mengenangnya, perasaanku akan semakin meletup letup dan jantungku bisa meledak. Lagipula dia bukan untuk dikenang. Dia bukan aksesori yang punya tenggat waktu untuk akhirnya dapat dikatakan ‘so last year’ atau ‘out of date’. Dia juga bukan senandung lagu sedih yang mengalun di tiap musim hujan ketika aku melihat keluar jendela. Dia sudah menjadi bagian dari aku dan diriku dan kehidupanku yang mengembara dalam sebuah perjalanan yang kunamai ‘kepergian’ dan selalu kurindukan kepulangannya walau tak pernah kuketahui dapatkah suatu saat nanti ia kembali.
--

Teman baik.
Kuulangi lagi: teman baik.

Kami masih berteman baik hingga hari ini tanpa merasa perlu untuk mengungkit-ungkit hal yang kusebut terlalu prinsipil yang membuat kami tak lagi berjalan beriringan.

Menjadi teman yang bersedia menampung keluh kesah dan ceritanya bukan berarti selalu turut bahagia dengan segala hal yang membuatnya bahagia. Tapi aku lapang dada.

Laki-laki pengecut, makiku untuk diri sendiri.

Aku sendiri tak tahu siapa yang patut dipersalahkan ketika aku merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sedang dalam hubungan khusus – mungkin lebih tepatnya hubungan spesial yang melibatkan hati dan perasaan – dengan seseorang yang sudah pasti laki-laki. Haruskah aku menyalahkan dia, atau diriku sendiri, aku tak tahu. Aku pun tak berniat bertanya pada siapa siapa tentang siapa yang salah atau pantas dipersalahkan. Mungkin dalam kasus ini kita tak seharusnya bermain tuduh menuduh tentang siapa yang salah, melainkan yang kekanak-kanakan akan lebih tepat.

Dia terlihat bahagia selama ini, tapi aku tidak. Walau awalnya aku mungkin terlihat antusias dengan hubungan barunya, itu adalah antusiasme yang kupaksakan. Kudengarkan ceritanya tentang laki-laki yang dia pikir akan segera melamarnya itu. Kudengarkan. Kudengarkan dengan separuh hati yang tergugu. Kudengarkan dengan perasaan seperti kejengkelan anak kecil yang gemas karena rumahnya mendapat giliran fogging nyamuk DBD. Kudengarkan saja sampai tuntas.

Sejak delapan menit yang lalu dia muncul di pintu rumahku dengan cincin yang melingkar di tangan kirinya. Cincin tunangan dia bilang. Detik itu juga kuhentikan semua harapan harapan samar yang selama ini takut kulayangkan sebagai doa. Aku berhenti mengharapkan kepulangan seseorang yang menempuh perjalanan yang kunamai ‘kepergian’.

Dia tak kan pulang pada perasaanku yang cacat. Dia menemukan naungan perasaan lain dalam pengembaraannya yang tak terlalu panjang. 

Aku lantas sontak ingin berhenti jadi temannya, tak ingin lagi bergurau dengannya, sayangnya aku tidak bisa menemukan satu hal yang layak kujadikan alasan untuk menghindari dia, kehidupannya dan segala hal tentangnya.

“Kita bertemu baik baik, kita berpisah pun seharusnya dengan baik baik, dan kehidupan kita setelah ini, mustinya tetap baik pula”

Kami menyepakati hal itu beberapa tahun yang lalu – setelah kami letih berargumen, perseteruan kami mereda dan otak kami berhasil menjernih dari segala macam kekeruhan yang berawal dari kata egois dan prinsip – meskipun hal itu terdengar seperti sederetan teori atau boleh juga dikatakan panduan, seperti sejenis panduan langkah langkah membongkar onderdil motor lalu merakitnya kembali. Sayangnya kebersamaanku dengannya tak bisa ditanggapi semudah bongkar pasang onderdil motor. Biarpun begitu, aku akan tetap ada di sana bila suatu saat nanti dia menginginkanku menyaksikan kebahagiaan peluk cium dia dan lelaki yang dicintainya di depan altar.

Aku temannya.
Teman baiknya.
--

Hari Minggu yang tenang. Hari yang ingin kulalui dengan tarikan oksigen yang dikonversi menjadi karbondioksida dengan lebih leluasa, tidak dengan rongga dada yang menyempit seolah memakai korset, tidak dengan perasaan yang dirajam kecewa. Aku ingin segalanya menjadi lebih luang dan lapang tanpa duka yang membayang.

Laki-laki itu bernama Martin. Kami berkenalan tiga minggu yang lalu dan dia hari ini berhasil menggali kedukaanku ke permukaan melalui telepon yang hanya menanyakan apakah aku mengetahui ada apa dengan dia, mantan istriku yang tidak bisa dihubungi sejak empat hari terakhir ini. Semua saluran komunikasi: pesawat telepon, instant messanger, sosial media, layanan pesan singkat, tak berhasil menghubungkan mereka berdua.

Dia menelepon bak seorang sahabat yang menanyakan keberadaan kekasihnya pada seorang sahabat yang juga sahabat kekasihnya. Mungkin Martin hanya tahu bahwa aku adalah mantan suami yang menjadi sahabat yang baik. Dia benar benar tak tahu pergolakan yang secara frekuentif melecuti perasaanku.

Hari Minggu yang tenang, tak jadi kulalui dengan mencoba berdamai dengan perasaan diiringi proses respirasi yang santai. Aku terdampar di depan pintu apartemen dia, mantan istriku. Walaupun Martin tak memintaku, aku bertandang ke tempat ini entah atas permintaan siapa. Aku memang kadang kadang impulsif.

Lengang.

Sebelas kali sudah aku menelepon ponselnya. Aktif.Tapi tak ada jawaban. Hanya rekaman suaranya yang kudengar sebagai sapaan voice mailbox sebelum terdengar nada beep. Beberapa kali aku mengirim pesan singkat dengan isi yang sama, jumlah karakter yang sama, kata kata yang sama.  

Aku tak merasa kehilangan dia paska perceraian karena dia masih ada di sana, masih mendengarkan, dan menceritakan kehidupannya. Kami hanya membangun batas yang sama dengan batas yang kami tetapkan antara aku dan teman yang lain, antara dia dan temannya yang lain. Inilah detik detik dimana aku baru merasa dia akan menjadi orang lain yang semakin lain. Dia tak akan sendiri lagi. Orang lain itu akan ada untuknya, entah sebaik apa, entah sepengertian apa, aku ingin membandingkannya dengan diriku.

Dia sudah memilih dan dia sudah dipilih. Tak ada lagi alasan buatku untuk terus membuai perasaanku yang masih jatuh cinta padanya setiap hari.

Pintu itu terbuka sedikit.

Oh, akhirnya. Kulihat kepalanya menyembul sedikit seperti anak kecil yang takut takut menerima tamu kala orang tua sedang tak ada.

“Martin yang menyuruhmu kemari?” tanyanya. Matanya menyipit memberi kesan menyelidik. Aku tidak mungkin melewatkan pemandangan ini, matanya sembab. Habis menangis? Bertengkar dengan Martin? Martin mulai main api rupanya?!

Tanpa menantikan jawaban dariku, dia melebarkan daun pintu dan aku masuk setelah menangkap isyarat dari gerakan kepalanya. Aku mengekor langkahnya dan duduk di depan televisi sementara dia melanjutkan derap langkahnya ke konter dapur. Aku mengamati dari belakang.

Celana khaki, cardigan, rambut yang digelung tinggi.

Dia kembali membawa secangkir kopi. Kopi yang aku suka, racikan yang tepat, dan satu fakta yang kudapat: dia tidak melupakan seleraku.

“Martin mengajakku fitting wedding dress minggu lalu” pita suaranya bergetar menimbulkan resonansi yang membunyikan kalimat yang barusan kudengar. Ulu hatiku nyeri. Di pikiranku terlintas tanya, sejak kapan kau bisa menuruti kemauan orang saat kau tak senang? Untungnya aku dengan waras tidak jadi melontarkan kalimat bertandatanya yang bisa memancing kemurkaannya. Ujungnya aku hanya menyesap kopi buatannya sambil melirik ke arahnya. Kulakukan agar dia tidak merasa diacuhkan walau sejujurnya aku tak ingin dengar.

Kuletakkan cangkir kopi itu di meja. Kupandangi permukaan cairan hitam pekat yang masih menggeliat ringan setelah cangkir lepas dari tanganku.

Kami berdua lantas saling menatap dari seberang meja yang memisahkan kami. Wajah itu sembab. Entah dia menangis sejak kapan. Aku tak berniat bertanya, aku hanya ingin merasakan apa yang ia rasa. Sakitkah?

Selepas kalimat itu, aku tak mendengar dia berbicara apa apa lagi. Menyangga dagu, dia membuang pandangannya ke samping kanan, melirik satu titik, entah benda atau berusaha melihat udara, beberapa menit lamanya.

“Kenalan Martin, seorang fotografer, menyanggupi akan menangani foto pre-wedding kami.”

“Bagus dong.” aku mencoba menarik kedua ujung bibir ke samping, ikut senang meski jantungku terasa dilipat lipat. Secara otomatis aku memvisualisasikan perasaanku seperti abu rokok yang dihentak ringan dengan telunjuk hingga rontok dari batang rokoknya, tak beraturan, dan tak bisa kukumpulkan lagi – bahkan mencari serpihannya saja aku sudah kesulitan.

Pandangan matanya mendadak menyambarku dengan tegas. Wajah ingin protes. Aku hafal ekspresi ekspresi yang terbentuk dari cekungan, kerutan, kembang kempis, di wajahnya. Dia sudah menarik nafas, siap menegur tanggapanku. Mungkin teguran atau hardikannya sudah sampai di ujung lidah, namun ditelannya kembali seiring dengan bibir yang sudah setengah terbuka itu mengatup. Batal.

Dia beringsut mengangkat cangkirnya sebelum meninggalkan tempat duduk sambil menyembunyikan wajahnya dengan pura pura menggaruk dahi sebelah kiri dengan tangan kanan yang melintas secara diagonal di wajahnya.

Helaan napasnya berhasil kudengar dari tempat dudukku yang tak jauh dari konter dapur. Dia berdiri terpekur di dekat wastafel, lalu terisak. Jujur, aku panik. Dia berusaha membelakangiku ketika aku mendekat. Tangannya membekap mulut mencegah lompatan isakan selanjutnya. Kubiarkan dia mengatur nafasnya yang tersendat. Aku sendiri merasa paru-paruku tergulung dalam rongga dadaku.

“Aku tidak ingin menikahi Martin.” dia berhasil mengucapkannya sambil menatapku setelah beringsutan menghapus lelehan air mata dengan lengan panjang kardigannya. Wajah setengah basah dan kemerahan. Kepedihan membuat darah naik ke kepalanya.

“Bukan dia yang aku inginkan. Aku berpikir lama sekali untuk memastikan apa yang kurasakan. Aku menghabiskan semalaman menerjemahkan kesibukan, rasa lelah, kecewa, marah, bahagiaku, hidupku. Tak kutemukan Martin di situ.” susah payah dia menormal-normalkan suaranya yang tetap saja dikuntit getar getar di ujung kata kata yang tersendat.

Kunaikkan pandanganku ke langit langit. Mataku basah. Aku malu.

Lihatlah, dua manusia bodoh yang pernah tiga tahun hidup bersama berusaha menyembunyikan air matanya.

Sambil membekap mulutnya kembali, dia berlalu, mencari sesuatu yang bisa menggantikan kakinya menopang tubuhnya. Aku tahu, menangis itu melelahkan sekalipun itu adalah pelampiasan emosi terbaik. Tanpa menghabiskan waktu menatapnya dari kejauhan dengan mata nanar, aku menyusulnya. Kusejajari posisi duduknya di sofa dengan jarak sangat dekat. Aku tak peduli memeluk calon istri orang adalah hal yang buruk. Satu lagi perilaku yang tak patuh pada rasio.

Kurengkuh dia tanpa peduli kaos poloku akan terbasahi oleh air matanya. Kubiarkan dia melingkarkan kedua lengannya di tubuhku meski akhirnya ada gulir air dari mataku sebagai akibat dari jantungku yang tak dapat membedakan rasa sakit, rindu, duka dan syahdu. Dia terisak sementara lingkar kedua lengannya di tubuhku terasa makin membelit dan menyesakkan. Kueratkan dekapanku.

Kurasakan pundakku basah. Kurasakan naik turun nafasnya yang mulai teratur. Dia mungkin sudah ingin menghentikan air matanya.

“Ada sesuatu yang ingin kaukatakan? Tumpahkan semuanya, apa yang membebanimu? Jangan ditahan. Katakan sebelum kau benar benar kelelahan.”

“Aku rindu...jadi istrimu”

Aku terkesiap.

Aku tahu, kami menyimpan perasaan yang sama dalam porsi yang lebih besar, lebih matang, lebih utuh.

“dan masih...” susah payah dia berusaha menamatkan apa yang sudah tak dapat dia bendung lagi. Aku sudah cukup tahu. Aku mendesis menghentikan kalimat yang hammpir sempurna menjadi sebuah pengakuan yang sama dengan pengakuan yang sejak tadi kutahan mati matian.

Kurenggangkan pelukan untuk menatap matanya yang tak lagi jernih sebab harus memerah air mata. Selama itukah waktu yang dia butuhkan untuk sekedar menyadari bahwa aku masih bisa diatemukan ditiap sudut jiwa dan raganya?

“Menikahlah denganku lagi. Perasaan itu masih sama, mungkin lebih dalam”

Dia merangsek kembali, mengangguk beberapa kali dalam pelukanku.
Segenap jiwaku tersenyum, menyambut kepulangannya.

Selamat datang kembali, kasih.

April, 2014

Mars


Akan tarik menarik jika dua kutub yang berbeda dipertemukan dan akan tolak menolak jika yang bertemu adalah dua kutub yang sama. Itu magnet. Bukan manusia.

Men are from mars and women are from venus. Tapi meskipun dari planet berbeda, entah kenapa laki laki dan perempuan ditakdirkan untuk bersama. Seperti magnet yang berjodoh antara kutub utara dan selatan. Nyatanya, manusia bukan magnet. Manusia punya lebih banyak faktor yang memungkinkan mereka untuk menjadi anomali. Faktanya, mereka bersama meskipun mereka bertetangga di planet yang sama, di kutub yang sama.

Aku tak pernah sengaja melindungimu, tapi hatiku yang selalu melakukannya. Pikiranku ingin berhenti mengasihimu, sayangnya perasaanku membela pihakmu. Mungkin karena perasaanku mengartikan perasaanmu, bahwa menjadi berbeda itu kadang harus terluka.

Dan hatiku pun terus digerus pedih.

Kau mengayunkan tanganmu di udara dengan jenuh. Jenuh menanti dering ponsel yang sedari tadi kau pandangi dengan sorot mata gadis belia yang menanti telepon pencuri hatinya. Dia akan menelepon, begitu keyakinanmu. Dan kalau dia menelepon, itu tandanya dia sudah sampai di kota tempat kita duduk saling berdiam sampai jemu sekarang ini.

Sudah tiga bulan berselang setelah duniaku runtuh sehari. Kau tak tahu, walau kau terus bersamaku dan dunia kita terus bersinergi. Kau benar benar tak tahu. Berani taruhan. Walaupun dunia kita bergerak layaknya gear yang bergerak karena gerakan yang lain. Kau tak tahu. Dan kau tak perlu tahu.

Entah sudah berapa banyak kawan dan karib kerabat yang mengerutkan kening mereka dengan tajam seolah baru mengendus busuk. Aku lelah menghitung. Sama seperti lelahnya aku menunggumu mengulurkan benang merah padaku. Aku tak pernah menyayangkan karena kau tak tahu. Aku pun tak ingin kau tahu meskipun duniaku terasa runtuh tiap harinya dan harus kutata kembali puing puingnya.

“Dia ini serius atau main main?” gumammu sambil mengepalkan tangan di depan mulutmu hingga suaramu terdengar seperti menggeram. Aku menggeser posisi majalah dari depan wajahku dan memiringkan kepala berusaha menggodamu seperti menggoda anak SD.

“Dia pasti datang, dia hanya tidak bisa menelepon” ujarku menghiburmu sekaligus menggerus hatiku sendiri dengan cemburu. 

Kau menatapku setelah tanganmu menyingkirkan majalah dari hadapan mukaku. Kumohon jangan tatap aku seperti itu. Kau sedang menanti cintamu, aku tahu. Tapi yang kau cintai bukan aku. Pedihnya, aku belum berhenti mencintaimu. Entah apa namanya, bodoh atau konyol, aku membiarkan hatiku retak leleh di hadapanmu yang menanti orang lain yang kau kasihi.

“Terimakasih” kaubilang. Aku menaikkan alis dan kau menjawab, “untuk selalu berpihak padaku”

Lihat?! Semudah itu aku mengisyaratkan ketidakmengertianku dan semudah itu pula kau mengartikan bahasa tubuhku. Aku hanya membalasmu dengan senyum sewajarnya.

“Meskipun mereka juga mengata ngataimu tidak bermoral, liberal, bebal, tidak berakal” lanjutmu. Entah, mungkin kau lupa bahwa kau sudah mengatakan itu berkali kali sebagai kekaguman atas kegigihanku, atau mungkin kekeraskepalaanku. Aku menyentuh tanganmu dan diluar dugaanku, kau balas menggenggam. Ada hangat menyebar di rongga dadaku. Otakku tak pernah luput menerjemahkan saat saat seperti ini sebagai kebahagiaan yang sendu dan tak pernah absen merekam suaramu. Jangankan menatapmu, melirikmu dari sudut mata sipitku pun menjadi sebuah kenangan di dasar memoriku, menjadi endapan seperti saat aku minum jamu beras kencur yang sudah lama dituang di gelas tak diaduk.

Aku mencintaimu, tapi aku tidak pernah berharap kau tahu.

Just because you have different view, it doesn’t mean that they are better than you and able to discriminate you” gumamku. Kau tersenyum. Senyum yang pernah dikecup orang  selain aku. Matamu menerawang, seolah melihat arak arakan awan di langit dari balik jendela yang kubelakangi.

Aku lelah mendengar orang orang yang berkasak kusuk kisuk kisuk tentangmu. Itu benar benar menyakitiku. Bukan apa apa. Aku hanya merasa seolah ditancapi pasak bumi tiap kali mereka bertanya padaku tentangmu dan dia. Itu kan namanya mengingatkanku berkali kali. Padahal aku sudah ingin memendam kenyataan itu. Walaupun aku kerap melihat kenyataan bahwa kalian bersama, tapi tak perlu mereka ulangi dalam kata kata, frase, kalimat, dan obrolan, kan?

Perlahan aku mendekat dan berusaha melihat objek yang sama dengan yang kau lihat dari balkon apartemenmu. Entah kau melihat gedung gedung dan keramaian jalan raya dibawah sana atau memandang udara atau mencari titik temu langit dan bumi yang terlihat bersatu di kejauhan sana.

Kau tahu, kau bisa melihat langit dan bumi bertemu di cakrawala. Kau pun sering melihatnya di laut. Aku juga. Tapi lagi lagi aku selalu teringat betapa dua planet itu disematkan dalam nama kita sebagai reminder bahwa kita tak akan bertemu karena kita akan terus berputar di orbit kita masing masing.

“Kejora.” panggilmu. Aku hanya menggumam lalu menyorongkan segelas softdrink ke mulutku sendiri.

“Besok kita meeting lho!”

“Aku tahu, Anggoro. Kau jangan galau dong, kan tidak lucu kalau kau bicara di depan orang orang dengan tema galauisme?”

Haha. Kau tertawa.

Hanya itu yang bisa kukatakan. Pekerjaan kita. Bukan perasaanku padamu. Bukan betapa sulitnya usahaku menerimamu sebagai ‘hanya teman’ dua tahun terakhir ini. Bukan betapa rumitnya perasaanku yang sudah menjadi gumpalan benang kusut yang tak bisa kuurai lagi.

Dan ketika bel apartemenmu berbunyi, aku tahu apa yang harus kulakukan karena kau sudah mendapatkan apa yang kaunanti nanti. Kau beranjak. Aku tetap disini. Di balkon. Bergerak lambat lambat mendapatkan laptopmu untuk melepas flashdisk yang masih tersemat disitu.

“Data data sudah kucopy ke folder biasa, ya” kataku mengingatkan.

Aku menyelipkan juntaian rambut ke daun telingaku dan berpura pura mengecek ponsel ketika tangan kalian saling bertautan setelah pintu kembali tertutup.

Hi Kejora, it’s been a while...” kudengar kekasihmu menyapaku setelah melepas ciuman kalian. Mendadak aku kehabisan oksigen.

“Hai Tonny!” kutarik kedua ujung bibirku kesamping.

Semoga senyumanku tak terlihat palsu.

Selasa, 01 Oktober 2013
09: 55
Malang

Saturday, January 2, 2016

あいまいな日本の私

小江健三郎

リズキ ヴァレンタイン

1994年に大江健三郎はノーベル文学賞を受賞する第二日本の著者になりました。日本の経済成長が先細りしたその時まで、その不動産バブルが破裂していた以来、失われた十年として知られるようになったものを国が入っていました。

小江健三郎のあいまいな日本の私という指名受諾演説は第二次世界対戦のせいで憂い幼年時代に始まりました。この受賞スピーチは、子供のように小江健三郎の人生の説明から始まり、いろいろな話、雁たちのことや、懐かしい田舎へ戻るニルスなど、なんとか感情的な気持ちが感じます。そして、小江健三郎はハックルベリー·フィンの冒険と彼は第二次世界大戦の恐怖に包ま世界から現実逃避として使用コメントニルスのふしぎな旅、見とれた方法です。

大江健三郎氏のタイトルにもいう「あいまいな日本の私」は、私、外国人から見て、曖昧なのは社会か、言語か、文化か、外からはいっそう分かりにくいと思います。それから、その「あいまいな国」に対して一般的にはどのようなイメージが私も想像できません。

また、「Japan, the Beautiful and Myself」が出て来ると、大学の時「美しい日本の私」という川端康成の指名受諾演説を読んだことある私は川端は、日本の文化のユニークな資質と美しさを強調するのを思い出しました。その一方、小江健三郎は川端の演説から自身の設定の意図だったと彼自身の文化についていくつかの深刻な予約を表明した。小江はあいまいだけじゃなくて、カタカナのヴエイグとアムビギュイテイーが書き写しました。

川端康成のタイトルと中世の禅の僧侶によって書かれた詩の彼の議論の曖昧さは、彼の受諾演説のタイトルのためのインスピレーションだったと言いました。ただし、小江健三郎が僧侶じゃなくて、彼は詩彼の文章と彼の人生に大きな影響を持っていたアイルランドの詩人、ウィリアム·バトラー·イェイツ、とより親近感があると語りました。

“もしできることならば、私はイェーツの役割にならいたいと思います。現在、文学哲学によってではなく、電子工学自動車生産のテクノロジーゆえに、その力を世界に知られているわが国の文明のために。また近い過去において、その破壊への狂信が、国内周辺諸国の人間の正気を踏みにじった歴史を持つ人間として。
このような現在を生き、このような過去にきざまれた辛い記憶を持つ人間として、私は川端と声をあわせて「美しい日本の私」ということはできません。さきに私は、川端のあいまいさについていいながら、vague という言葉を用いました。いま私は、やはり英語圏の大詩人キャ スリーン・レインがブレイクにかぶせた《ambiguous であるが vague ではない》という定義にしたがって、同じあいまいなという日本語を ambiguous と訳したいと思いますが、それは私が自分について「あいまい(アムビギュアス)な日本の私」というほかにない考えるかなのです.”
(7ページ)

上の引用文が示すことは小江健三郎は非常に川端康成を意識しているようです。小江健三郎は自らをアムビギュアスという「あいまいな」は小江と川端がそうであったものを区別するわけです。

すべての文化や社会や美しさでは、川端康成と小江健三郎の見たことある歴史や、戦争や、経験や、悲しみなどの中で、それらの現在の状態の両方について、日本の美しさは違うかもしれないだろう。ですから、違う立場から見るとにほんはどのような美しいとか、アジアはどのようなエキゾチックは結局違うところがあるかもしれません。

そこまで、あいまいな日本というのは何かと、考えてみると、オリエンタリズムがあたまに浮かんでいます。あいまいやアムビギュアスに関することは西欧がアジアの国に対する見方と意見です。ですから、日本の物理的な美しさ、伝統的な芸術、習慣、町並みなどの人工の美しさのために保持しますこれは確かに産業の発展と人口拡大が過去半世紀の間に巨大な進出してきたその中に日本の自然の美しさ、についても同様です。

しかし、あいまいはその美しさについての話だけではなく、日本と西欧国の東西関係があります。アジアは東洋、西欧はオクシデント。日本は東洋なのに、他のアジアのくにを殖民したことがあります。それでも、オクシデントの国と凄惨な戦争をしました。あのころ、たくさん人々が戦争の残酷さのせいで亡くなりました。それは小江健三郎の戦争がやめてほしいのひとつの理由です。

大江健三郎の態度と日本文化の見解を知らせる曖昧さやアンビバレンス感は明らかにそれが伝えられるところでは前に第二次世界大戦中に日本をリードしてきました気まぐれ収差に関連します。 小江健三郎の場合は、この曖昧な向きは、侵略者になるために日本を押されいました。それはしていないとき時代に、それは逆に、他のアジア諸国からの国の隔離を担当してきました。

小江は、現実逃避として人生のさまざまな苦難を生き延びたかにさらにコメントに進んで、作品を書いていました。日本の内部政策と社会的政権の大江健三郎の批判は、日本が世界各地で平和の維持と回復のためにすべての集団安全保障の行動に従事控えなければならないことです。それから、小説の形で苦しみを表す小江健三郎は日本は憲法の核心に不戦の誓いの必要があります。


以上

Kemurtadan Pastur dalam Novel Chinmoku dan Saichou sebagai
Refleksi Moralitas dan Solidaritas Terhadap yang Tertindas
Sebuah tinjauan intertekstual terhadap dua karya Endo Shusaku
Rizki H. Valentine
Pascasarjana Kajian Wilayah Jepang
Universitas Indonesia


Shusaku Endo (Hidup dan Karyanya)
Shusaku Endo lahir di Tokyo, Jepang pada tanggal 27 maret 1923. Ketika masih kecil, Endo dibawa oleh keluarganya pindah ke Manchuria yang saat itu diduduki oleh Jepang. Pada tahun 1933 saat usianya mencapai sepuluh tahun, orang tuanya bercerai dan Endo dibawa oleh ibunya kembali ke Kobe, kampung halaman ibunya. Saat Endo masih kecil, ibunya telah memeluk ajaran katolik dan menanamkan ajaran katolik tersebut kepada Endo. Endo dibaptis pada tahun 1935 saat umurnya sebelas tahun dan mendapatkan nama baptis, Paulus.
Endo menerima gelar BA dalam sastra Perancis dari Universitas Keio Tokyo pada tahun 1949, dan tahun 1950-1953 Endo belajar fiksi Katolik di University of Lyons, Perancis. Pada tahun 1955 ia menikahi Junko Okada, dan memperoleh seorang anak laki-laki.
Pada tahun1959, Endo mengalami penyakit tuberkulosis. Pada saat dia ada di Perancis untuk mempelajari karya-karya Marquis de Sade, dia masuk rumah sakit selama dua setengah tahun dan mengalami tiga kali operasi yang membuatnya hidup dengan satu paru-paru saja. Setelah kejadian ini, karya fiksi Endo banyak bercerita tentang moral kehidupan dalam beragama serta penyakit. Endo wafat disaat usianya tujuh puluh tiga tahun, yaitu pada tanggal 29 September 1996 di Tokyo.
Karya-karya Endo Shusaku yang menceritakan kehidupan beragama, dan pengorbanan dalam beragama dan moralitas diantaranya adalah cerpen Saicho dan novel Chinmoku. Kedua karya ini memiliki beberapa kemiripan dan keterkaitan terutama dalam hal pengorbanan dan kematian sebagai seorang martir. Kemudian terdapat tokoh yang hampir sama persis muncul dalam kedua karya yaitu tokoh pastur. Pada cerpen Saichou, terdapat seekor burung Saichou yang konon merupakan burung yang pernah dipelihara oleh seorang pastur asal portugis yang bekerja di Jepang dan dipaksa meninggalkan agamanya. Tokoh pastur yang disebut itu hampir sama persis dengan tokoh Rodrigues yang datang ke Jepang dan dipaksa meninggalkan agama Katoliknya. Oleh karena itu, penulis akan membahas keterkaitan dan intertekstualitas pada kedua karya tersebut. Unsur yang akan dijadikan media pembanding antara lain adalah tokoh, dan isi cerita karena Edo membuat banyak analogi dalam cerita. Kemudian, penulis juga akan mengaitkan kedua karya ini dengan unsur ekstrinsik yang melatar belakangi kehidupan Endo Shusaku sebagai seorang pengarang.

Saicho (1975)
Tokoh utama dala cerpen ini adalah seorang laki-laki yang tdak disebut namanya dan hanya disebut dengan Otoko. Dia adalah tokoh protagomis yang melankolis, kesepian, dan penyayang. Hal itu ditunjukkan dengan sikapnya yang menyayangi binatang dan terjebak dalam ingatan masa lalu akan anjing kesayangannya yang telah mati.
Cerpen Saichou menceritakan tentang seorang novelis (Otoko), yang semenjak kecil hingga usianya yang sekarang sangat menyukai binatang. Otoko tidak hanya menyukai binatang tetapi juga merasa dapat berbicara dengan binatang. Tetapi Otoko tidak begitu saja dapat memelihara binatang yang diinginkannya, karena istrinya tidak suka ada binatang di dalam rumah mereka. Akhirnya sebagai ganti dari keinginan akan memelihara binatang peliharaan, Otoko sering membaca artikel yang berkaitan dengan binatang dan sering masuk ke dalam toko yang menjual binatang peliharaan untuk sekedar melihat-lihat. Otoko dengan pemilik toko binatang peliharaan itu menjadi akrab karena Otoko sering berkunjung ke toko tersebut.
Otoko tidak pernah memelihara binatang peliharaan sama sekali sejak kehilangan anjingnya yang sangat dia sayangi. Waktu Otoko duduk di sekolah dasar, Otoko memelihara seekor anjing Manchuria, yang seolah bisa mengerti perasaan Otoko yang sedang bersedih. Kemudian di saat penyakit TBC yang diderita Otoko kambuh dan Otoko harus dirawat di rumah sakit selama dua setengah tahun, Otoko meminta istrinya membelikan kyuukanchou atau burung beo. Burung beo ini menjadi teman Otoko, tempat untuk mencurahkan perasaannya terutama ketika merasa sedih dan merasa tidak yakin penyakitnya akan sembuh atau operasi yang akan dijalaninya berhasil. Namun, lagi-lagi Otoko mengalami hal yang menyedihkan dengan peliharaannya ini karena burung beo itu mati pada malam Otoko menjalani operasi paru-paru.
Otoko tidak berniat untuk memelihara binatang hingga akhirnya Otoko penasaran dengan sejenis burung yang disebut dengan saichou. Otoko yang merupakan seorang penulis, pernah menulis mengenai burung Saichou sebagai hewan peliharaan seorang Pastur dari Portugal yang terpaksa murtad dari agamanya dan tinggal di Jepang sebagai penerjemah hingga akhir hayat. Otoko meminta kepada temannya yang mempunyai toko binatang peliharaan untuk mencarikan saichou untuknya dan Otoko akhirnya dapat melihat secara langsung seperti apa burung saichou tersebut.  
Seperti Otoko yang terkurung di rumah sakit karena penyakit TBC yang dideritanya, Pastur juga terjebak di negara Jepang dan dipaksa berpaling dari agamanya. Kedua burung ini dapat menjadi metafora pemiliknya seperti kyuukanchou yang merupakan penjelmaan dari Otoko berupa suaranya yang ditiru oleh kyuukanchou dan saichou yang merupakan penjelmaan dari Pastur berupa ekspresinya yang ditiru oleh saichou.
Sebenarnya, kita juga bisa menginterpretasikan bahwa kebaikan pastur dalam novel yang Otoko tulis tercermin kembali pada kyuukanchou yang mati pada saat Otoko menjalani operasi paru-paru yang menegangkan. Hal itu seolah-olah kyuukanchou itu memang mati untuk menggantikan Otoko agar tetap hidup.

Chinmoku (1966)
Chinmoku menceritakan seorang Pastor Jesuit muda bernama Sebastian Rodrigues dikirim dari tanah Portugis ke negeri Jepang dengan sebuah misi. Pada saat itu ada kabar bahwa Frater Cristovao Ferreira, seorang misionaris ternama, telah murtad. Bukan hanya itu, Frater Ferreira juga telah menikah dengan seorang perempuan Jepang lalu menulis tulisan yang mengkritik ajaran Kristen dan bahkan memiliki nama baru sebagai orang Jepang yaitu Sawano Chuan. Karena itu, Rodrigues pergi untuk menyelidiki Ferreira dan memberi dukungan spiritual bagi umat Katolik yang pada waktu itu harus beribadah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari tekanan pemerintahan Edo terutama setelah adanya pemberontakan Shimabara. Gerakan pemberontakan Shimabara merupakan pemberontakan keagamaan kaum Katolik melawan pemerintah Shogun. Katolik juga dianggap sebagai ajaran yang berpihak pada orang miskin dan mengajarkan persamaan derajat. Oleh karena itu banyak rakyat miskin yang menganut agama Katolik.
Karakter tokoh Rodrigues adalah sebagai seseorang dengan tekad dan pendirian yang kuat namun berhati penuh kasih. Sedangkan Sosok Ferreira digambarkan sebagai sosok pastor yang memiliki kelembutan hati, senyum yang ramah, dan kepribadian yang lembut. Ia menghabiskan waktunya di Jepang untuk melakukan misi mulia penyebaran agama Kristen di Jepang.
Setelah Rodrigues masuk ke Jepang, dan membela kaum Katolik dia tertangkap oleh pemerintah. Rodrigues diminta untuk meninggalkan agamanya tapi dia tidak mau. Awalnya dia sudah siap untuk disiksa, akan tetapi justru para rakyat miskin yang menganut agama Katolik lah yang disiksa di depan matanya. Rodrigues tidak bisa menghentikan penyiksaan itu kecuali jika dia mau meninggalkan Katolik.
Dilemma yang dialami oleh Rodrigues diredam oleh Ferreira yang berkata bahwa ia dulu juga tidak tahan melihat penderitaan kaum Katolik yang lain sehingga dia memilih untuk murtad.
Rodrigues akhirnya menginjak fumie/gambar Yesus dan secara resmi murtad. Tetapi, bagi Endo, aksi murtad Rodrigues itu justru merupakan manifestasi peribadatan yang sesungguhnya. Murtadnya Rodrigues merupakan representasi keimanan yang sangat dalam karena ia telah berpihak dan menunjukkan solidaritas kepada mereka yang lemah dan tertindas.
Keimanan dan nilai-nilai keimananan rupa-rupanya dapat menjadi sumber politik pembebasan, emansipasi dan solidaritas, jika dan hanya jika, nilai-nilai tersebut berhasil keluar dari ortodoksi dogma dan doktrin dan diterjemahkan dalam praksis perlawanan. Bagi sebagian orang, ide ini terdengar revolusioner. Namun, bagi sebagian yang lain, ini hanyalah pembenaran bagi aksi kemurtadan.

Intertekstualitas
Intertekstualitas merupakan adalah pemahaman dan pemaknaan terhadap suatu teks berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan dan pengalaman dalam membaca teks lain sebelumnya. Julia Kristeva menyebutkan dalam bukunya bahwa teks merupakanmutasi dari teks-teks lain. Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan punsebuah karya ditulis, dia tidak mungkin lahir begitu saja tanpa referensi dari sumber lain. Selalu ada pengaruh dari luar teks (seperti pengetahuan budaya, sejarah, filsafat, dll) yang akhirnya membantu pembaca teks untuk memahami teks secara penuh.
Dalam sastra, intertekstualitas memiliki dua fokus kajian, yaitu: (1) teks teks yang terdahulu, (2) tingkat pemahaman suatu teks dan makna yang ditentukan oleh teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Karya sastra ditulis bisa saja dengan mencontoh karya lain, atau terpengaruh oleh karya yang sudah pernah ada. Tidak hanya meniru, karya sastra juga mengembangkan konvensi yang sudah ada. Bisa juga karya sastra berangkat dari ide dari karya lain atau kutipan dari teks lain kemudian dikembangkan menjadi karya yang baru.
          Teks yang dikutip atau dijadikan ide untuk sebuah karya lain disebut dengan hipogram (karya yang muncul lebih dahulu). Dalam hal ini, Chinmoku merupakan hipogram dari cerpen Saichou sebab sudah jelas novel Chinmoku terlebih sebelum cerpen Saichou ditulis.
        Endo Shusaku memasukkan kembali unsur dari Chinmoku dalam cerpen Saichou, yaitu tokoh pastur yang sama. Tidak hanya perannya sebagai pastur, pastur dalam novel Chinmoku dan cerpen Saichou merupakan pastur yang berasal dari Portugis, masuk ke Jepang, dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya dan dipaksa untuk memeluk agama orang Jepang, lalu pada akhirnya pastur benar benar murtad untuk menghentikan penyiksaan terhadap umat Katolik lain.
          Dari sinopsis kedua karya di atas, bisa ditelaah karakter para tokoh, khususnya pastur Rodrigues dan tokoh pastur yang ditulis oleh Otoko. Terkesan seolah-olah pastur Rodrigues dihadirkan kembali dalam cerpen Saicho dengan karakter dan sifat yang sama. Kesamaan latar belakang pastur Rodrigues dan pastur dalam novel yang pernah ditulis oleh Otoko dapat dilihat dalam subbab selanjutnya.

Perbandingan Tokoh Pastur Pemilik Saichou dan Pastur Rodrigues
Kedua karya Endo Shusaku tersebut memiliki tema yang hampir sama, yaitu pengorbanan yang berhubungan dengan agama dan ketuhanan. Pada novel Chinmoku, pengorbanan besar ditunjukkan oleh tokoh Rodrigues yang rela dipaksa murtad agar umat Katolik lainnya tidak terus disiksa. Sedangkan pada cerpen Saichou, yang berkorban adalah seorang pastur yang juga dipaksa murtad.
背教司祭もこの鳥と同じように生涯、故郷のポルトガルに戻ることを許されず、奉行所の監視をうけながら一生、日本の長崎に住まわされた。檀那寺も持たされ、仏像も拝まされ、ある死刑囚の日本名を無理矢理与えられ、日本人に気化させられたのである。彼には慰めてくれる友もなければ、心をうちあけられる肉親もなかった。この道化師のような一羽の鳥だけがおそらく残された話し相手だったのだ。(Haha naru mono, Saichou, 1975)
Pastur yang murtad itu menjadi penerjemah di Jepang setelah disuruh ikut bergabung dengan kelompok-kelompok kuil, disuruh menyembah patung Budha, dipaksa menerima nama orang Jepang yang telah dihukum gantung, dan kewarganegaraannya diganti dengan kewarganegaraan Jepang.
その背教司祭が一人になった時、どんな思いにかられ、どんな風に泪なみだをながしたか記録には残ってはおらぬ。ただ出島にいるオランダ人の一人がその書簡の一節に何気なく「彼は犀鳥という鳥を飼って住んでいます」と書いているのを男は強く記憶に残していた。(Haha naru mono, Saichou, 1975)
Pastur senasib dengan saichou yaitu sama-sama berasal dari luar Jepang. Pastur berasal dari Portugal sedangkan saichou adalah sejenis burung yang hidup di hutan Afrika dan di hutan tropis benua Asia. Keduanya sama-sama tidak diizinkan pulang ke kampung halamannya untuk selama-lamanya, diberi nama Jepang, dan dipaksa untuk tinggal di Jepang hingga akhirnya meninggal dan dikuburkan di Jepang
この踏絵に唾をかけ、聖母は男たちに身を任してきた印倍だと言ってみようと命ぜられました。これは、やがてあとになって分かったのですが、ヴァリグナノしがさいも危険な順物と言われた井上が発明した方法でした。(Chinmoku, 1966)
Di pihak Rodrigues, pada masa itu disebutkan bahwa pemeluk agama Katolik ada yang bersikukuh tidak mau murtad pada saat pemerintah memaksa mereka meludahi gambar Yesus dan menyebut Maria sebagai pelacur.
Pada novel Chinmoku, pemerintah Jepang akan mencabut akar-akar agama Kristen dan membiarkan tanaman itu layu seiring berjalannya waktu. Akar-akar agama Kristen adalah para misionaris yang dipaksa murtad dan hidup di Jepang. Dengan demikian sisa-sisa kekristennan akan lenyap dengan sendirinya tanpa harus membunuh dan menginterogasi mereka satu-persatu.
Pengalaman hidup pastur Rodrigues dan pengalaman hidup pastur pemelihara burung Saichou yang pernah ditulis Otoko, nyaris sama persis. Intertekstual tidak hanya berhenti sampai pada pengaruh kutipan antar teks sastra saja. Akan tetapi juga pada latar belakang pengarang sendiri yaitu Endo Shusaku.
Jika dilihat kembali biografi Endo Shusaku, kita akan menyadari bahwa Otoko dalam novel Saicho memiliki kesamaan dengan Endo, yaitu sama-sama mempunyai penyakit paru-paru, sama-sama mengalami operasi, sama-sama menulis novel dan sebagai penulis novel, Endo dan Otoko pernah menulis novel dengan tema yang sama yaitu pengorbanan seorang Pastur dengan menjadi murtad. Dengan begitu tidak heran bila cerpen Saichou diasumsikan sebagai cerminan hidup seorang Endo Shusaku sendiri sebagai penulis Katolik yang mengidap penyakit paru-paru.

  
Daftar Referensi
Endo, Shusaku. 1996. Chinmoku. Tokyo: Shinchosa.
Endo, Shusaku. 2008. Silence. Alih bahasa oleh Tanti Lesmana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS.
Jansen, Marius B. 2000. The Making of Modern Japan. United States of America: Lobrary of Congress Cataloging-in-Publication Data.
Jhonson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.
Kazumi, Yamagata, 1994. Nihon Bungaku No Keiso. Tokyo: Sairyusha.
Knitter, Paul F. 2005. Menggugat Arogansi KeKristenan. Yogyakarta: Kanisius.
 Noviani, Ratna. 2002. “Max Weber Tentang Hegemoni Sistem Kepercayaan” diterj. Dari Ralph Schroeder, Max Weber and The Sociology Of Cultures, Sage Publications, London-Thousands Oaks-New Delhi 1992. Yogyakarta : Kanisius.
Nurgyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.